Category: MATA KULIAH SEMESTER 3


ILMU TANAH


ILMU TANAH

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING

Ir.ajidirman, MP

 

 

DISUSUN OLEH

YOGA RANANDA

D1D011118

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

PENGERTIAN TANAH

Menurut Ensiklopedi Indonesia

Tanah adalah campuran bagian – bagian batuan dengan material serta bahan organik yang merupakan sisa kehidupan yang timbul pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.

Menurut Pendekatan Ahli Geologi

Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus.

Menurut Hanafiah

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, dan Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

Menurut Darmawijaya (1990)

Tanah sebagai akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagain besar permukaan palnet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.

Menurut Soil Survey Staff  (1999)

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alam.

Menurut Schoeder (1972)

Tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman.

Menurut Jooffe dan Marbut (1949), dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat

Tanah adalah tubuh alam yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat-sifatnya dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat-sifat fisik maupun kehidupan biologinya.

Tanah adalah tubuh alamiah yang terdiri dari lapisan (horison tanah) dari unsur mineral ketebalan variabel, yang berbeda dari bahan induk dalam morfologi, fisik, kimia, dan karakteristik mineralogi.

Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari batuan induknya karena interaksi antara, hidrosfer atmosfer litosfer, dan biosfer . Ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organik yang dalam keadaan padat, gas dan air.

Partikel tanah pak longgar, membentuk struktur tanah yang penuh dengan ruang pori. Pori-pori mengandung larutan tanah (cair) dan udara (gas). Oleh karena itu, tanah sering diperlakukan sebagai sistem negara tiga.Tanah Kebanyakan memiliki kepadatan antara 1 dan 2 g / cm ³ .Tanah adalah. juga dikenal sebagai bumi itu adalah substansi dari planet kita yang mengambil namanya. Little komposisi tanah planet bumi adalah lebih tua dari Tersier dan paling tidak lebih tua dari Pleistosen . Dalam rekayasa, tanah disebut sebagai regolith, atau bahan batuan lepas. Tanah pembentukan faktor

Pembentukan tanah, atau pedogenesis, adalah efek gabungan proses fisik, kimia, biologi, dan antropogenik pada bahan induk tanah. Tanah genesis melibatkan proses yang mengembangkan lapisan atau horizon dalam profil tanah. Proses ini melibatkan penambahan, kerugian, transformasi dan translokasi bahan yang membentuk tanah. Mineral berasal dari batuan lapuk mengalami perubahan yang menyebabkan pembentukan mineral sekunder dan senyawa lainnya yang variabel larut dalam air, konstituen tersebut dipindahkan (translokasi) dari satu bagian tanah ke daerah lain dengan air dan aktivitas hewan. Perubahan dan pergerakan material di dalam tanah menyebabkan terbentuknya horison tanah yang khas.

Pelapukan batuan dasar yang menghasilkan bahan induk dari yang berbentuk tanah. Contoh pengembangan tanah dari batuan yang telanjang terjadi pada aliran lava baru-baru ini di wilayah hangat di bawah hujan lebat dan sangat sering. Dalam iklim seperti itu, tanaman menjadi sangat cepat didirikan pada lava basaltik, meskipun ada bahan organik sangat sedikit. Tanaman didukung oleh batuan berpori seperti diisi dengan air nutrisi-bantalan yang membawa, misalnya, mineral terlarut dan guano. Akar tanaman berkembang, sendiri atau berhubungan dengan jamur mikoriza,secara bertahap memecah lava berpori dan bahan organik terakumulasi segera.

Tapi bahkan sebelum itu terjadi, lava rusak terutama berpori di mana akar tanaman tumbuh dapat dianggap suatu tanah. Bagaimana tanah “kehidupan” hasil siklus dipengaruhi oleh sedikitnya lima tanah klasik membentuk faktor yang saling terkait secara dinamis dalam membentuk tanah dengan cara dikembangkan, mereka termasuk: bahan induk, iklim regional, topografi, potensi biotik dan berlalunya

Bahan dari yang membentuk tanah disebut bahan induk. Ini mencakup: lapuk batuan dasar primer; bahan sekunder diangkut dari lokasi lain, misalnya colluvium dan aluvium; deposito yang sudah ada tapi campuran atau diubah dengan cara lain – formasi tanah tua, bahan organik termasuk gambut atau humus alpine;. dan bahan antropogenik, seperti timbunan sampah atau tambang. Beberapa bentuk tanah langsung dari pemecahan bebatuan yang mendasarinya mereka kembangkan di. Tanah ini sering disebut “tanah residu”, dan memiliki kimia umum yang sama seperti batu orang tua mereka. Kebanyakan tanah berasal dari bahan-bahan yang telah diangkut dari lokasi lain oleh angin, air dan gravitasi . Beberapa dari ini mungkin. telah pindah banyak mil atau hanya beberapa meter. bahan tertiup angin disebut loess adalah umum di Midwest Amerika Utara dan di Asia Tengah dan lokasi lainnya. Glasial sampai adalah komponen tanah banyak di lintang utara dan selatan dan mereka yang terbentuk di dekat pegunungan besar; sampai adalah produk es glasial bergerak di atas tanah. Es dapat mematahkan batu dan batu besar menjadi potongan kecil, juga dapat menyusun bahan ke dalam ukuran yang berbeda. Seperti es glasial mencair, meleleh air juga bergerak dan bahan macam, dan deposito itu bervariasi jarak dari asal-usulnya. Bagian lebih dalam dari profil tanah dapat memiliki bahan yang relatif tidak berubah dari ketika mereka disimpan oleh air, es atau angin,

Pelapukan adalah tahap pertama dalam mengubah bahan induk menjadi bahan tanah. Pada tanah membentuk dari batuan dasar, lapisan tebal bahan lapuk disebut saprolit bisa terbentuk. Saprolit adalah hasil proses pelapukan yang meliputi: hidrolisis (penggantian kation mineral dengan ion hidrogen), khelasi dari senyawa organik, hidrasi (penyerapan air dengan mineral), solusi mineral dengan air, dan proses fisik yang mencakup pembekuan dan pencairan atau pembasahan dan pengeringan . Komposisi mineralogi dan kimia dari bahan batuan dasar utama, ditambah fitur-fitur fisik, termasuk ukuran butir dan derajat konsolidasi, ditambah tarif dan jenis pelapukan,. berubah menjadi bahan-bahan tanah yang berbeda.

BATU-BATUAN DAN MINERAL TANAH

 

BATU-BATUAN

Batuan adalah material alam  yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun utama kerak bumi serta terbentuk sebagai hasil proses alam. Batuan bisa mengandung satu atau beberapa mineral.

Jenis batuan dapat dibedakan menjadi 3 macam :

A.    Batuan Beku (Igneous Rocks)

Batuan Beku adalah jenis batuan yang merupakan hasil pembekuan magma dimana mineral penyusunnya terdiri dari kristal, apabila pembekuannya berjalan secara perlahan maka kristal yang terbentuk akan berukuran bersar, namun sebaliknya apabila proses pembekuanya sangat cepat maka tidak berbentuk kristal melainkan berbentuk gelas (kaca). Demikan pula dengan posisi pembekuan akan berpengaruh pada ukuran kristal. Batuan beku terdiri dari 3 macam, yaitu :

a. Batuan Beku Dalam = batuan Plutonik, batuan yang membeku jauh di bawah   permukaan bumi. Contoh : Granit.

b. Batuan beku korok/gang = batuan intrusif/hipabisal, batuan yang membeku  sebelum sampai ke permukaan bumi. Contoh : granit, pofir.

c. Batuan beku luar/lelehan = batuan ekstrusif/efusit, batuan yang membeku di permukaan bumi. Contoh : batuan vulkanis.

Berdasarkan komposisi mineral dan ukuran kristalnya batuan beku diklasifikasi menjadi 3 meliputi:

a.  Batuan beku asam contoh granit dan riolit.

b.  Batuan beku basa contok gabro dan basal,

c.  Batuan beku peralihan contoh diorit dan andesit.

 

B. Batuan Endapan (Sedimentary Rock)

Batuan endapan adalah batuan yang berbentuk dari proses pengendapan bahan lepas (fragmen) hasil perombakan/pelapukan batuan lain yang terangkat dari tempat asalnya oleh air,es atau anginan yang kemudian mengalami proses diagenesia/pembatuan (pemadatan/perkatan). Macam – macam batuan endapan antara lain :

1.  Batuan Sediment Klasik

batuan sediment klasik merupakan hasil rombakan batuan yang telah ada sebelumnya dimana material rombakan itu tertransport dan kemudian diendapankan pada suatu cekungan menjadi batuan sediment. Contoh: batu lempung, lanau, breksi, konglomerat

2.  Batuan Sediment Kimia

terjadi karena adanya proses kimia disuatu lingkungan tertentu yang akhirnya menghasilkan

endapan batuan. Contoh: gipsum. Trevertin.

3.   Batuan Sedimen Organik

Terjadi karena adanya organisme yang berkumpul pada lingkungan tertentu.

Contoh: batu gamping terumbu karang(koral), diatomea.

4.  Batuan Sedimen Piroklastik

Batuan endapan hasil erupsi gunung berapi berupa abu/debu. Contoh: tufa.

C.    Batuan Malihan (Metamorphic Rocks)

Batuan malihan adalah batuan yang berasal dari batuan yang sudah ada sebelumnya yang kemudian terkena pengarah tekanan atau temperature yang tinggi sehingga terjadi perubahan mineral. Contoh: manner, kuarsit, batu tanduk, dan batu sabak.

Macam-macam batuan malihan (Metamorphic Rocks) adalah:

  1. Batuan metamorfkontak/sentuh/termal yaitu batuan malihan akibat bersinggungan   dengan magma. Contoh: marmer, kuarsit, batu tanduk
  2. Batuan metamorftekan/dynamo/kataklastik yaitu batuan malihan akibat tekanan yang sangat tinggi. Contoh: batu sabak,sekis, filit
  3. Batuan metamorf regional/dynamo –termal yaitu batuan malihan akibat pengarah tekanan yang sangat tinggi. Contoh genes, amfibalit, granit.

Mineral sudah dimanfaatkan oleh manusia sejak zaman purba sampai zaman modern saat ini. Sebagai contoh manusia purba telah menggunakan batuan untuk membuat api, dipakai sebagai alat/senjata untuk melumpuhkan hewan buruan dan menggunakan mineral “oker” untuk melukis di dinding-diding gua. Pada zaman kerajaan di Indonesia banyak di bangun candi, stupa dan patung dari batuan sedangkan mahkota para raja dan ratu dibuat dari emas dengan hiasan permata yangf berasal dari mineral.

Pemanfaatan batuan dan mineral meningkat dizaman modern sekarang ini, seiring dengan kemajuan teknologi eksplorasi dan eksploitasi. Pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari meliputi berbagai aspek mulai dari industri peralatan rumah tangga, perhiasan, pemukiman, infrastruktur, telekomunikasi, computer, sains, dan teknologi, pesawat terbang, hingga satelit.

Seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari baik tradisional maupun modern, manusia sangat bergantung pada batuan dan mineral. Dalam kehidupan tradisional manusia telah menggunakan batuan untuk menumbuk dan menghaluskan bahan makanan, menggunakan sabit untuk bercocok tanam, kapak untuk memotong kayu setrika untuk merapikan baju dan manik-manik untuk perhiasan. Sabit, kapak maupun setrika bahan dasarnya dari mineral “besi” sedangkan manik-manik berasal dari “batu mulia.”

Sedangkan dalam kehidupan modern berbagai komponen peralatan bahan dasarnya sebagian besar juga berasal dari batuan /mineral seperti komponen pesawat terbang, mobil, computer/laptop, telepon genggam, kamera, perhiasan dan lam-lain. Sebagai contoh: badan pesawat terbang terbuat dari alumuinium yang berasal dari mineral bauksit, lensa kamera berasal dari mineral kuarsa dan lam sebagainya. Contoh manfaat mineral dalam kehidupan sehari-hari:

a. dalam perlengkapan dapur

  • Firing, gelas, cangkir, kaca lemari berasal dari mineral kuarsa
  • Panci, rantang, ketel, penggorengan berasal dari mineral bauksit
  • sendok, garbu, pisau, peralatan masak berasal dari mineral besi/baja

b. dalam bangunan rumah

  • pondisi rumah menggunakan batuan beku (andersit)
  • kerangka beton berasal dari miineral besi
  • bata dan genting terbuat dari tanah aterit/lempung
  • atap atau plafon rumah terbuat dari asbes atau giesum
  • lantai rumah menggunakan batu granit atau manner
  • cat rumah berasal dari mineral okor
  • semen campuran batu gamping, lempung, pasir kuarsa, pasir besi, dan gipsum.
  • keramik dan kaca bahan pembuatannya memerlukan pasir kuarsa
  • grendel, selot, dan engsel pintu/jendela besasal dari kuningan atau tembaga.

 

MINERAL

Mineral adalah Bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu dalam bentuk geometrik.

MINERALOGI BAHAN INDUK

  1. Mineral Primer: Mineral penyusun batuan dg ukuran debu/pasir (0,002 – 1,00 mm). Misal: feldspar, amfibol, piroksin, kuarsa dll.,
  2. Mineral Sekunder: Hasil pelapukan Mineral primer secara fisik, kimia & biologi membentuk koloid dg ukuran < 0,002 mm & bersifat aktif. Misal: lempung kaolinit, montmorilonit, illit, mika & limonit,
  3. Mineral Asesoria: Mineral yg tahan pelapukan & bergabung dg kuarsa atau campuran bermacam mineral. Ex. apatit, magnetit, zircon & pirit.
  • Golongan Mineral bukan Silikat: Oksida-oksida, hidroksida-hidroksida, sulfat, klorida, karbonat dan fosfat dengan struktur yang sederhana
  • Golongan Mineral Silikat: Mempunyai struktur yg komplek dg satuan utamanya (A) “silica-oksigen tetrahedron” 1 ion Si dikelilingi oleh 4 ion oksigen. Yang penting dalam struktur tetrahedron ini adalah penggantian ion Si oleh Al yang disebut “pergantian isomorfik” yg menyebabkan ketidakseimbangan muatan listrik yg akan mengikat Na, K, Mg & Fe. Satuan lain (B) adalah “alumunium hidrolsil octahedron” yg tersusun 1 ion A; dikelilingi oleh grup hidroksil (OH)

KOMPOSISI MINERALOGI TANAH

Mineral Tanah

Bahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.

Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:

  1. susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama berkaitan dengan penempatan internal atom-atomnya,
  2. sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan
  3. kecendrungan membentuk geometris tertentu.

Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:

  1. jenis batuan induk asalnya,
  2. proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan
  3. tingkat perkembangan tanah.

Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah sebagai berikut:

  1. Mineral kuarsa,
  2. Mineral ortoklas,
  3. Mineral mikroklin,
  4. Mineral albit
  5. Mineral oligoklas,
  6. Mineral muskovit,
  7. Mineral biotit.
  8. Mineral dll.

Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian (leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan. Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang hampir seragam.

Berdasarkan keberadaan silikat dalam mineral tanah, maka mineral dalam tanah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:

  1. kelompok mineral silikat, dan
  2. kelompok mineral bukan silikat.

A.        Kelompok Mineral Silikat:

Kelompok mineral silikat dibagi lagi menjadi 11 kelompok, yaitu:

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mineral Liat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mineral liat adalah:

(1.1) Mineral Liat Kaolinit {Si4Al4O10(OH)4}

(1.2) Mineral Liat Vermikulit {AlMg5(OH)12(Al2Si6)}

(1.3) Mineral Liat Klorit {AlMg5O20(OH)4}

(1.4) Mineral Liat Montmorillonit

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mika:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mika adalah:

(2.1) Mineral Muskovit {K2Al2Si6Al4O20(OH)4}

(2.2) Mineral Biotit {K2Al2Si6(Fe++,Mg)6.O20(OH)4}

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Serpentin:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok serpentin adalah:

(3.1) Mineral Serpentin {Mg3Si2O5(OH)4}

  1. Struktur Kristal Silikat Kerangka Feldsfar:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kerangka feldsfar adalah:

(4.1) Mineral Alkali Feldsfar {(Na,K)2O.Al2O3.6SiO2}

(4.2) Mineral Plagioklas (Na2O.Al2O3.6SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Piroksin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok piroksin adalah:

(5.1) Mineral Enstatit (MgO.SiO2)

(5.2) Mineral Hipersten {(Mg,Fe)O.SiO2}

(5.3) Mineral Diopsit (CaO.MgO.2SiO2)

(5.4) Mineral Augit {CaO.2(Mg,Fe)O.(Al,Fe)2O3.3SiO2}

  1. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Amfibol:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok amfibol adalah:

(6.1) Mineral Hornblende {Ca3Na2(Mg,Fe)8(Al.Fe)4.Si14O44(OH)4}

(6.2) Mineral Termolit {2CaO.5(Mg,Fe)O.8SiO2.H2O}

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Olivin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok olivin adalah:

(7.1) Mineral Olivin {2(Mg,Fe)O.SiO2}

(7.2) Mineral Titanit (CaO.SiO2.TiO2)

(7.3) Mineral Tormalin (Na2O.8FeO.8Al2O3.4B2O3.16SiO2.5H2O)

(7.4) Mineral Sirkon (ZrO2.SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Garnet:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok garnet adalah:

(8.1) Mineral Almandit (Fe3Al2Si3O12)

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Epidol:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok epidol adalah:

(9.1) Mineral Soisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)

(9.2) Mineral Klinosoisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)

(9.3) Mineral Epidot (4CaO.3(Al,Fe)2º3.6SiO2.H2O)

  1. Struktur Kristal Silikat Orto dan Cincin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat orto dan cincin adalah:

(10.1) Mineral Klanit (Al2O3.SiO2)

(10.2) Mineral Silimanit (Al2O3.SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat adalah:

(11.1) Mineral Andalusit (Al2O3.SiO2)

B. Kelompok Mineral Bukan Silikat:

Kelompok mineral bukan silikat dibagi lagi menjadi 6 kelompok, yaitu: (1) mineral fosfat, (2) mineral karbonat, (3) mineral klorit, (4) mineral sulfat, (5) mineral hidroksida, dan (6) mineral oksida. Contoh mineral tanah yang termasuk keenam kelompok mineral bukan silikat ini disajikan sebagai berikut:

1.Mineral Fosfat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral fosfat adalah:

(1.1) Mineral Apatit {Ca4(CaF)(PO4)3} atau {Ca4(CaCl)(PO4)3}

2.Mineral Karbonat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral karbonat adalah:

(2.1) Mineral Kalsit (CaCO3)

(2.2) Mineral Dolomit {(Ca, Mg)CO3}

3.Mineral Klorit:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral klorit adalah:

(3.1) Mineral Halit (NaCl)

4.Mineral Sulfat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral sulfat adalah:

(4.1) Mineral Gipsum (CaSO4.2H2O)

(4.2) Mineral Jarosit {KFe3(OH)6(SO4)2}

5.Mineral Hidroksida:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral hidoksida adalah:

(5.1) Mineral Gibsit {Al(OH)3}

(5.2) Mineral Buhmit {Gamma – Al.O(OH)}

(5.3) Mineral Gutit {Alfa – FeO.OH}

(5.4) Mineral Lepidokrosit {Gamma – FeO.OH}

6.Mineral Oksida:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral oksida adalah:

(6.1) Mineral Hematit (Fe2O3)

(6.2) Mineral Ilmenit (FeO.TiO2)

(6.3) Mineral Rutil (TiO2)

(6.4) Mineral Anatase (TiO2)

(6.5) Mineral Brokit (TiO2)

(6.6) Mineral Magnetik (Fe3O4)

ASAL-USUL,STRUKTUR DAN SIFAT-SIFAT MINERALOGI TANAH

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan  penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:

1.         Kilap (luster)

2.         Warna (colour)

3.         Kekerasan (hardness)

4.         Cerat (streak)

5.         Belahan (cleavage)

6.         Pecahan (fracture)

7.         Bentuk (form)

8.         Berat Jenis (specific gravity)

9.         Sifat Dalam

10.       Kemagnetan

11.       Kelistrikan

12.       Daya Lebur Mineral

  • Kilap

Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006)

Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi  jenis:

a.    Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:

•           Gelena

•           Pirit

•           Magnetit

•           Kalkopirit

•           Grafit

•           Hematit

b.    Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:

•           Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.

•           Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.

•           Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera

•           Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.

•           Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal

•           Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

  • Warna

Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas,

 

PROSES PEMBENTUKAN TANAH

Kebanyakan tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral (kuarsa, feldspar, mika, hornblende, kalsit, dan gipsum), meskipun ada yang berasal dari tumbuhan. Ada beberapa tahap dalam pembentkan tanah yaitu sebagai berikut;

Tahap I

Pada tahap ini permukaan batuan yang tersingkap di permukaan akan berinteraksi secara langsung dengan atmosfer dan hidrosfer. Keadaan ini akan menyebabkan permukan batuan ada pada kondisi yang tidak stabil. Pada keadaan ini lingkungan memberikan pengaruh berupa perubahan-perubahan kodisi fisik seperti pendinginan, pelepasan tekanan, pengembangan akibat panas (pemuaian), kontraksi (biasanmya akibat pembekuan air pada pori-pori batuan membentuk es), dan lain sebagainya, menyebabkan terjadinya pelapukan secara fisik (disintegrasi). Pelapukan fisik ini membentuk rekahan-rekahan pada permukaan batuan (Cracking) yang lama kelamaan menyebabkan permukaan batuan  terpecah-pecah membentuk material lepas yang lebih kecil dan lebih halus.

selain itu, akibat berinteraksinya permukan batuan dengan lapisan atmosfer dan hidrosfer juga akan memicu terjadinya pelapukan  kimiawi (Dekomposisi) diantaranya proses oksidasi, hidrasi, hidrolisis, pelarutan dan lain sebagainya. Menjadikan permukaan batuan lapuk, dengan merubah struktur dan komposisi kimiawi material batuannya. Membentuk material yang lebih lunak dan lebih kecil (terurai) dibanding keadaan sebelumnya, seperti mineral-mineral lempung.

Tahap II 

            Pada tahapan ini, setelah mengalami pelapukan bagian permukaan batuan yang lapuk akan menjadi lebih lunak. Kemudian rekahan-rekahan yang terbentuk pada batuan akan menjadi jalur masuknya air dan sirkulasi udara. Sehingga, dengan proses-proses yang sama, terjadilah pelapukan pada lapisan batuan yang lebih dalam. Selain itu, pada tahap ini di lapisan permukaan mulai terdapat (Organic Matter) calon makhluk hidup.

Tahapan III

Pada tahap ini, di lapisan tanah bagian atas mulai muncul tumbuh-tumbuhan perintis. Akar tumbuhan ini membentuk rekahan pada lapisan-lapisan batuan yang ditumbuhinya (mulai terjadi pelapukan Biologis). Sehingga rekahan ini menjadi celah/ jalan untuk masuknya air dan sirkulasi udara.

Selain itu, dengan kehadiran tumbuhan, material sisa  tumbuhan yang mati akan membusuk  membentuk humus (akumulasi asam organik). Pada dasarnya humus memiliki sifat keasaman. Proses pelapukan akan dipicu salah satunya oleh adanya faktor kesaman.

Air yang terinfiltrasi ke dalam lapisan tanah akan membawa asam humus yang ada di lapisan atas melalui rekahan-rekahan yang ada. Menjangkau lapisan batuan yang lebih dalam. Ini semua akan menyebabkan meningkatnya keasaman pada tanah yang kemudian akan memicu terjadinya pelapukan pada bagian-bagian tanah serta batuan yang lebih dalam. Membentuk lapisan-lapisan tanah yang lebih tebal.

Dengan  semakin tebalnya lapisan-lapisan tanah, air yang tefiltrasi ke dalam lapisan tanah dapat melakukan proses pencucian (leaching) terhadap lapisan-lapisan yang dilaluinya. Ssehingga tahapan ini merupakan awal terbentuknya horison-horoison tanah.

Tahap IV

Pada tahapan ini, tanah telah menjadi lebih subur. Sehingga tumbuhlah tumbuhan-tumbuhan yang lebih besar. Dengan hadirnya tumbuhan yang lebih besar, menyebabkan akar-akar tanaman menjangkau lapisan batuan yang lebih dalam. Sehingga terbentuk rekahan pada lapisan batuan yang lebih dalam. Pada tahapan ini lapisan humus dan akumulasi asam organik lainnya semakin meningkat. Seperti proses yang dijelaskan pada tahap-tahap sebelumnya, keadaan ini mempercepat terjadinya peroses pelapukan yang terjadi pada lapisan batuan yang lebih dalam lagi.

LAPISAN-LAPISAN TANAH

Sebagian besar jenis tanah mengacu pada pola utama lapisan tanah yang terkadang disebut dengan lapisan tanah yang ideal. Setiap lapisan ditandai dengan huruf, dengan urutannya sebagai berikut: O-A-B-C-R.

Lapisan O

Huruf O menujukkan kata “organik”. lapisan ini disebut juga dengan humus. Lapisan ini didominasi oleh keberadaan material organik dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai tingkat dekomposisi. Lapisan O ini tidak sama dengan lapisan dedaunan yang berada di atas tanah, yang sesungguhnya bukan bagian dari tanah itu sendiri.

 

Lapisan A

Lapisan A adalah lapisan atas dari tanah, sehingga diberi huruf A. Kondisi teknis dari lapisan A mungkin bervariasi, namun seringkali dijelaskan sebagai lapisan tanah yang relatif lebih dalam dari lapisan O. Lapisan ini memiliki warna yang lebih gelap dari pada lapisan yang berada di bawahnya dan mengandung banyak material organik. Dan mungkin lapisan ini lebih ringan dan mengandung lebih sedikit tanah liat. Lapisan A dikenal sebagai lapisan yang memiliki banyak aktivitas biologi. Organisme tanah seperti cacing tanah, arthropoda, nematoda, jamur, dan berbagai spesies bakteri dan bakteri archaea terkonsentrasi di sini, dan seringkali berhubungan dengan akar tanaman.

 

Lapisan B

Lapisan B umunya disebut lapisan tanah bawah, dan mengandung lapisan mineral yang mirip dengan lapisan mineral tanah liat seperti besi atau aluminium, atau material organik yang sampai ke lapisan tersebut oleh suatu proses kebocoran. Akar tanaman menembus lapisan tanah ini, namun lapisan ini sangat miskin material organik. Lapisan ini umumnya berwarna kecoklatan, atau kemerahan akibat tanah liat dan besi oksida yang terbilas dari lapisan A.

 

Lapisan C

Lapisan C dinamakan karena berada di bawah A dan B. lapisan ini sedikit dipengaruhi oleh keberadaan proses pembentukan tanah dari bawah. Lapisan C ini mungkin mengandung bebatuan yang belum mengalami proses pelapukan. Lapisan C juga mengandung material induk.

 

Lapisan R

Lapisan R didefinisikan sebagai lapisan yang mengalami sebagian pelapukan bebatuan menjadi tanah. Berbeda dengan lapisan di atasnya, lapisan ini sangat padat dan keras dan tidak bisa digali dengan tangan.

FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH

Adapun pembentukan tanah di pengaruhi oleh lima faktor yang bekerjasama dalam berbagai proses, baik reaksi fisik (disintregrasi) maupun kimia (dekomposisi). Semula dianggap sebagai faktor pembentukan tanah hanyalah bahan induk, iklim, dan makhluk hidup. Setelah diketahui bahwa tanah berkembang terus, maka faktornya ditambah dengan waktu. Tofografi (relief) yang mempengaruhi tata air dalam tanah dan erosi tanah juga merupakan faktor pembentukan tanah.

1. Iklim

Iklim adalah rata-rata cuaca semua energi untuk membentuk tanah datang dari matahari berupa penghancuran secara radio aktif yang menghasilkan gaya dan panas. Enegi matahari menyebabka terjadinya fotosintesis (asimilasi) pada tumbuhan dan gerakan angin menyebabkan transfirasi dan evaforasi (keduanya disebut evafotranspirasi). Akibat langsung dari gerakan angin terhadap pembentukan tanah yaitu berupa erosi angin dan secara tidak langsung berupa pemindahan panas. Komponen iklim yang utama adalah curah hujan dan suhu (temperatur). Faktor pembentukan tanah melalui iklim meliputi curah hujan dan suhu.

• Curah Hujan

Pada umumnya makin banyak curah hujan maka keasaman tanah makin tinggi atau pH tanah makin rendah, karena banyak unsur-unsur logam alkali tanah yang terlindi misalnya, Na, Ca, Mg, dan K, dan sebaliknya makin rendah curah hujan maka makin rendah tingkat keasaman tanah dan makin tinggi pH tanah. Makin lembab suatu tanah maka makin jelek aerasinya dan juga sebaliknya, hal ini desebabkan karena adanya pergantian antara air dan udara dalam tanah.

• Suhu (temperatur)

Suhu sangat berpengaruh bagi proses pembentukan tanah meliputi evapotranspirasi yang meliputi gerak air di dalam tanah, juga meliputi reaksi kimia bilamana suhu makin besar maka makin cepat pula reaksi kimia berlangsung.

2. Bahan Induk

Dalam proses pembentukan tanah juga terdapat bahan induk yang menyusun pembentukan tanah, bahan induk tersebut bersumber dari batuan dan bahan organik.

• Batuan

Batuan dapat didefinisikan sebagai bahan padat yang terjadi didalam membentuk kerak bumi, batuan pada umumnya tersusun atas dua mineral atau lebih. Berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan menjadi 3 jenis batuan, yaitu beku, batuan endapan dan batuan malihan.

- Batuan Beku

Batuan beku atau batuan vulkanik terbentuk oleh magma yang berasal dari letusan gunung berapi, batuan beku atau batuan vulkanik terdiri dari meneral yang tinggi dan banyak mengandung unsur hara tanaman. Di Indonesia batuan vulkanik memegang peranan yang lebih penting, hal ini di sebabkan karena gunung berap[i tersebar mana-mana, dan karena letesan gunung berapi yang menghasilkan batuan vulkanik yang menyebabkan kesuburan tanah. Selain atas dasar terjadinya batuan vulkanik juga dapat dibagi atas dasar kandungan kadar Si O2 nya menjadi tiga golongan, yaitu, batuan asam yang berkadar Si O2 lebih dari 65%, batuan intermedier yang kadar Si o2 antar 52% s/d 65% dan batuan basis yang berkadar

Si O2 kurang dari 52%.

Batuan vulkanik di Indonesia kebanyakan termasuk basis, kemudian intermedier dan yang paling sedikit batuan asam. Batuan asam biasanya berwarna lebih muda dari pada batuan basis, batuan asam juga biasanya lebih banyak mengandung alkali dan Al, sedangkan kadar unsur-unsur seperti Fe,Mg dan Ca lebih rendah, sehingga berat jenisnya juga lebih kecil. Perbedaan lain adalah mengenai daya tahannya terhadap proses pelapukan, batuan asam lebih tahan terhadap proses pelapukan karena warnanya kebih muda. Akibatnya tanah yang berasal dari batuan asam tektunya lebih kasar daripada tanah yang berasal dari bari batuan basis, maka dapat dikatakan tanah yang berasal dari batuan asam mempunyai kandungan unsurhara yang sedikit dibandingkan dengan tanah yang berasal dari batuan basis.

- Batuan Endapan

Batuan endapan terjadi karena proses pengendapan bahan yang diangkut oleh air atau udara dalam waktu yang lama. Ciri untuk membedakan batuan endapan dan batuan lainnya yaitu, batuan endapan biasanya berlapis, mengandung jasad (fosil) atau bekas-bekasnya dan adanya keseragaman yangnyata dari bagian-bagian berbentuk bulat yang menyusun.

Adanya lapisan dalam batuan ini disebabkan karena timbunan lapisan pengendapan yang masing-masing berbeda bahan, tekstur, warna dan tebalnya. Perbedaan ini terutama di sebabkan oleh karena perbedaan waktu pengendapan dan bahan yang diendapkannya.jika bahan yang diendapkannya seragam maka ciri akan terlihat kurang jelas. Batuan endapan dari bahan-bahan yang diendapkan dari hasil pecahan batuan yang telah ada sebelumnya. Proses pelapukan batuan endapan dapat terjadi melalui gerakan bumi, seperti gempa bumi, patahan,timbulan,bahkan lipatan, dan tekanan akibat temperartur, juga bisa diakibatkan oleh tenaga mahkluk hidup saeperti akar dan hewan, maupun gaya kimia yang di sebabkan oleh gaya kimia seperti CO2, O2 asam organik dan sebagainya.

- Batuan Malihan

Batuan malihan terbentuk dari batuan beku atau batuan endapan atau juga dapat terbentuk dari batuan malihan lainnya yang mengalami proses perubahan susunan dan sentuknya yang akibatkan oleh pengaruh panas, tekanan atau gaya kimia. Batuan malihan adalah batuan yanga memiliki sipat – sipat akibat telah malihnya batuan semula baik batuan beku maupun endapan. Yang di namakan proses malihan adalah jumlah proses yang bekerja dalam zone pelapukan dan menyebabkan pengkristalan kembali bahan induk. Adapun sarat tejadinya proses malihan yaitu di sebabkan oleh temperatur tinggi, tekanan kuat, dan waktu lama.

Temperatur tinggi saling mempercepat reaksi kimia juga penting untuk dapat melampaui temperatur mineralnya. Secara teori dapat di terapkan atom – atom yang menyusun mineral setelah mencapai temperatur kritik amplitudo getarannya akan sedemikian besarnya, sehingga atom – atom dapat bergerak lebih besar dan mampu bertukar tempat. Temperatur yang tinggi juga dapat mempertinggi plasitisitas mineral. Sumber panasnya berasal dari bagian dalam bumi, energi mekanik menghasilkan yang merupakan hasil proses geologi dan magma yang meleleh.

Tekanan yang mempengaruhi proses malihan ada macam, yaitu tekanan hidrostastik dan tekanan yang berarah berupa desakan. Yang tertama menyebabkan perubahan volume dan menghasilkan stuktur butir yang tidak teratur, sedangkan desakan menyebabkan bentuk dan menghasilkan struktur sejajar. Tekanan yuang seragam mempengaruhi keseimbangan kimia dengan memacu pengeluaran volume dan pembentukan mioniral-mineral yang rapat jenisnyalebih tinggi, sedangkan desakan mewujudkan berbagai pengaruh terhadap susunan mineral batuan. Waktu yang lama lambat laun membentuk batuan malihan.

• Organik

Bahan organik brperan terhadap kesuburan tanah dan berpengaruh juga ketahanan agregat tahan. Juga bahan organik mempunyai pengaruh terhadap warna tanah yang menjadikan warna tanah coklat kehitaman.serta terhadap ketersediaan hara dalam tanah. Tumbuhan menjadi sumber utama bagi bahan organik, pada keadaan alami tumbuhan menyediakan bahan organik yang sangat besar, akibat pencernaan oleh mikro organisme bahan organik tercampur tercampur dalam tanah secara proses imfiltasi. Beberapa bentuk kehidupan seperti cacing, rayap, dan semut berperan penting dalam pengangkutan tanah.

Faktor yamg mempengaruhi bahon organiuk tanah yaitu, kedalaman tanah yang mentukan kadar bahan bahan organik yang ditentukan pada kedalaman 20 cm dan makin kebawah makin berkurang, faktor iklim menyebabkan bilamana semakin rendahnya susu maka makin tinggi pula bahan organik uyang terkandung dalam tanah.

3. Makhluk Hidup

Semua mahkluk hidup, baik hidupnya maupun sudah mati mempunyai pengaruh terhadap pembentukan tanah. Di antara makhluk yang paling berpengaruh adalah vegetasi karena jumlahnya banyak dan berkedudukan tepet untuk waktu yang lama, sedangkan hewan dan manusia berpengaruh tidak langsung melalui vegetasi.  Jasad remik (mikro organisme) dalam tanah mempunyai peranan dalam prose peruraian bahan organik menjadi unsur hara dapat di serap oleh akar tanaman dan pembentukan humus (bunga tanah). Cacing tanah sangat aktif dalam peruraian (dekoposisi) serasaah. Pada waktui malam hari cacing – cacing membawa guguran dedaunan dan rerumputan kedalam lubang-lubangmnya dan mencampur dengan mineral-mineral tanah. Sokresin yang dikeluarkan mengandung Ca lebih banyak daripada tanah disekitarnya. Lubang-lubang cacing akan mempengaruhi aerasi dan perembesan air .

Semut-semut menyusup kedalam tanah dan mengangkut bahan-bahan dari dalam tanah kepermukaa tanah sambil membangun sarang-sarangnya berupa berupa bukit-bukit kecil di pertmukaan tanah dan sering pada batang-batang pohon. Rayap-rayap makan sisa-sisa bahan organik. Tikus dan binatang lai menggunakan tanah sebagai tempat tinggal dan tempat perlindungan. Manusia mempengaruhi pembentukan tanah melalui cara penggunaan tanahnya, terutama cara bercocok tanam, menentukan jemnis tanaman yang di tanam, cara pengolahan atau penggarapan, permukaan, cara pemanenan, menentukan rotasi tanaman dan lain sebagainya.

4. Topografi

Topogarfi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mepergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah. Sebaliknya genangan air didataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh ilklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah.

Didaerah beriklim humid trop[ika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi arid (agak kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis grumosol, kelabu, sedangkan dilereng pegunungan terbentuk tanah jenis grumosol berwarna kuning coklat.Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunnya garam-garam di kaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi di daerah sub humid terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumosol, baik secara fisik maupun kimianya. Di lereng cekung seringkali bergabung membentuk cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang

5. Faktor Waktu

Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah, memainkan peranan penting dalam menentukan jenis-jenis tanah terbentuk. Gunung berapi mengendapkan lava dan abu gunung disaat terjadi letusan gunung berapi tersebut, seringkali pengendapan lava ataupun terjadinya letusan gunung tidak terjadi pada waktu yang sama. Semua tinfgkatan perkembangan tanah dapat di temukan kembali pada endapan-endapan itu. Didaerah beriklim tropika, pembentukan tanah dari bahan induk berupa abu gunung berapi berlangsung cepat, sehingga dalam waktu empat belas tahun sudah dapat terbentuk tanah yang cukup subur.

 

 

 

SIFAT-SIFAT FISIK DAN MORFOLOGI TANAH

 

BATAS-BATAS HORISON

Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang daoat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut.

Pembentukan tanah merupakan suatu proses perubahan bentuk suatu bahan ke dalam bentuk lain yang bersifat jauh berbeda dengan bahan asalnya. Bahan yang diubah yaitu bahan-bahan induk tanah, baik yang berupa bahan mineral, bahan organik atau campuran dari keduanya yang oleh beberapa peranan (unsur matahari, air, udara, bakteri, cendawan, mikrofauna, dan bermacam-macam serangga di dalam tanah) telah diubah menjadi tanah yang bermanfaat bagi segala kehidupan dan kepentingan di muka bumi. Tanah merupakan suatu sistem yang ada dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen, yaitu:

  1. Partikel mineral, berupa fraksi anorganik.
  2. Bahan Organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran binatang.
  3. Air
  4. Udara tanah, dan
  5. Kehidupan jasad renik

 

Profil tanah

Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula, sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya.

Pada suatu profil tanah yang lengkap dapat kita lihat beberapa lapisan yang membentuk tanah, dan lapisan-lapisan tersebut pada beberapa macam tanah dikenal dengan horison genesa tanah (lapisan yang terbentuk di tempat itu sehubungan dengan berlangsungnya proses perombakan bahan induk tanah). Umumnya pembentukan tanah ditekankan pada ketebalan solum tanah (medium bagi pertumbuhan tanaman) yang diukur mulai dari ketebalan lapisan batu-batuan sampai ke permukaan tanah. Setelah diketahui solum tanah itu kemudian dapat ditentukan tebalnya lapisan atas tanah (top soil) dan lapisan bawahnya (sub soil) yang satu dengan yang lainnya akan menunjukkan perbedaan atau kekhususan yang mencolok. Hal tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Lapisan atas tanah (top soil)

Ketebalan solumnya sekitar 20-35 cm, merupakan tanah yang relatif subur jika dibandingkan dengan sub soil, banyak mengandung bahan organik dan biasanya merupakan lapisan olah tanah bagi pertanian.

  1. Lapisan atas tanah merupakan media utama bagi perkembangan akar tanaman yang dibudidayakan.
  2. Dalam ketahanannya lapisan tanah atas biasanya lebih rapuh, lebih mudah terangkut dan hanyut dibandingkan dengan sub soil      

2. Tanah Mineral

Perbedaan antara tanah mineral dan tanah organik terletak pada kandungan bahan organiknya.

a. Tanah minieral: Meliputi tanah-tanah yang bahan organiknya kurang dari 20%.

b. Tanah Organik: Tanah yang kandungan bahan organiknya lebih dari 65%.

Berdasarkan sistem pengelompokkan tanah oleh USDA tanah mineral meliputi golongan tanah Alfisol, Aridisol, Entisol, Inceptisol, Mollisol, Oxisol, Spodosol, Ultisol, dan Vertisol, yang masing-masing memiliki sifat dan keterbatasan yang berbeda-beda.

 

Bahan Mineral Tanah  

Bahan mineral tanah (anorganik tanah) terdiri atas pelbagai macam ukuran dan komposisi, lazimnya berupa sibir batuan dan bermacam-macam mineral. Sibir batuan bila melapuk akan menghasilkan regolith dan pelapukan bahan ini selanjutnya menghasilkan tanah yang sangat kasar.

Mineral merupakan suatu unsur atau senyawa yang berwujud padat yang terbentuk secara alami (kecuali senyawa-senyawa karbon yang terbentuk secara biologis). Komposisi mineral dalam tanah tergantung pada faktor-faktor tertentu, yaitu pada bahan induknya serta proses yang bekerja pada pembentukan dan perkembangan tanah.

Pada umunya bentuk mineral tanah dibagi menjadi dua, yaitu kelompok mineral bukan silikat dan kelompok mineral silikat.

  • TEKSTUR/ SUSUNAN TANAH (MINERAL)

Menurut H. Kohnke (1968) dalam “Soil Physics” dengan tekstur tanah kita dapat membahas dan mengemukakan tentang bahan mineral seperti pasir, debu, dan liat dalam susunan tanah yang penting bagi kehidupan di muka bumi. Pasir, debu,dan liat merupakan partikel-partikel tanah yang dapat digolongkan berdasarkan atas ukuran, bentuk, kerapatan, dan komposisi kimia.

Mineral Liat

Perbedaan hasil pembentukan mineral liat ditentukan oleh reaksi lingkungan pembentukannya. Pada lingkungan yang bereaksi masam akan terbentuk mineral liat Kaolinit, sedangkan pada lingkungan yang bereaksi basa dan mengandung banyak magnesium akan terbentuk mineral liat Montmorillonit. Keduanya memiliki sifat-sifat yang berbeda. Dalam memperhatikan liat sebagai komponen tanah, kita harus memperhatikan pula perbedaan antara bahan berukuran liat dan mineral liat.

  1. Bahan berukuran liat meliputi semua bahan penyusun tanah berukuran 2 mikron.
  2. Mineral liat merupakan sekumpulan mineral berbentuk kristal, yang tersusun atas aluminium silikat dengan beberapa logam tertentu sebagai pendukung atau penggantinya.

Dengan demikian maka bahan berukuran liat meliputi mineral liat dan bahan-bahan lain yang mendukung atau menggantinya, seperti bahan-bahan hasil pelapukan (perombakan), oksida besi, oksida alumina, dan bahan organik.

 BAHAN ORGANIK TANAH

Organik tanah merupakan hasil perombakan dan penyusunan yang dilakukan oleh jasad renik tanah, yang tentunya dalam hal ini ada berbagai tambahan bahan seperti glukosamin (hasil metabolis jasad renik). Sumber utama bahan organik tanah ialah jaringan tanaman, baik yang berupa serasah atau sisa-sisa tanaman. Pengelompokan bahan organik tanah berdasarkan (segi) kimiawi tanah dapat meliputi senyawa karbohidrat, protein dan lignin, serta sejumlah kecil senyawa lainnya seperti minyak, lilin, dll. Senyawa karbohidrat meliputi gula (dalam keadaan sederhana) dan zat tepung, akan tetapi yang lebih banyak adalah polisakarida yang tersusun atas gula heksosa, gula pentosa dan asam uronik. Polisakarida lainnya yang sering dijumpai adalah kitin.

Bentuk hasil perombakan bahan organik (limbah nabati) di dalam tanah yang relatif tahan terhadap pelapukan adalah humus. Proses pembentukan humus merupakan proses biokimia majemuk, dimana jaringan yang terdapat di dalam tanah mengalami panas dan lembab, sehingga dalam keadaan yang demikian tanah diserang oleh bermacam-macam jasad, dan selanjutnya melalui tahapan akhir dari prosesnya akan berubah menjadi senyawa sederhana yang melarut. Humus akan menyerap air dari atmosfera yang setara dengan 80% sampai 90% beratnya, sedangkan liat hanya sekitar 15% sampai 20% saja, humus berplastisitas dan berkohesi rendah.

Kandungan oksigen dalam tanah akan sangat berpengaruh, baik pada kegiatan jasad renik maupun terhadap kandungan bahan organik di dalam tanah. Dalam hal ini penurunan kandungan oksegen tanah akan:

- Mengurangi kegiatan jasad renik tanah sehingga penguraian bahan organik tidak akan berlangsung dengan baik.

-  Pelapukan yang berlangsung hanya akan membebaskan asam-asam organik, karbondioksida, gas hidrogen, metana, senyawa sulfida, dan senyawa-senyawa lainnya.

Jasad renik yang kurang aktif ternyata hanya akan memperbesar pelonggokan bahan organik, sehingga unsur hara tertentu menjadi tidak tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Bahan organik dengan nisbah C/N yang tinggi akan lambat terlapuk. Agar bahan organik dengan nisbah demikian cepat terlapuk maka perlu usaha penambatan Nitrogen Tanah, yaitu dengan memberikan sejumlah bahan organik yang cepat terlapuk.

Pada tanah-tanah yang bertekstur halus biasanya kegiatan jasad renik dalam perombakan bahan organik akan mengalami kesulitan dikarenakan tanah-tanah yang bertekstur demikian berkemampuan menimbulkan bahan organik lebih tinggi.

WARNA TANAH

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas warna tanah.

1. Kadar lengas atau tingkat hidratasi.

Kadar lengas dan hidratasi sangat berpengaruh terhap warna tanah, dalam hal ini apabila dalam keadaan lembab hingga basah maka tanah akan tampak berwarna hitam/kelam. Tingkat hidratasi sangat erat kaitannya dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang mengarah ke warna reduksi (gleisasi), yaitu kelabu biru hingga kelabu hijau.

2. Kadar bahan organik

Makin tinggi kandungan bahan organiknya, maka warna tanah akan makin kelam. Sebaliknya, semakin rendah kandungan bahan organiknya warna tanah akan tampak lebih terang.

3. Kadar dan mutu mineral

Mineral feldspar Kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah.  Sedangkan khusus untuk feldspar dapt menyebabkan warna tanah yang bermacam-macam, terutama warna merah. Hematit juga dapat menjadikan warna merah sampai merah tua pada tanah.

Warna-warna pada tanah dapat menjadi indikator dalam pengelompokan pengaruh iklim, bahan induk serta fisiografi. Warna tanah yang hitam/gelap akan menyerap panas lebih banyak dari pada tanah yang berwarna putih atau cerah/terang.

Pengaruh yang lebih langsung yang berkaitan dengan warna tanah ialah terhadap suhu dan lengas tanah.  Makin tua warna tanah itu makin menunjukkan makin tinggi pula kesuburannya, hal tersebut ditunjukkan pula oleh bahan organik yang ada di dalamnya. Warna tanah yang terang umumnya di sebabkan oleh kuarsa (suatu mineral yang rendah nilai gizinya). Warna tanah yang berbercak umumnya menunjukkan reduksi dan oksidasi berlangsung silih berganti.

Dapat dikatakan pula bahwa profil tanah akan menunjukkan variasi warna tanah sesuai dengan horisonnya, tanah yang masih muda ataupun yang terlalu tua kurang menunjukkan gejala tersebut. Menurut Konhe, tanah yang masih muda dikarenakan waktu untuk diferensiasi horison belum mungkin, sedangkan tanah yang terlalu tua proses pnumpuannya telah berlangsung secara lanjut.

 PENGGOLONGAN/ KLASIFIKASI STRUKTUR TANAH

Klasifikasi struktur tanah sangat berkaitan dengan klasifikasi lapangan yang digunakan bagi penelaah morfologi tanah. Komponennya meliputi

1. Tipe dan Kelas struktur (bentuk, ukuran dan susunan agregat).

Macam-macam tipe dan kelas struktur tanah:

-          Platy atau lempeng

-          Tiang prismatik

-          Gumpalan bersudut

-          Tipe tidak berstruktur

Derajat struktur (kemantapan atau kekuatan agregat).

-          Yang tidak beragregat, yaitu pejal (jika berkoherensi dan butir tunggal), lepas-lepas

-          Yang derajat strukturnya lemah (jika tersentuh akan mudah hancur)

-          Yang derajat strukturnya cukup (agregat sudah jelas terbentuk)

-          Yang derajat strukturnya kokoh (agregatnya mantap dan jika dipecah-pecah agak liat).

 

KONSISTENSI TANAH

Konsistensi tanah dapat diartikan sebagai daya kohesi dan adhesi tanah pada berbagai kelembapan. Konsistensi tanah tergantung dari tekstur, kadar bahan organik, kadar dan khuluk bahan koloid dan terutama kadar lengas tanah. Sehubungan dengan kadar lengas tanah, maka keanekaan konsistensi tanah dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Pada kadar lengas tinggi, tanah seakan-akan melakukan kegiatan yang mengalir (visceus) sehingga mengental.
  2. Apabila kadar lengas berangsur-angsur berkurang, visceus tidak terjadi lagi sehingga tanah menjadi lekat, liat, dan lunak.
  3. Apabila kadar lengas semakin berkurang lagi (lebih kecil dari poin b), maka tanah akan kehilangan sifat lekat dan liatnya, selanjutnya berubah menjadi gembur atau agak retak-retak.
  4. Apabila kadar lengas semakin berkurang lagi (lebih kecil dari poin c), keadaan tanah akan menjadi kering, keras, sukar dipecahkan, dan kasar saat diraba.

.

REFERENSI

  • Arsyad, S. 1997. Konservasi Tanah. Jurusan Tanah, fakultas pertanian, institut Pertanian Bogor
  • Dwi Priyo Ariyanto.2009. Soil Physic and Conservation  Laboratory Department Soil Science .Faculty of Agriculture Sebelas Maret University

SUMBER LAIN


EKOLOGI HUTAN

 

FORMASI HUTAN MANGROVE DAN FORMASI HUTAN PANTAI

 

 

 

 

 

 

DIUSUN OLEH :

 

  1. YOGA RANANDA                     D1D011118
  2. M.KHOTIBUL FITRAH              D1D011119
  3. ENGGI EDIANSYAH                 D1D011116
  4. VIKTOR ANDRIANO                 D1D011117
  5. ROZI YULIANDRI                      D1D011120
  6. PUTI NILAM CAHYO                D1D011115

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

 

KATA PENGANTAR

 

 

Assalamu’alikum Wr. Wb.

 

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas kita sebagai mahasiswa. Berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dari kelompok VII dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah ini tidak kurang dari waktu yang ditentukan. Tidak lupa pula kami khaturkan Salam dan Shalawat atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Pabrik Figur umat manusia khususnya kita umat islam sebagai pengikutnya, sehingga kita dapat merasakan kemerdekaan dalam memeluk agama dan keyakinan. Berkat perjuangan dan kerja keras beliau kita dapat merasakan indahnya hidup yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan di jauhkan keterpurukkan dan kejahilliyaan dunia yang fana ini. Untuk mengetahui formasi hutan yang terdapat di pantai dan kawasan mangrove dan hubungan masyarakat tanaman dan lingkungan beserta adaptasi tanaman terhadap stres kelembaban. Maka kami menyusun karya ilmiah ini untuk memberikan informasi kepada pembaca bagaiman formasi hutan tersebut dan pengaruh-pengaruh yang terjadi di dalam. Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentunya masih terdapat kekeliruan dan kekurangan. Oleh karena itu besar harapan kami kepada Dosen atau rekan-rekan mahasiswa memberikan sebuah gagasan baru, baik berupa kritik dan saran yang bersifat membangun, agar penyusunan karya ilmiah selanjutnya lebih baik lagi, untuk itu kami sampaikan

terimakasih.

 

Wabillahi Fisabilillah Fastabiqul Khairat.

Wassalam,

 

Jambi,16-09-2012

 

Kelompok V

 

 

 

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.         Latar belakang

Formasi ekosistem hutan terjadi akibat pengaruh faktor lingkungan yang dominan terhadap pembentukan dan perkembangan komunitas dalam ekosistem hutan. Pengelompokan formasi hutan didasari oleh paham klimaks, yaitu komunitas akhir yang terjadi selama proses suksesi. Paham klimaks berkaitan dengan adaptasi tumbuh-tumbuhan secara keseluruhan mencakup segi fisiologis, morfologis, syarat pertumbuhan, dan bentuk tumbuhnya, sehingga kondisi ekstrem dari pengaruh iklim dan tanah akan menyebabkan efek adaptasi pohon serta tumbuh-tumbuhan lainnya menjadi nyata. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap bentuk susunan ekosistem hutan (formasi hutan).

Berdasarkan atas faktor lingkungan yang memiliki pengaruh dominan terhadap bentuk susunan komunitas atau ekosistem hutan, maka ekosistem hutan dikelompokkan ke dalam dua formasi, yaitu formasi klimafis dan formasi edafis. Formasi klimatis disebut juga formasi klimaks iklim, sedangkan formasi edafis disebut juga formasi klimaks edafis. Pengertian dari masing-masing formasi adalah sebagai berikut.

  1. Formasi klimatis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, misalnya temperatur, kelembapan udara, intensitas cahaya, dan angin. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis, yaitu hutan hujan tropis, hutan musim, dan hutan gambut (Santoso,1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976). Menurut Schimper (1903 dalam Arief, 1994), ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis, yailu hutan hujan tropis, hutan musim, hutan sabana, hutan duri, hutan hujan subtropis, hutan hujan temperate, hutan konifer, dan hutan pegunungan. Menurul Davy (1938 dalam Arief,1994), hutan-hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis adalah hutan hujan tropis, hutan semi hujan, hutan musim, hutan pegunungan atau hutan temperate, hutan konifer, hutan bambu atau hutan Gramineae berkayu, dan hutan Alpine.
  2. Formasi edafis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah, misalnya sifat-sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah, serta kelembapan tanah. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi edafis, yaitu hutan rawa, hutan payau, dan hutan pantai. Schimper, 1903 dalam Arief, 1994 menyebutkan hutan-hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis mencakup hutan tepian, hutan rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Menurut Davy (1938 dalam Arief, 1994) yang termasuk ke dalam kelompok formasi edafis, yaitu hutan riparian, hutan rawa, hutan mangrove, hutan pantai, hutan kering selalu hijau, hutan sabana, hutan palma atau hutan nipah, dan hutan duri. Hutan riparian (riparian forest) dianggap sebagai subtipe hutan hujan tropis, sedangkan hutan nipah (nipha forest) sering dianggap sebagai konsosiasi dari hutan payau atau hutan rawa; bergantung kepada faktor edafisnya.

 

 

 

 

2.1 Rumusan Masalah

  • Bagaimana formasi hutan mangrove ?
  • Bagaimana formasi hutan pantai ?
  • Bagaiman hubungan masyarakat tumbuhan dengan lingkungan ?
  • Adaptasi pohon tropis ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II. PEMBAHASAN

 

2.1  FORMASI HUTAN MANGROVE

 

Ekosistem hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Menurut FAO, Hutan Mangrove adalah Komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Kondisi habitat tanah berlumpur, berpasir, atau lumpur berpasir. Ekosistem tersebut merupakan ekosistem yang khas untuk daerah tropis dan sub tropis, terdapat di derah pantai yang berlumpur dan airnya tenang (gelombang laut tidak besar). Ekosistern hutan itu disebut ekosistem hutan payau karena terdapat di daerah payau (estuarin), yaitu daerah perairan dengan kadar garam/salinitas antara 0,5 °/oo dan 30°/oo disebut juga ekosistem hutan pasang surut karena terdapat di daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove” (Macnae, 1968 dalam Kusmana et al, 2003). Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.

Hutan  mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Penggunaan istilah hutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana et al, 2003).

Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menjatuhkan akarnya. Pantai-pantai ini tepat di sepanjang sisi pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung (Nybakken, 1998).

Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.

Ekosistem hutan payau termasuk tipe ekosistem hutan yang tidak terpengaruh oleh iklim, tetapi faktor lingkungan yang sangat dominan dalam pembentukan ekosistem itu adalah faktor edafis. Salah satu faktor lingkungan lainnya yang sangat menentukan perkembangan hutan payau adalah salinitas atau kadar garam (Kusmana, 1997).

Vegetasi yang terdapat dalam ekosistem hutan payau didominasi oleh tumbuh-tumbuhan yang mempunyai akar napas atau pneumatofora (Ewusie, 1990). Di samping itu, spesies tumbuhan yang hidup dalam ekosistem hutan payau adalah spesies tumbuhan yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap salinitas payau dan harus hidup pada kondisi lingkungan yang demikian, sehingga spesies tumbuhannya disebut tumbuhan halophytes obligat. Tumbuh-tumbuhan itu pada umumnya merupakan spesies pohon yang dapat mencapai ketinggian 50 m dan hanya membentuk satu stratum tajuk, sehingga umumnya dikatakan bahwa pada hutan payau tidak ada stratifikasi tajuk secara lengkap seperti pada tipe-tipe ekosistem hutan lainnya. tumbuh-tumbuhan yang ada atau dijumpai pada ekosistem hutan payau terdiri atas 12 genus tumbuhan berbunga antara lain genus Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aeigiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Gonocarpus.

Ekosistem hutan payau di Indonesia memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan yang tinggi dengan jumlah spesies tercatat sebanyak lebih kurang 202 spesies yang terdiri atas 89 spesies pohon, 5 spesies palem, 19 spesies liana, 44 spesies epifit, dan satu spesies sikas (Bengen, 1999). Spesies-spesies pohon utama di daerah payau pada umumnya membentuk tegakan murni dan merupakan ciri khas komunitas tumbuhannya. Spesies-spesies pohon utama itu antara lain Avicennia spp., Sonneratia spp., Rhizophora spp., dan Bruguiera spp. Spesies-spesies pohon yang dapat menjadi pionir menuju ke arah laut adalah Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp., tetapi bergantung kepada kedalaman pantai dan ombaknya.

Adapun spesies-spesies tumbuhan payau tersebut dapat digolongkan ke dalam sejumlah jalur tertentu sesuai dengan tingkat toleransinya terhadap kadar garam dan fluktuasi permukaan air laut di pantai, dan jalur seperti itu disebut juga zonasi vegetasi. Jalur-jalur atau zonasi vegetasi hutan payau masing-masing disebutkan secara berurutan dari yang paling dekat dengan laut ke arah darat sebagai berikut.

  1. Jalur pedada yang terbentuk oleh spesies tumbuhan Avicennia spp. dan Sonneratia spp.
  2. Jalur bakau yang terbentuk oleh spesies tumbuhan Rhizophora spp. dan kadang-kadang juga dijumpai Bruguiera spp., Ceriops spp., dan Xylocarpus spp.
  3. Jalur tancang yang terbentuk oleh spesies tumbuhan Bruguiera spp. dan kadang-kadang juga dijumpai Xylocarpus spp., Kandelia spp., dan Aegiceras spp.
  4. Jalur transisi antara hutan payau dengan hutan dataran rendah yang umumnya adalah hutan nipah dengan spesies Nypa fruticans.

Dari segi ekologi, ekosistem hutan payau merupakan habitat unik dan paling khas yang dalam banyak hal berbeda dengan habitat-habitat lainnya. Di habitat ini memungkinkan terjalinnya perpaduan yang unik antara organisme laut dan darat, serta antara organisme air asin dan air tawar.

Ekosistem hutan payau tersebut memiliki fungsi yang sangat kompleks, antara lain sebagai peredam gelombang laut dan angin badai, pelindung pantai dari proses abrasi dan erosi, penahan lumpur dan penjerat sedimen, penghasil detritus, sebagai tempat berlindung dan mencari makan, serta tempat berpijah berbagai spesies biota perairan payau, sebagai tempat rekreasi, dan penghasil kayu. Di samping itu, ekosistem hutan payau juga sebagai tempat/habitat berbagai satwa liar, terutama spesies burung/aves dan mamalia, sehingga kelestarian hutan payau akan berperan dalam melestarikan berbagai satwa liar tersebut.

Dari segi peran ekosistem hutan payau terhadap pelestarian lingkungan di sekitarnya terbukti sangat besar, lahan tambak di daerah pantai ternyata dapat dimanfaatkan secara optimal untuk usaha perikanan tambak

2.2   FORMASI HUTAN PANTAI

 

 

Tipe ekosistem hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.

Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Selain spesies-spesies pohon tersebut, temyata kadang-kadang terdapat juga spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia foetida.

Apabila dilihat perkembangan vegetasi yang ada di daerah pantai (litoral), maka sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi, yaitu formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

 


2.2.1.Formasi Pescaprae

Formasi ini terdapat pada tumpukan-tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian di sepanjang pantai, dan hampir terdapat di selumh pantai Indonesia. Komposisi spesies tumbuhan pada formasi pescaprae di mana saja hampir sama karena spesies tumbuhannya didominasi oleh Ipomoea pescaprae (katang-katang) salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akamya mampu mengikat pasir. Sebetulnya nama fomlasi pescaprae diambil dari nama spesies tumbuhan yang dominan itu. Akan tetapi, ada spesies-spesies tumbuhan lainnya yang umumnya terdapat pada formasi pescaprae antara lain Cyperus penduculatus, Cyperus stoloniferus, Thuarea linvoluta, Spinifex littoralis, Vitex trifolia, Ishaemum muticum, Euphorbia atoto, Launaca sarmontasa, Fimbristylis sericea, Canavalia abtusiofolia, Triumfetta repens, Uigna marina, Ipomea carnosa, Ipomoea denticulata, dan Ipomoea littoralis.  

 

2.2.2 Formasi Barringtonia

Disebut formasi Barringtonia karena spesies tumbuhan yang dominan di daerah ini adalah spesies pohon Barringtonia asiatica. Sebenarnya yang dimaksud ekosistem hutan pantai adalah formasi Barringtonia ini. Beberapa spesies pohon yang tumbuh di pantai dan menyusun ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Casuarina equisetifolia, Terminalia eatappa, Hibiscus tiliaceus, Calophyllum inophyllum, Hernandia peltata, Sterculia foetida, Manilkara kauki, Cocos nucifera, Crinum asiaticum, Cycas rumphii, Caesalpinia bonducella, Morinda citrifolia, Oehrocarpus ovalifolius, Taeea leontopetaloides, Thespesia populnea, Tournefortia argentea, Wedelia biflora, Ximenia americana, Pisonia grandis, Pluehea indica, Pongamia pinnata, Premna Corymbosa, Premna obtusifolia, Pemphis acidula, Planchonella obovata, Scaevola taccada, Scaevola frutescens, Desmodium umbellatum, Dodonaea viscesa, Sophora tomentosa, Erythrina variegata, Guettarda speciosa, Pandanus bidur, Pandanus tectorius, dan Nephrolepis biserrata.

Pada daerah hutan pantai Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku terdapat vegetasi hutan pantai di bagian timur didominasi Pongamia pinnata Merr, Cordia subcordata L, Calophyllum inophyllum L, Terminalia cattapa L, Premna corymbosa R.et W, Excoecaria agallocha L, Heritiera littoralis Aiton, Xylocarpus moluccensis Roem dan Cocos nucifera L, Premna corymbosa R et W, Terminalia cattapa L, Heritiera littoralis Aiton. dan Pemphis acidula Forst. Meskipun zone ini sering disebut zone Barringtonia tapi jenis Barringtonia asiatica Kurz hanya sedikit yang bisa ditemukan. Tumbuhan bawah yang berasosiasi adalah Ipomea pescaprae, Ipomea stolonifera, Canavalia rosea, Bauhinia tomentosa L, Amorphophallus campanulatus BL, dan Allium sp.

Berdasarkan tipe-tipe ekosistem hutan seperti yang telah diuraikan tersebut, tipe hutan hujan tropis di Indonesia merupakan tipe hutan yang paling luas diprakirakan mencapai 89% dari luas hutan Indonesia. Tipe ekosistem hutan hujan tropis juga merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam dunia yang diprakirakan memiliki luas seluruhnya 900 juta hektar. Di samping itu, hutan hujan tropis merupakan hutan tropis yang paling produktif dan paling tinggi nilainya dari segi volume kayu yang ada maupun dari nilai flora dan fauna yang beranekaragam. Bahkan menurut hasil penelitian FAO diprakirakan 50% dari semua spesies flora dan fauna dunia hidup secara alamiah di hutan hujan tropis, sehingga nilai ekosistem hutan hujan tropis jauh lebih besar dari sekadar suatu plasma nutfah terbesar dunia .

2.3   HUBUNGAN MASYARKAT TUMBUHAN DENGAN LINGKUNGAN.

 

Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor ekologi sangat beragam, secara sendiri sendiri atau dalam bentuk kombinasi, saling bercampur dan mempengaruhi satu sama lain yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.

Hubungan antara faktor-faktor lingkungan dengan masyarakat tumbuhan akan menentukan keberadaan, kesuburan atau kegagalan masyarakat tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Ciri-ciri habitat dan lingkungannya kadang-kadang dapat menentukan adanya variasi dan diferensiasi masyarakat tumbuhannya dalam bentuk tipe-tipe vegetasinya.

Hubungan tersebut di atas, pada umumnya terjadi antara masyarakat tumbuh-tumbuhan dengan habitat dan lingkungannya (lingkungan abiotik), antara tumbuhan dengan tumbuhan, antara tumbuhan dengan biota lain, dan antara tumbuhan dengan manusia (lingkungan biotik).

Hubungan masyarakat tumbuhan dengan lingkungan abiotik terbentuk antara tumbuh-tumbuhan dengan tanah/lahan sebagai substrat atau habitat, fisiografi dan topografi tanah (konfigurasi permukaan bumi), dan lingkungan iklim (cahaya matahari, suhu, curah hujan dan kelembaban, dan udara atmosfir).

Hubungan tumbuhan dengan tanah sebagai substrat atau habitat berhubungan erat dengan jenis (struktur dan tekstur tanah), sifat fisik, kimia dan biotik tanah, kandungan air tanah, nutrien dan bahan-bahan organik, serta bahan anorganik sebagai hasil proses dekomposisi biota tanah. Dikenal berbagai sifat adaptasi dan toleransi tumbuhan berkaitan dengan struktur dan sifat kimia tanah, yaitu tipe vegetasi kalsifita, oksilofita, psammofita, halofita, dan lain lain.

Konfigurasi permukaan bumi sangat mempengaruhi ketinggian, kemiringan, dan deodinamika lahan sebagai habitat, yang akan berpengaruh terhadap iklim (cahaya/matahari, suhu, curah hujan, dan kelembaban udara); yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan erat dengan masyarakat tumbuhan dalam kaitannya dengan kehadiran, distribusi, jenis-jenis tumbuhan, dan berbagai proses biologi tumbuhan.

Hubungan iklim dengan tumbuhan sangat erat. Iklim berpengaruh terhadap berbagai proses fisiologi (fotosintesis, respirasi, dan transpirasi), pertumbuhan dan reproduksi (pembungaan, pembentukan buah, dan biji) dan sebagainya. Hubungan tumbuhan dengan faktor lingkungan iklim merupakan hubungan yang tidak terpisahkan dan bersifat menyeluruh (holocoenotik).

Kebutuhan tumbuh-tumbuhan akan cahaya matahari berkaitan pula dengan energi dan suhu udara yang ditimbulkannya. Terdapat 4 kelompok vegetasi yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan di habitatnya, yaitu kelompok vegetasi atau tumbuhan megatermal (tumbuhan menyukai habitat bersuhu panas sepanjang tahun, misalnya tumbuhan daerah tropis), mesotermal (tumbuhan yang menyukai lingkungan yang tidak bersuhu terlalu panas atau terlalu dingin), mikrotermal (tumbuhan yang menyukai habitat bersuhu rendah atau dingin, misalnya tumbuhan dataran tinggi atau habitat subtropis) dan hekistotermal yaitu tumbuhan yang terdapat di daerah kutub atau alpin.

Dalam kaitan dengan lamanya penyinaran (fotoperiodisitas) terdapat 3 kelompok vegetasi yang mempunyai respon terhadap proses pembungaan. Yaitu kelompok tumbuhan berhari pendek (fotoperiodisitas) (fotoperiodisitas kurang dari 12 jam/hari), misalnya ubi jalar: tumbuhan berhari panjang (periodisitas lebih dari 12 jam/hari), misalnya kentang; dan tumbuhan netral, yaitu tumbuhan yang pembungaannya tidak dipengaruhi lamanya penyinaran, tumbuhan berbunga sepanjang tahun, misalnya ubi kayu atau tembakau.

Air sebagai komponen lingkungan abiotik merupakan faktor ekologi yang penting selain cahaya, suhu dan kelembaban udara, merupakan hasil proses presipitasi uap air yang sebagian besar jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk curah hujan. Ketersediaan air per tahun sangat menentukan keberadaan, sebaran dan berbagai proses biologi masyarakat tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.

Terdapat jenis-jenis tumbuhan yang telah beradaptasi dengan ketersediaan air dan curah hujan di habitatnya, yaitu tumbuhan hidrofita, tumbuhan yang hidup pada habitat perairan atau akuatik, misalnya eceng gondok (Eichhornia crassipes); tumbuhan xerofita, tumbuhan yang hidup di habitat beriklim kering, misalnya pohon pinus (Pinus merkusii); dan tumbuhan mesofita, yaitu tumbuhan yang hidup di habitat yang ketersediaan airnya tidak berlebihan atau kekurangan, misalnya pohon asam (Tamarindus indica).

Hubungan tumbuh-tumbuhan dengan udara atmosfir pada umumnya berkaitan dengan gas CO2, O2, dan angin. Tumbuh-tumbuhan berperanan penting dalam siklus karbon yang berhubungan dengan ketersediaan CO2 dan O2 dalam proses fotosintesis dan respirasi makhluk hidup. Gerakan udara sebagai angin mempunyai peranan ekologis dapat menguntungkan maupun merugikan, misalnya terhadap penyebaran serbuk sari, spora atau biji-bijian. Sebaliknya jika kecepatan angin terlalu besar dapat menyebabkan penurunan berbagai proses metabolisme, tumbuhan menjadi layu atau mati.

Hubungan masyarakat tumbuhan dengan makhluk hidup lainnya terjadi dalam bentuk hubungan antara tumbuh-tumbuhan dengan tumbuhan lainnya, antara tumbuh-tumbuhan dengan hewan, tumbuhan dengan mikrobiota (parasit dan biota pengurai) dan antara tumbuhan dengan manusia

Hubungan tumbuh-tumbuhan dengan makhluk hidup lain pada dasarnya merupakan hubungan di mana tumbuh-tumbuhan dimanfaatkan sebagai makanan atau sumber energi (hubungan herbivori, parasitik, dan saprofitik), sebagai substrat atau habitat dan hubungan ketergantungan (hubungan epifit, tumbuhan pencekik, atau liana)

Hubungan tumbuhan dengan tumbuhan terdapat dalam bentuk kompetisi akan berbagai kebutuhannya seperti substrat tempat tumbuh atau ruang.

2.3.1 Pengaruh Lingkungan

Faktor – faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman. Hal ini dapat terlihat langsung pada vegetasi hutan bakau yang tumbuh di pantai berlumpur. Bakau mempunyai akar napas. Begitu pula tumbuhan yang tumbuh pada ekosistem rawa, mempunyai akar papan. Ini semua ada maksudnya, dan terkandung makna bahwa tumbuhan itu juga menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh di sekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan semacam zat kimia yang dapat bersifat racun bagi jenis tertentu yangg disebut allel. Pengaruh jenis tumbuhan terhadap jenis tertentu, di mana jenis tumbuhan tersebut mempunyai sifat allelopait.

Pengaruh tanaman sesama tanaman itu dapat dipelajari hubungan interaksi yang dapat saling menguntungkan sepereti tanaman pelindung. Ada yang satu untung yang lain tidak, ada yang tidak memberikan pengaruh apa – apa..

 

 

 

2.4  ADAPTASI POHON TROPIS TERHADAP STRES KELEMBABAN

 

Definisi dan Pengertian dari Adaptasi berkaitan dengan bagaimana kemampuan pohon untuk menyesuaikan diri secara fisiologis agar bertahan hidup, tumbuh baik, dan tahan hidup terhadap hama serta lingkungan yang merugikan. Untuk jenis eksotik dapat diartikan bagaimana pohon akan berdampak baik pada lingkungan barunya.

 

Salah satu faktor yang dapat menentukan kemampuan pohon beradaptasi dengan lingkungannya adalah sifat genetik. Ada pohon yang secara genetik dapat beradaptasi pada tempat-tempat yang ekstrim tetapi ada yang tidak dapat beradaptasi.

 

Secara ekologi kemampuan adaptasi dari pohon sangat beragam, ada pohon yang tersebar dalam kisaran range suhu yang luas tetapi ada pohon yang tersebar dalam kisaran range suhu yang sempit. Misalnya pohon tersebut hanya dapat hidup pada daerah tropis saja, tetapi ada pohon yang bisa hidup pada daerah tropis, subtropis bahkan pada daerah kutub yang sangat dingin.

 

Pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti temperatur akan pada umumnya akan menunjukkan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhannya. Setiap tumbuhan memiliki adaptasi terhadap perubahan temperatur seperti tumbuhan tropis yang peka terhadap temperatur tinggi namun tidak peka terhadap temperatur yang mencapai titik beku

 

Pada umumnya pertumbuhan akan semakin meningkat seiring dengan terjadinya peningkatan temperatur sampai batas 31ºC. Jika tanaman tumbuh pada temperatur lebih dari 31ºC atau 35ºC, maka penurunan aktivitas akan berkurang. Namun beberapa tumbuhan mampu terhadap toleransi suhu yang tinggi. Sementara jika terjadi penurunan suhu, maka terjadi penurunan pertumbuhan dan metabolisme. Bahkan tanaman akan berhenti tumbuh ketika berada pada temperatur beku

 

Efek yang terjadi pada tumbuhan yang berada pada temperatur tinggi adalah terjadinya peningkatan reaksi kimiawi dan akan menurun secara eksponesial ketika mencapai batas maksimal toleransi terhadap temperatur tinggi. Hal ini dikarenakan enzim-enzim yang mengakatalis reaksi-reaksi kimiawi dipengaruhi oleh temperatur .

BAB III.

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

 

  • Ekosistem hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam.
  • Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
  • Tipe ekosistem hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.
  • Apabila dilihat perkembangan vegetasi yang ada di daerah pantai (litoral), maka sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi, yaitu formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.
  • Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor ekologi sangat beragam, secara sendiri sendiri atau dalam bentuk kombinasi, saling bercampur dan mempengaruhi satu sama lain yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.
  • Adaptasi berkaitan dengan bagaimana kemampuan pohon untuk menyesuaikan diri secara fisiologis agar bertahan hidup, tumbuh baik, dan tahan hidup terhadap hama serta lingkungan yang merugikan. Untuk jenis eksotik dapat diartikan bagaimana pohon akan berdampak baik pada lingkungan barunya

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

  1. Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

 

  1. Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

 

  1. Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California.

 

 

  1. Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.

 

  1. http://google.com/formasihutan

 

 


LAPORAN  PRATIKUM DENDROLOGI

CONIFERALES DAN CYCADALES

 

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING :

Dr.Ir. HAMZAH . M.si

 

 

DISUSUN OLEH :

YOGA RANANDA

D1D011118

 

 

 

JURUSAN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.LATAR BELAKANG

 

Gymnospermae artinya tumbuhan biji telanjang atau biji terbuka. Istilah ini digunakan karena bakal biji tumbih-tumbuhan ini tidak tertutup oleh daun buah. Berdasarkan catatan geologis dalam kerangka waktu teori evolusi, tumbuhan gymnospermae sudah muncul pada zaman karbon atau kira-kira 345 juta tahun yang lalu. Sebagian besar anggota gymnospermae sudah menjadi fosil. Pada umumnya semua Gymnospermae mempunyai habitus sebagai perdu dan pohon tidak ada yang berupa herba. Jumlah spesiesnya mencapai720 spesies.

 

Tumbuhan Biji Terbuka (Pinophyta atau Gymnospermae)  Tumbuhan biji terbuka adalah tumbuhan yang bijinya tidak ditutup oleh bakal buah. Berdasarkan fosil yang ditemukan, tumbuhan ini sudah ada sejak 345 juta tahun lalu. Sebagian besar anggotanya sudah menjadi fosil.

 

Gymnospermae merupakan tunbuhan yang juga memiliki jaringan pembuluh, yaitu xylem dan floem. Gymnospermae memiliki beberapa ordo, meliputi 3 ordo yang telah punah yaitu Pteridospermae, Bennetiales, dan cordaitales. Sedangkan 4 ordo lagi merupakan Gymnospermae masa kini, yaitu ordo Cycadales, Ginkgoales, Coniferales, dan Gnetales.

 

Pada pratikum kali ini, kami membahas mengenai ordo cycadales dan coniferales. Bentuk dan bagaimana ciri dari masing-masing ordo tersebut.

 

 

 

 

1.2.TUJUAN

 

  • Untuk mengetahui perbedaan-perbedaan antara satu family
  • Untuk mengetahui bagaiman ciri-ciri morfologi dari satu tumbuhan.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Ciri-ciri tumbuhan biji terbuka adalah:

 

  1. Pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar
  2. Bentuk perakaran tunggang
  3. Daun sempit, tebal dan kaku
  4. Tulang daun tidak beraneka ragam
  5. Tidak memiliki bunga sejati
  6.  Alat perkembangbiakannya berbentuk kerucut yang disebut strobilus atau runjung.
  7. Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.

 

Coniferales

Coniferales artinya tumbuhan pembawa kerucut, karena alat reproduksi jantan atau betina berupa strobilus. Ada dua strobilus, yaitu strobilus biji atau strobilus betina dan strobilus jantan strobilus serbuk sari.seperti halnya tumbuhan gymnospermae yang lain. Meskipun Coniferales banyak ditemukan pada zaman sekarang, sebenarnya merupakan tumbuhan purba yang pernah hidup dominant pada zaman karbon atas ( 345 juta tahun lalu). Anggota Coniferales merupakan tumbuhan `evergreen` (selalu hijau ).

Adapun ciri umum ordo Coniferales adalah

  1. Tanaman berupa pohon, daun berbentuk jarum, serta ada yang berumah satu dan berumah dua.
  2. Pohon pinus dan cemara banyak hidup di Eropa bagian pegunungan. Di Eropa tanaman pinus dan cemara disebut evergreen, artinya daunnya tetap hijau sepanjang masa.

Ordo Coniferales memiliki 4 famili, yaitu:

  1. Familia Araucariaceae

Genus : Araucaria, Agathis

Ciri-ciri familia Araucariaceae:

1) Evergreen trees, mengandung resin.

2) Daun tersusun spiral atau 2 tingkat, kaku, serupa paku, linear atau ovatus, sering meruncing.

3) Strobilus uniseksualis, terminalis atau aksilar.

Strobilus jantan dgn banyak mikrosporofil masing-masing dengan 4-19 mikrosporangia. Strobilus betina mirip gada atau bulat, dengan ovulum soliter dengan bagian memipih serupa sayap.

4) Kecambah dengan 2-4 cotyledon.

Contoh : Araucaria sp. dan Agathis alba

Araucaria sp.:

Agathis alba:

  1. Familia Podocarpaceae

Ciri-ciri familia Podocarpaceae :

1) Terdapat di belahan bumi selatan.

2) Perdu atau pohon; daun tersusun spiral atau berseling, bentuk menyerupai sisik, serupa jarum sampai lancealatus.

3) Strobilus uniseksualis, dioecious, aksilaris

Strobilus jantan berbentuk conus dengan banyak mikrosporofil, dua mikrospangia pada tiap mikrosporofil. Strobilus betina hanya memiliki satu sampai beberapa ovuli yang soliter, sering dengan pembungkus sukulen epimatium (homolog dengan sisik pembawa ovuli) atau tertanam dalam arilus bentuk cawan (Phyllocladus).

4) Mikropil pada Podocarpus menghadap ke bawah.

Contoh : Podocarpus imbricatus, Podocarpus polystachyus

Podocarpus sp betina dan jantan

  1. Familia Pinaceae

Genus : Pinus

Ciri-ciri familia Pinaceae :

1) Pohon berkayu, strobilus bentuk conus.

2) Daun bentuk jarum & berkelompok atau serupa sisik, daun dan sisik tersusun spiral, sisik dan braktea lepas.

3) Tiap sisik dengan dua (2) biji bersayap.

4) Strobilus jantan dan betina dalam satu pohon; strobilus jantan lebih kecil dari pada strobilus betina (berkayu), terletak aksilaris.

5) Penyerbukan & penyebaran biji dengan bantuan angin.

6) Serbuk sari dengan dua gelembung udara.

7) Cotyledon banyak.

Contoh : Pinus merkusii

Strobilus betina pada Pinus merkusii

Klasifikasi       :           Pinus
Divisi               :           Coniferophyta
Kelas               :           Pinopsida
Bangsa                        :           Pinales
Suku                :           Pinaceae
Marga              :           Pinus
Jenis                :           Pinus merkusii

  1. Familia Cupressaceae

Genus : Cupressus

Ciri-ciri familia Cupressaceae :

1) Daun bentuk sisik dan tersusun berhadapan atau berseling, sisik dan braktea bersatu.

2) Tiap braktea dengan sejumlah biji kecil tanpa sayap.

3) Strobilus jantan dan betina dalam satu pohon, strobilus jantan berbentuk kerucut, strobilus betina berbentuk bulat, terletak aksilaris.

4) Penyerbukan & penyebaran biji dengan bantuan hewan.

5) Cotyledon banyak.

Contoh : Cupressus sp., Juniperus communis, Thuja gigantean

Cupressus sp.

Contoh tumbuhan Coniferales :

Agathis alba (damar), Pinus merkusii (pinus), Cupressus sp., Araucaria sp., Sequoia sp., Juniperus sp. dan Taxus sp.

Manfaat:

Tumbuhan dari ordo ini banyak dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya, batang pinus digunakan untuk bahan industri kertas dan korek api. Sedangkan damar digunakan untuk minyak terpentin dan obat – obatan. Selain itu, cemara juga dapat digunakan sebagai tanaman hias.

 

Cycadales,

Ordo ini dicirikan dengan bentuk dan susunan daun yang mirip dengan pohon palem. Batang tidak bercabang, akar serabut, dan ujung daun mudanya menggulung seperti daun tumbuhan paku muda, termasuk dalam tumbuhan berumah dua. Alat kelamin jantan dan alat kelamin betina terdapat pada pohon yang berbeda. Pohon jantan mempunyai tongkol dengan kotak-kotak berisi serbuk sari. Pohon betina membentuk daun buah yang pipih yang pada lekukan tepi daun buah terdapat bakal biji.Ordo ini beranggotakan sembilan genus yang masih hidup sampai sekarang dan meliputi sekitar 100 spesies. Meskipun tumbuhan ini tidak ditemukan dalam fosil diduga sudah muncul pada zaman trias sampai kapur awal. Tanda-tanda khas golongan ini adalah batang tidak bercabang, daun majemuk tersusun sebagai tajuk di pucak pohon. Cycadales baik ditemukan baik di wilayah tropic maupun subtropik, misalnya Zamia dan Cycas rumphii (pakis haji).

 

 

Adapun ciri – ciri umum dari ordo Cycadales adalah :

  1. Berupa pohon, seperti kelapa sawit dengan pertulangan daun sejajar. Batang tidak bercabang, daunnya majemuk, tersusun sebagai tajuk di puncak pohon.
  2. Berumah dua, artinya ada tanaman jantan yang menghasilkan strobilus jantan dan tanaman betina yang menghasilkan strobilus betina pada tanaman yang berbeda.
    Anggota ini menghasilkan strobilus yang besar. Meskipun demikian, rata – rata reproduksinya rendah. Dari 15 – 20 strobilus yang dihasilkan tumbuhan Cycas jantan, hanya satu atau dua saja yang siap melepaskan serbuk sarinya. Strobilus jantan ini menghasilkan aroma yang membuat serangga tertarik untuk datang. Setelah datang, serangga tersebut akan memakan strobilus dan berkembang biak. Pada saat yang sama, strobilus betina menghasilkan bau yang dapat mengusir serangga yang datang kepadanya. Setelah beberapa waktu, strobilus betina menghasilkan aroma yang justru menarik serangga yang berasal dari strobilus jantan. Sambil membawa mikrospora dari strobilus jantan, serangga tersebut menuju strobilus betina dan terjadilah polinasi.
  3. Daun berbagi menyirip, tersusun roset batang, daun muda menggulung.
  4. Mirip palma berkayu berbentuk pohon atau semak.
  5. Strobilus terminalis, uniseksualis, dioecious.
  6. Strobilus jantan mengandung banyak sekali mikrosporofil yang tersusun spiral dengan mikrosporangia pada permukaan bawah.
  7. Gamet jantan (spermatozoid) motil, di lingkungan air, penting untuk penyerbukan.
  8. Jumlah ovuli dua atau lebih pada tiap megasporofil.
  9. Megasporofil mirip bulu ayam, tersusun longgar di ujung batang atau tersusun rapat dan kompak.

PAKIS HAJI

Klasifikasi Pakis Haji

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio : Cycadophyta (sikas)

Kelas : Cycadopsida

Ordo : Cycadales

Familia : Cycadaceae

Genus : Cycas

Spesies : Cycas rumphii Miq

 

Pakis haji berbentuk seperti kelapa sawit dan sering digunakan untuk tanaman hias. Jenis ini dapat ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Pakis haji (aji) atau populer juga dengan nama sikas adalah sekelompok tumbuhan berbiji terbuka yang tergabung dalam marga pakis haji atau Cycas dan juga merupakan satu-satunya genus dalam suku Cycadaceae.

Pakis haji berhabitus mirip palem, namun sebenarnya sangat jauh kekerabatannya. Kemiripan ini berasal dari susunan anak daunnya yang tersusun berpasangan. Semua pakis haji berumah dua (dioecious) sehingga terdapat tumbuhan jantan dan betina. Serbuk sari dihasilkan oleh tumbuhan jantan darirunjung besar yang tumbuh dari ujung batang. Alat betina mirip daun dengan biji-biji tumbuh dari samping. Alat betina tumbuh dari sela-sela ketiak daun. Walaupun ia disebut “pakis”, dan daun mudanya juga mlungkerpakis sejati, pakis haji sama sekali bukan anggota tumbuhan berspora tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PRATIKUM

 

3.1. WAKTU DAN TEMPAT

            Adapun pratikum dendrologi ini dilaksanakan pada tanggal 31 oktober 2012, pada hari rabu yang bertempat di laboratorium sumber daya hutan pada pukul 12.30 samapai dengan selesai.

 

 

3.2. ALAT DAN BAHAN

           

ALAT

  • BUKU GAMBAR A3
  • ALAT TULIS
  • GUNTING
  • SLOTIP

 

BAHAN

  • KELAPA
  • SAWIT
  • PINANG
  • MELINJO
  • AGATHIS ALBA
  • SALAK
  • PINUS

 

3.3.  PROSEDUR KERJA

  1. Disiapkan alat dan bahan
  2. Ditempatkan objek pada buku gambar
  3. Dituliskan klasifikasi masing-masing pada objek
  4. Diamati dan ditulis

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

NO

GAMBAR

PEMBAHANSAN

1

 

 

Tanaman ini termasuk paada tanaman coniferales dan termasuk kedalam familia araucariaceae. Pinang merah ini bijinya bijinya bewarna merah dan bentuk daunnya sama dengan bentuk pinang  biasa.

2

 

 

Kelapa termasuk pada tanaman cycadales yang jumlah ouli dua atau lebh pada tiap megasporofil.

3

 

 

Cemara termasuk kepada tanamana coniferales yang pohonnya berkayu yang bentuk daunnya menjarum.

 

4

 

 

Pinus termasukpada tanaman coniferales. Pada familia pinaceae, pohonnya berkayu yang bentuk daunnya jarum berkelompok atau serupa sisik sebuksari dengan dua gelembung udara.

 

 

 

 

NO

GAMBAR

PEMBAHASAN

5

 

 

 

Tanamn melinjo ini termasuk tanaman cycadales yang mirip palma berbentul pohon semak.

 

6

 

 

Tanamn aren ini termasuk tanaman cycadales beruoa pohon dengan pertunangan daun sejajar . batang tidak bercabang daunnya majemuk

 

 

 

7

 

 

Tanaman damar ini termasuk tanaman coniferales dan termasuk kedalam tanaman yang berfamili Arau canaceae yang mengandung resin. Daun tersusun spiral atau 2 tingkat.

 

 

8

 

 

Tanaman kelapa sawit ini termasuk tanaman cycadales. Pertulangan daunnya sejajar batang dan daunnya majemuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

KLASIFIKASI

 

  1. CAMARA

 

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Coniferophyta

Kelas               :  Pinopsida

Ordo                :  Pinales

Famili              :  araucarlaceae

Genus              :  Araucaria

Spesies            :  Araucaria heterophyta

 

  1. PINANG MERAH

 

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Liliopsida

Ordo                :  Aracales

Famili              :  Aracaceae

Genus              :  Cyrtantachya

Spesies            :  Cyrtantachya lakka

 

  1. AREN

 

Kingdom         :  Palantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Liliopsida

Ordo                :  Aracales

Famili              :  Aracaceae

Genus              :  Arenga

Spesies            Arenga  pinnata

 

  1. KELAPA

 

Kingdom         :  Palantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Liliopsida

Ordo                :  Aracales

Famili              :  Aracaceae

Genus              :  Cocos

Spesies            Cocos  nurifera

 

  1. DAMAR

 

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Coniferrohyta

kelas                :  Pinopsida

Ordo                :  pinales

Famili              :  Araucaria

Genus              :  Agathis

Spesies            :  Agathis damara

 

  1. MELINJO

 

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Gnetophyta

Kelas               :  Gnetapsida

Ordo                :  Gnetelese

Famili              :  Gnetoceae

Genus              :  Gnetum

Spesies            :  Gnetum gnemon

 

  1. KELAPA SAWIT

 

Kingdom         :  Palantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Liliopsida

Ordo                :  Aracales

Famili              :  Aracaceae

Genus              :  Elacia

Spesies            Elacia  guinensis

 

  1. PINUS

 

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Coniferrohyta

kelas                :  Pinopsida

Ordo                :  pinales

Famili              :  Pinaceae

Genus              :  Pinus

Spesies            :  Pinus merkusi

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Adapun  kesimpulan pada pratiku kali ini ialah :

  • Coniferales artinya tumbuhan pembawa kerucut, karena alat reproduksi jantan atau betina berupa strobilus. Ada dua strobilus, yaitu strobilus biji atau strobilus betina dan strobilus jantan strobilus serbuk sari
  • Cycadales Ordo ini dicirikan dengan bentuk dan susunan daun yang mirip dengan pohon palem. Batang tidak bercabang, akar serabut, dan ujung daun mudanya menggulung seperti daun tumbuhan paku muda, termasuk dalam tumbuhan berumah dua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Djamuri,edje.dkk.2000. DIKTAT KULIAH DENDROLOGI. Laboratorium ekolog hutan. ITB Bogor

 

  • Soepomo.1987. MORFOLOGI TUMBUHAN. Pt.Gajah Muda University Press. YOGYAKARTA

 

 

 


LAPORAN  PRATIKUM DENDROLOGI

TAKSONOMI TUMBUHAN

DOSEN PEMBIMBING :

Dr.Ir. HAMZAH . M.si

DISUSUN OLEH :

YOGA RANANDA

D1D011118

JURUSAN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG

Pada kehidupan sehari– hari secara tidak sadar kita selalu dikaitkan dengan tumbuhan, terutama pada buah yang biasanya kita konsumsi.Bunga  dan buah merupakan bagian dari timbuhan yang sangat penting yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Karena bunga merupakan suatu alat untuk melakukan perkembangbiakan tumbuhan untuk menjadi individu baru, sedangkan buah adalah hasil dari proses pembuatan makanan pada tumbuhan tersebut atau merupakan cadangan makanan bagi tumbuhan itu sendiri.

Bunga selalu mengalami modifikasi yang disebabkan oleh enzim – enzim tertentu. Sedangkan pada pembentukan buah ada kalanya bagian bunga selaian bakal buah ikut tumbuh dan merupkan suatu bagian buah.

Untuk mengidentifikasi sebuah pohon dapat dilakukan dengan berbagai cara. Adapun cara yang paling populer dan paling kurang ilmiah ialah emmbandingkan atau menyamakan tumbuan yang ingin diketahui itu dengan gambar-gambar didalam manual atau dengan aterial he rbariumn ang sudah diketahui identitasnya. Cara yang paling cepat dan paling memuaskan etntunya adalah pergi ke lapangan secara langsung dengan bersama seseorang yang mengetahui benar-benar berbagai jenis tumbuhan.

Dalam cara identifikasi sebuah tumbuhan dapat kita miliki apabila terampil dalam menggunakan sebuah buku kuncinyang menyajikan alat untuk menempatkan bentuk-bentuk yang telah dilupakakn natau menemukan identitas baru

1.2.TUJUAN

  • Untuk mengidentifikasi jenis-jenis daun yang tunggal dan amjemuk
  • Untuk mengetahui tata daun pada tumbuihan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Taksonomi tumbuhan  adalah ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh, pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan. Ilmu ini merupakan cabang dari taksonomi.

Taksonomi tumbuhan) sering kali dikacaukan dengan sistematika tumbuhan dan klasifikasi tumbuhan. Klasifikasi tumbuhan adalah bagian dari taksonomi tumbuhan. Sistematika tumbuhan adalah ilmu yang berkaitan sangat  erat dengan taksonomi tumbuhan. Namun demikian, sistematika tumbuhan lebih banyak mempelajari hubungan tumbuhan dengan proses evolusinya. Dalam sistematika bantuan ilmu seperti filogeni dan kladistika banyak berperan. Di sisi lain, taksonomi tumbuhan lebih banyak mempelajari aspek penanganan sampel-sampel (spesimen) tumbuhan dan pengelompokan (klasifikasi) berdasarkan contoh-contoh ini.

Ilmu taksonomi tumbuhan mengalami banyak perubahan cepat semenjak digunakannya berbagai teknik biologi molekular dalam berbagai kajiannya. Pengelompokan spesies ke dalam berbagai takson sering kali berubah-ubah tergantung dari sistem klasifikasinya.

Klasifikasi tumbuhan adalah pembentukan kelompok-kelompok dari seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat disusun takson-takson secara teratur mengikuti suatu hierarki.Sifat-sifat yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi berbeda-beda tergantung orang yang mengadakan klasifikasi dan tujuan yang ingin dicapai dengan pengklasifikasian itu.

Takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) yang lebih rendah mempunyai kesamaan sifat lebih banyak daripada takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) di atasnya.Perbedaan antara istilah takson dengan kategori yaitu istilah takson yang ditekankan adalah pengertian unit atau kelompok yang mana pun, sedangkan istilah kategori yang ditekankan adalah tingkat atau kedudukan golongan dalam suatu hierarki tertentu.Dalam taksonomi tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu nama takson sekaligus menunjukkan pula tingkat takson (kategori).

Ada tiga sistem klasifikasi dalam taksonomi tumbuhan yaitu sistem klasifikasi buatan, sistem klasifikasi alam, dan sistem klasifikasi filogenetik.Berdasarkan sejarah perkembangannya ketiga sistem klasifikasi tersebut dibagi menjadi empat periode yaitu periode sistem habitus, periode sistem numerik, periode sistem alam, dan periode sistem filogenetik.

Keanekaragaman Tumbuhan

Kata keanekaragaman merupakan ungkapan untuk menggambarkan keadaan bermacam-macam suatu benda, yang dapat terjadi akibat adanya perbedaan dalam hal ukuran, bentuk, tekstur ataupun jumlah dan sifat yang nampak pada berbagai tingkatan organisasi kehidupan seperti ekosistem, jenis, dan genetik. Nilai keanekaragaman ditentukan dengan menggunakan angka indeks.Dapat dikatakan bahwa keanekaragaman merupakan suatu gejala yang dapat diamati dan bersifat universal (umum).

Keanekaragaman atau keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat lainnya. Sedangkan keanekaragaman dari makhluk hidup dapat terlihat dengan adanya persamaan ciri antara makhluk hidup.

Teori Lamarck dan teori Darwin mengatakan menjelaskan bahwa jenis-jenis tumbuhan maupun hewan yang ada di muka bumi ini dari masa ke masa perlahan-lahan akan berubah bentuk kebentuk lainnya. Tidak ada satu macam jenis tumbuhan yang bentuknya tetap, mlainkan dari masa ke masa akan mengalami perubahan. Melalui evolusi dari bentuk lama akan dihasilkan bentuk-bentuk baru yang mungkin bahkan menyimpang dari bentuk-bentuk sebelumnya.

Kenekaragaman dapat terjadi akibat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik atau   faktor keturunan adalah sifat dari makhluk hidup itu sendiri yang diperoleh dari induknya. Faktor genetik ditentukan oleh gen atau pembawa sifat. Faktor lingkungan adalah faktor dari luar makhluk hidup yang meliputi lingkungan fisik, lingkungan kimia, dan lingkungan biotik. Lingkungan biotik misalnya suhu, kelembapan cahaya, dan tekanan udara. Lingkungan kimia misalnya makanan, mineral, keasaman, dan zat kimia buatan. Lingkungan biotik misalnya microoaganisme, tumbuhan,   hewan, dan manusia..

Keberadaan jumlah makhluk hidup yang luar biasa banyaknya dan semakin beranekaragam, akhirnya memunculkan disiplin ilmu dalam biologi yang disebut dengan taksonomi. Bergantung obyek yang diteliti, bilamana obyeknya adalah hewan maka diistilahkan sebagai taksonomi hewan, jika obyeknya tumbuhan maka ilmunya disebut taksonomi tumbuhan dan lain sebagainya.Penggunaan istilah taksonomi dan sistematik seringkali digunakan/ dimaknai sama, tetapi ada pula yang sedikit membedakannya.

 

 

 

 

BAB III

METODE PRATIKUM

3.1. WAKTU DAN TEMPAT

Adapun pratikum dendrologi ini dilaksanakan pada tanggal 24 oktober 2012, pada hari rabu yang bertempat di laboratorium sumber daya hutan pada pukul 12.30 samapai dengan selesai.

3.2. ALAT DAN BAHAN

ALAT

  • BUKU GAMBAR A3
  • ALAT TULIS
  • GUNTING
  • SLOTIP

BAHAN

  • DAUN KEMBANG MERAK
  • DAUN MAHONI
  • DAUN SAWO DUREN
  • DAUN PUTRI MALU
  • DAUN KACANG TANAH
  • DAUN NANGKA
  • DAUN SUKUN
  • DAUN TERAP
  • DAUN CEMPEDAK

3.3.  PROSEDUR KERJA

  1. Disiapkan alat dan bahan
  2. Ditempatkan objek pada buku gambar
  3. Dituliskan klasifikasi masing-masing pada objek
  4. Diamati dan ditulis

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

NO GAMBAR PEMBAHANSAN

Daun mahoni ini termasuk kedalam daun majemuk menyirip ganda 1.

Teridentifikasi sebagai daun mejemuk menyorip ganda 1, karena bentuknya menyirip dan dalam satu tangkai hanya terdapat 1 daun saja.

Daun kembang merak termasuk kedalam daun majemuk menyirp ganda 2.

Dalam mengidentifikasinya daun ini bisa langsung  teridentifikasi daun menyorip ganda 2, karena bentuknya menyirip dan banyak daun.

Daun kacang tanah termasuk daun majemuk menyirip ganda 2.

Daun tanaman ini buahnya mengalami pemasakan dibawah permukaaan tananh,yang tumbuhnya kearah samping.

Daun putri malu termasuk daun majemuk menyirip ganda 2.

Daun putri malu ( Mimossa pudica ) daun yang dalam satu tangkai daun terdapat beberapa daun

NO GAMBAR PEMBAHASAN

Daun sawo duren temasuk daun tunggal alternate.

Bagian bawah coklat yang genusnya diospyros

Daun nangka termasuk kedalam daun tunggal alternate.

Bagian bawahnya hijau yang genusnya artocarpus, yang dapat pula menjadi Artocarpus atilis.

 

 

 

Daun suku termasuk kedalam daun alternate.

Bagian bawahnya hijau yang termasuk daun tunggal. Dalam 1 tangkai daun hanya terdapat 1 daun saja .

Daun suku ini termasuk kedalam genus Artocarpus sama seperti cempedak, terap dan keluwih.

Daun cempedak termasuk daun tunggal alternate.

Daun tunggal alternate bagian bawanya hijau dan pengklasifikasiannya termasuk dalam genus Artocarpus.

Daun terap ada 2 macam, yaitu :

  • Daun terap nagka
  • Daun yerap yang berbentuk daunnya seperti dau sukun.

Daun ini termasuk kedalam genus Artocarpus

.

KLASIFIKASI

1.DAUN MAHONI

Kingdom         :  Plantae

Ordo                :  Sapindales

Famili              :  Maliaceae

Genus              :  switetenia

Spesies            :  Swietenia marcophylla

2.SAWO

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Ebenales

Famili              :  Ebenaceae

Genus              :  Diospyros

Spesies            :  Diospyros digyna

3.KEMBANG MERAK

Kingdom         :  Palantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Fabales

Famili              :  Caesalpiniaceae

Genus              :  Caesalpinia

Spesies            Caesalpinia  pulcherrima

4.NANGKA

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Fosales

Famili              :  Maraceae

Genus              :  Artocarpus

Spesies            :  Artocarpus heterophllus

5.KACANG TANAH

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Tracheophyta

subdivisi          :  Angiospermae

kelas                :  Magnoliophyta

Famili              :  Papilionaceae

Genus              :  Arachis

Spesies            :  Arachis hypogea

6.SUKUN

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Rosales

Famili              :  Maraceae

Genus              :  Artocarpus

Spesies            :  Artocarpus altilis

7.PUTRI MALU

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Fabales

Famili              :  Fabaceae

Genus              :  Mimosa

Spesies            :  Mimosa pudica

8.TERAP

Kingdom         :  Plantae

Divisi               :  Magnoliophyta

Kelas               :  Magnoliopsida

Ordo                :  Moraales

Famili              :  Moraceae

Genus              :  Artocarpus

Spesies            :  Artocarpus odoratissimus

BAB V

KESIMPULAN

Adapun  kesimpulan pada pratiku kali ini ialah :

  • Dalam 1 genus terdapat pula berbagai macam spesies
  • Daun tunggal alternate bagian bawah hijau ada, terap, sukun, nangka dan keluwih
  • Daun tunggal alternate bagian bawah cokelat ada sawo duren
    • Taksonomi tumbuhan  adalah ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh, pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan. Ilmu ini merupakan cabang dari taksonomi.

DAFTAR PUSTAKA

  • Djamuri,edje.dkk.2000. DIKTAT KULIAH DENDROLOGI. Laboratorium ekolog hutan. ITB Bogor
  • Soepomo.1987. MORFOLOGI TUMBUHAN. Pt.Gajah Muda University Press. YOGYAKARTA

LAPORAN PRATIKUM DENDROLOGI

MORFOLOGI BUNGA DAN MORFOLOGI BUAH

DOSEN PEMBIMBING

Dr. Ir. HAMZAH, M.si

DISUSUSN OLEH

YOGA RANANDA

D1D1011118

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pada kehidupan sehari– hari secara tidak sadar kita selalu dikaitkan dengan tumbuhan, terutama pada buah yang biasanya kita konsumsi.Bunga  dan buah merupakan bagian dari timbuhan yang sangat penting yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Karena bunga merupakan suatu alat untuk melakukan perkembangbiakan tumbuhan untuk menjadi individu baru, sedangkan buah adalah hasil dari proses pembuatan makanan pada tumbuhan tersebut atau merupakan cadangan makanan bagi tumbuhan itu sendiri.

Bunga selalu mengalami modifikasi yang disebabkan oleh enzim – enzim tertentu. Sedangkan pada pembentukan buah ada kalanya bagian bunga selaian bakal buah ikut tumbuh dan merupkan suatu bagian buah.

Pada umumnya setelah terjadi pnyerbukan dan pembuahan bagian – bagian bunga selain bakal buah segera menjadi layu dan berguguran.

1.2    Tujuan

  • Mempelajari bermacam-macam sifat dan tipe bunga dan buah
  • Memepelajari bagian-bagian bunga dan buah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bunga

Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air.

Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf (“berbentuk bintang”, simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.

Pada suatu tumbuhan ada kalanya hanya terdapat satu bunga saja, misalnya bunga coklat. Tetapi biasanya tumbuhan dapat ditemukan banyaka bunga. Tumbuhan yanag menghasilkan satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga tunggal.

Berdasarkan tempat tumbuhnya  dibagi menjadi :

  1. Bunga pada ujung batang
  2. Bunga pada ketiak daun.

Bagian – bagian bunga  terdapat tangkai bunga, dasar bunga, dan hiasan bunga. Hiasan bunga terdiri dalam 2 lingkarang sususnannya, yaitu kelopak dan mahkota bunga.

Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga.

2.2 Buah

Pada pembentukan buah, ada kalanya bagian bungan selain bakal buah ikut dan merupakan suatu bagian buah, sedangkan umumnya segera setelah terjadi penyerbukan dan pembuahn bagian-bagian bunga selain bakal buah segera menjadi layu dan gugur. Dengan putik sendiri dengan tegas disebut hanya bakal buahnya, karena biasanya tangkai dan kepala putiknya gugur pula seperti halnya dengan bagian-bagian yang lain.

Bagian-bagian bunga yang kadang-kadang tidak gugur melinkan ikut tumbuh dan tinggal pada buah, biasanya tidak ikut mengubah bentuk dan sifar buah itu sendiri, jadi tidak merupakan suatu bagian buah yang penting, misalanya:

a)      Daun-daun pelindung. Pada tanaman jagung daun-daun pelindung bunga betina tidak gugur dan lebih kita kenal sebagai pembungkus tongkol jagung

b)      Daun-daun kelopak. Pada terong dan jambu, masih dapat kita lihat kelopak ikut pada bagian buah.

c)      Tangkai kepala putik. Juga bagian ini sering tinggal pada buah, misalnya jagung yangkita kenal sebagai rambut jagung, juga pada macam-macam jambu masih terlihat tangkai kepala putik di bagian ujung buah.

d)     Kepala putik. Buah yang masih mendukung kepala putik ialah buah manggis, yang sekaligus dapat pula menunjukan jumlah daun dan jumlah ruangan dalam buah manggis.

Buah yang semata-mata terbentuk dari bakal buah atau paling banyak padanya terdapat sisa-sisa bagian bunga yang lazimnya telah gugur itu, umumnya merupakan buah yang tidak terbungkus, jadi merupakan buah yang tekanjang (fruktus nodus). Buah ini juga dinamakan sebagai buah sejati atau buah sungguh.

Dalam pembicaraan sehari-hari buahnya benar seringkali tidak dikenal lagi. Apa yang dinamakan bututuahnya justru bagian bunga yang telah berubah sedemikian rupa, sehingga menjadi bagian buah yang penting. Bauh yang demikian dinamakan buah palsu atau buah semu (frutus spurius). Pada buah semu buah yang seseungguhnya seringkali tidak terlihat, karena itu buah semu juga dinamakan sebagai buah  tertutup (frutus calusus).

Pada umumnya buah hanya terbentuk sesudah terjadi penyerbuakan dan pembuahan pada bunga. Walaupun demikian mungkin pula terbentuk tanpa penyerbukan dan pembuahan, peristiwa yang demikian tersebut dinamakan partenokarpi (parthenocorpy). Buah yang terjadi seperti ini biasanya tidak mengadung biji atau jika ada bijinya tidak megandung lembaga, jadi bijinya tidak dapat dijadikan sebagai alat perkembangbiyakan. Pembentukan buah dengancarai ini lazim kita temui pada pohon pisang (Musa paradisiaca L.)

Mengikat urain di atas, buah pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :

a)      Buah semu atau buah tertutup, yaitu jika buah itu terbentuk dari bakal buah beserta bagian-bagian lainya pada bunga itu, yang malah menjadi bagian utama buah ini (lebih besar, lebih menarik perhatian dan seringkali nagain buah yang bermanfaat dapat dimakan) sedangkan buah yang aslinya kadang-kdang tersembunyi.

b)      Buah sugguh atau buah telanjang, yang melulu terjadi dari bakal buah dan jika ada bagian bunga lainya masih tinggal bagian ini tidak merupakan bagian buah yang berarti.

Penggolongan Buah Semu Buah semu dapat dibedakan dalam :

a)      Buah semu tunggal, yaitu buah semu yag terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah. Pada buah ini selain bakal buah ada bagain lain bunga yang ikut membentuk buah. Misalnya : Tangkai bunga. Pada buah jambu monyet (Anacardium occidental L.) Kelopak bunga pada buah ciplukan (Physalis minimal L.)

b)      Buah semu ganda, ialah jika pada satu bunga terdapat lebih dari satu bakal buah yang dapat tumbuh secara bebas satu sama lainya dan tumbuh menjadi buah.

c)      Buah majemuk, ialah buah semu yang terjadi dalam bunga majemuk, tetapi seluruhnya dari luar tampak seperti satu buah saja, misalnya buah nangka (Arcocarpus integra Merr.) dan buah keluwih (Artocapus communis Forst.)

Penggolongan Buah Sungguh (Buah Sejati)  Sama halnya dengan buah semu, buah sejari pertama-tama dapa dibedakan lebih dahulu kedalam 3 golongan, yaitu :

a)      Buah sejati tunggal, ialah buah sejati yang tersusun dari satu bunga dengan satu bakal buah saja, buah ini dapat berisi satu atau banyak biji dan satu atau banyak ruangan.

Contoh : Buah mangga (Mangifera indica L.) mempunyai satu ruang dan satu biji. Buah pepaya (Carica papaya L) yang terdiri dari satu ruang dan banyak biji di dalamnya. Buah durian (Durio zibethinus Murr.) yang terdiri dari banyak ruangan dan tiap ruang terdapat beberapa biji.

b)      Buah sejati ganda, yang terjadi dari satu bunga dengan beberapa bakal buah yang bebas satu sama lainya dan masing-masing bakal buah menjadi satu.

c)      Buah sejati majemuk, yaitu buah yang bersal dari satu bunga majemuk yang masing-masing bunga menjadi satu buah. Tetapi setelah menjadi buah tetap berkumpul sehingga seluruhnya nampak seperti satu buah saja.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1  Waktu dan tempat

Pratikum morfologi bunga dan buah ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 26 september 2012. Pada jam 12.30 WIB yang bertempat di laboratorium sumber daya hutan fakultas pertanian.

3.2  Alat dan Bahan

Alat

  • Buku gambar
  • Alat – alat tulis

Bahan

  • Bunga Kembang Sepatu
  • Bunga Dan Buah Nagka
  • Bunga Allamanda
  • Bunga Kembang Merak
  • Bunga Johar
  • Bunga Pisang
  • Bunga Mangga
  • Buah Bintaro
  • Buah Srikaya
  • Buah Tomat
  • Buah Buncis

2.3   Prosedur kerja

  1. Disiapkan alat dan bahan
  2. Dipisahkan bunga dan  buah yang di amati sesuai dengan ciri morfologi
  3. Digambar objek dengan bentuk morfologi
  4. Ditempel bunga dan  buah tersebut pada buku gamabar.

BAB V

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil pratikum ialah :

  • Tumbuhan memiliki tumbuhan yang buahnya berbiji tertutup dan biji terbuka.
  • Alat perkembangbiakan pada tumbuhan bentuk dan susunannya berbeda.
  • Bunga mempunyai alat kelamin jantan dan betina, namun apabila kedua alat kelamin terdapat dalam satu bunga disebut jiuga bung banci.
  • Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf (“berbentuk bintang”, simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.
  • Buah merupakan tempat terbentuknya embrio.
  • Bagian-bagian bunga yang kadang-kadang tidak gugur melinkan ikut tumbuh dan tinggal pada buah, biasanya tidak ikut mengubah bentuk dan sifar buah itu sendiri, jadi tidak merupakan suatu bagian buah yang penting
  • Pada umumnya buah hanya terbentuk sesudah terjadi penyerbuakan dan pembuahan pada bunga. Walaupun demikian mungkin pula terbentuk tanpa penyerbukan dan pembuahan

DAFTAR PUSTAKA

  • Yudianto, suroso adi. 1992. MENGERTI MORFOLOGI TUMBUHAN. Bandung
  • Titio soepomo. Gembang . 1986 . TAKSONOMI TUMBUHAN. Jogjakarta
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.115 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: