Latest Entries »

ILMU TANAH


ILMU TANAH

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING

Ir.ajidirman, MP

 

 

DISUSUN OLEH

YOGA RANANDA

D1D011118

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

PENGERTIAN TANAH

Menurut Ensiklopedi Indonesia

Tanah adalah campuran bagian – bagian batuan dengan material serta bahan organik yang merupakan sisa kehidupan yang timbul pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.

Menurut Pendekatan Ahli Geologi

Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus.

Menurut Hanafiah

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, dan Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

Menurut Darmawijaya (1990)

Tanah sebagai akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagain besar permukaan palnet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.

Menurut Soil Survey Staff  (1999)

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alam.

Menurut Schoeder (1972)

Tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman.

Menurut Jooffe dan Marbut (1949), dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat

Tanah adalah tubuh alam yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat-sifatnya dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat-sifat fisik maupun kehidupan biologinya.

Tanah adalah tubuh alamiah yang terdiri dari lapisan (horison tanah) dari unsur mineral ketebalan variabel, yang berbeda dari bahan induk dalam morfologi, fisik, kimia, dan karakteristik mineralogi.

Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari batuan induknya karena interaksi antara, hidrosfer atmosfer litosfer, dan biosfer . Ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organik yang dalam keadaan padat, gas dan air.

Partikel tanah pak longgar, membentuk struktur tanah yang penuh dengan ruang pori. Pori-pori mengandung larutan tanah (cair) dan udara (gas). Oleh karena itu, tanah sering diperlakukan sebagai sistem negara tiga.Tanah Kebanyakan memiliki kepadatan antara 1 dan 2 g / cm ³ .Tanah adalah. juga dikenal sebagai bumi itu adalah substansi dari planet kita yang mengambil namanya. Little komposisi tanah planet bumi adalah lebih tua dari Tersier dan paling tidak lebih tua dari Pleistosen . Dalam rekayasa, tanah disebut sebagai regolith, atau bahan batuan lepas. Tanah pembentukan faktor

Pembentukan tanah, atau pedogenesis, adalah efek gabungan proses fisik, kimia, biologi, dan antropogenik pada bahan induk tanah. Tanah genesis melibatkan proses yang mengembangkan lapisan atau horizon dalam profil tanah. Proses ini melibatkan penambahan, kerugian, transformasi dan translokasi bahan yang membentuk tanah. Mineral berasal dari batuan lapuk mengalami perubahan yang menyebabkan pembentukan mineral sekunder dan senyawa lainnya yang variabel larut dalam air, konstituen tersebut dipindahkan (translokasi) dari satu bagian tanah ke daerah lain dengan air dan aktivitas hewan. Perubahan dan pergerakan material di dalam tanah menyebabkan terbentuknya horison tanah yang khas.

Pelapukan batuan dasar yang menghasilkan bahan induk dari yang berbentuk tanah. Contoh pengembangan tanah dari batuan yang telanjang terjadi pada aliran lava baru-baru ini di wilayah hangat di bawah hujan lebat dan sangat sering. Dalam iklim seperti itu, tanaman menjadi sangat cepat didirikan pada lava basaltik, meskipun ada bahan organik sangat sedikit. Tanaman didukung oleh batuan berpori seperti diisi dengan air nutrisi-bantalan yang membawa, misalnya, mineral terlarut dan guano. Akar tanaman berkembang, sendiri atau berhubungan dengan jamur mikoriza,secara bertahap memecah lava berpori dan bahan organik terakumulasi segera.

Tapi bahkan sebelum itu terjadi, lava rusak terutama berpori di mana akar tanaman tumbuh dapat dianggap suatu tanah. Bagaimana tanah “kehidupan” hasil siklus dipengaruhi oleh sedikitnya lima tanah klasik membentuk faktor yang saling terkait secara dinamis dalam membentuk tanah dengan cara dikembangkan, mereka termasuk: bahan induk, iklim regional, topografi, potensi biotik dan berlalunya

Bahan dari yang membentuk tanah disebut bahan induk. Ini mencakup: lapuk batuan dasar primer; bahan sekunder diangkut dari lokasi lain, misalnya colluvium dan aluvium; deposito yang sudah ada tapi campuran atau diubah dengan cara lain – formasi tanah tua, bahan organik termasuk gambut atau humus alpine;. dan bahan antropogenik, seperti timbunan sampah atau tambang. Beberapa bentuk tanah langsung dari pemecahan bebatuan yang mendasarinya mereka kembangkan di. Tanah ini sering disebut “tanah residu”, dan memiliki kimia umum yang sama seperti batu orang tua mereka. Kebanyakan tanah berasal dari bahan-bahan yang telah diangkut dari lokasi lain oleh angin, air dan gravitasi . Beberapa dari ini mungkin. telah pindah banyak mil atau hanya beberapa meter. bahan tertiup angin disebut loess adalah umum di Midwest Amerika Utara dan di Asia Tengah dan lokasi lainnya. Glasial sampai adalah komponen tanah banyak di lintang utara dan selatan dan mereka yang terbentuk di dekat pegunungan besar; sampai adalah produk es glasial bergerak di atas tanah. Es dapat mematahkan batu dan batu besar menjadi potongan kecil, juga dapat menyusun bahan ke dalam ukuran yang berbeda. Seperti es glasial mencair, meleleh air juga bergerak dan bahan macam, dan deposito itu bervariasi jarak dari asal-usulnya. Bagian lebih dalam dari profil tanah dapat memiliki bahan yang relatif tidak berubah dari ketika mereka disimpan oleh air, es atau angin,

Pelapukan adalah tahap pertama dalam mengubah bahan induk menjadi bahan tanah. Pada tanah membentuk dari batuan dasar, lapisan tebal bahan lapuk disebut saprolit bisa terbentuk. Saprolit adalah hasil proses pelapukan yang meliputi: hidrolisis (penggantian kation mineral dengan ion hidrogen), khelasi dari senyawa organik, hidrasi (penyerapan air dengan mineral), solusi mineral dengan air, dan proses fisik yang mencakup pembekuan dan pencairan atau pembasahan dan pengeringan . Komposisi mineralogi dan kimia dari bahan batuan dasar utama, ditambah fitur-fitur fisik, termasuk ukuran butir dan derajat konsolidasi, ditambah tarif dan jenis pelapukan,. berubah menjadi bahan-bahan tanah yang berbeda.

BATU-BATUAN DAN MINERAL TANAH

 

BATU-BATUAN

Batuan adalah material alam  yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun utama kerak bumi serta terbentuk sebagai hasil proses alam. Batuan bisa mengandung satu atau beberapa mineral.

Jenis batuan dapat dibedakan menjadi 3 macam :

A.    Batuan Beku (Igneous Rocks)

Batuan Beku adalah jenis batuan yang merupakan hasil pembekuan magma dimana mineral penyusunnya terdiri dari kristal, apabila pembekuannya berjalan secara perlahan maka kristal yang terbentuk akan berukuran bersar, namun sebaliknya apabila proses pembekuanya sangat cepat maka tidak berbentuk kristal melainkan berbentuk gelas (kaca). Demikan pula dengan posisi pembekuan akan berpengaruh pada ukuran kristal. Batuan beku terdiri dari 3 macam, yaitu :

a. Batuan Beku Dalam = batuan Plutonik, batuan yang membeku jauh di bawah   permukaan bumi. Contoh : Granit.

b. Batuan beku korok/gang = batuan intrusif/hipabisal, batuan yang membeku  sebelum sampai ke permukaan bumi. Contoh : granit, pofir.

c. Batuan beku luar/lelehan = batuan ekstrusif/efusit, batuan yang membeku di permukaan bumi. Contoh : batuan vulkanis.

Berdasarkan komposisi mineral dan ukuran kristalnya batuan beku diklasifikasi menjadi 3 meliputi:

a.  Batuan beku asam contoh granit dan riolit.

b.  Batuan beku basa contok gabro dan basal,

c.  Batuan beku peralihan contoh diorit dan andesit.

 

B. Batuan Endapan (Sedimentary Rock)

Batuan endapan adalah batuan yang berbentuk dari proses pengendapan bahan lepas (fragmen) hasil perombakan/pelapukan batuan lain yang terangkat dari tempat asalnya oleh air,es atau anginan yang kemudian mengalami proses diagenesia/pembatuan (pemadatan/perkatan). Macam – macam batuan endapan antara lain :

1.  Batuan Sediment Klasik

batuan sediment klasik merupakan hasil rombakan batuan yang telah ada sebelumnya dimana material rombakan itu tertransport dan kemudian diendapankan pada suatu cekungan menjadi batuan sediment. Contoh: batu lempung, lanau, breksi, konglomerat

2.  Batuan Sediment Kimia

terjadi karena adanya proses kimia disuatu lingkungan tertentu yang akhirnya menghasilkan

endapan batuan. Contoh: gipsum. Trevertin.

3.   Batuan Sedimen Organik

Terjadi karena adanya organisme yang berkumpul pada lingkungan tertentu.

Contoh: batu gamping terumbu karang(koral), diatomea.

4.  Batuan Sedimen Piroklastik

Batuan endapan hasil erupsi gunung berapi berupa abu/debu. Contoh: tufa.

C.    Batuan Malihan (Metamorphic Rocks)

Batuan malihan adalah batuan yang berasal dari batuan yang sudah ada sebelumnya yang kemudian terkena pengarah tekanan atau temperature yang tinggi sehingga terjadi perubahan mineral. Contoh: manner, kuarsit, batu tanduk, dan batu sabak.

Macam-macam batuan malihan (Metamorphic Rocks) adalah:

  1. Batuan metamorfkontak/sentuh/termal yaitu batuan malihan akibat bersinggungan   dengan magma. Contoh: marmer, kuarsit, batu tanduk
  2. Batuan metamorftekan/dynamo/kataklastik yaitu batuan malihan akibat tekanan yang sangat tinggi. Contoh: batu sabak,sekis, filit
  3. Batuan metamorf regional/dynamo –termal yaitu batuan malihan akibat pengarah tekanan yang sangat tinggi. Contoh genes, amfibalit, granit.

Mineral sudah dimanfaatkan oleh manusia sejak zaman purba sampai zaman modern saat ini. Sebagai contoh manusia purba telah menggunakan batuan untuk membuat api, dipakai sebagai alat/senjata untuk melumpuhkan hewan buruan dan menggunakan mineral “oker” untuk melukis di dinding-diding gua. Pada zaman kerajaan di Indonesia banyak di bangun candi, stupa dan patung dari batuan sedangkan mahkota para raja dan ratu dibuat dari emas dengan hiasan permata yangf berasal dari mineral.

Pemanfaatan batuan dan mineral meningkat dizaman modern sekarang ini, seiring dengan kemajuan teknologi eksplorasi dan eksploitasi. Pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari meliputi berbagai aspek mulai dari industri peralatan rumah tangga, perhiasan, pemukiman, infrastruktur, telekomunikasi, computer, sains, dan teknologi, pesawat terbang, hingga satelit.

Seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari baik tradisional maupun modern, manusia sangat bergantung pada batuan dan mineral. Dalam kehidupan tradisional manusia telah menggunakan batuan untuk menumbuk dan menghaluskan bahan makanan, menggunakan sabit untuk bercocok tanam, kapak untuk memotong kayu setrika untuk merapikan baju dan manik-manik untuk perhiasan. Sabit, kapak maupun setrika bahan dasarnya dari mineral “besi” sedangkan manik-manik berasal dari “batu mulia.”

Sedangkan dalam kehidupan modern berbagai komponen peralatan bahan dasarnya sebagian besar juga berasal dari batuan /mineral seperti komponen pesawat terbang, mobil, computer/laptop, telepon genggam, kamera, perhiasan dan lam-lain. Sebagai contoh: badan pesawat terbang terbuat dari alumuinium yang berasal dari mineral bauksit, lensa kamera berasal dari mineral kuarsa dan lam sebagainya. Contoh manfaat mineral dalam kehidupan sehari-hari:

a. dalam perlengkapan dapur

  • Firing, gelas, cangkir, kaca lemari berasal dari mineral kuarsa
  • Panci, rantang, ketel, penggorengan berasal dari mineral bauksit
  • sendok, garbu, pisau, peralatan masak berasal dari mineral besi/baja

b. dalam bangunan rumah

  • pondisi rumah menggunakan batuan beku (andersit)
  • kerangka beton berasal dari miineral besi
  • bata dan genting terbuat dari tanah aterit/lempung
  • atap atau plafon rumah terbuat dari asbes atau giesum
  • lantai rumah menggunakan batu granit atau manner
  • cat rumah berasal dari mineral okor
  • semen campuran batu gamping, lempung, pasir kuarsa, pasir besi, dan gipsum.
  • keramik dan kaca bahan pembuatannya memerlukan pasir kuarsa
  • grendel, selot, dan engsel pintu/jendela besasal dari kuningan atau tembaga.

 

MINERAL

Mineral adalah Bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu dalam bentuk geometrik.

MINERALOGI BAHAN INDUK

  1. Mineral Primer: Mineral penyusun batuan dg ukuran debu/pasir (0,002 – 1,00 mm). Misal: feldspar, amfibol, piroksin, kuarsa dll.,
  2. Mineral Sekunder: Hasil pelapukan Mineral primer secara fisik, kimia & biologi membentuk koloid dg ukuran < 0,002 mm & bersifat aktif. Misal: lempung kaolinit, montmorilonit, illit, mika & limonit,
  3. Mineral Asesoria: Mineral yg tahan pelapukan & bergabung dg kuarsa atau campuran bermacam mineral. Ex. apatit, magnetit, zircon & pirit.
  • Golongan Mineral bukan Silikat: Oksida-oksida, hidroksida-hidroksida, sulfat, klorida, karbonat dan fosfat dengan struktur yang sederhana
  • Golongan Mineral Silikat: Mempunyai struktur yg komplek dg satuan utamanya (A) “silica-oksigen tetrahedron” 1 ion Si dikelilingi oleh 4 ion oksigen. Yang penting dalam struktur tetrahedron ini adalah penggantian ion Si oleh Al yang disebut “pergantian isomorfik” yg menyebabkan ketidakseimbangan muatan listrik yg akan mengikat Na, K, Mg & Fe. Satuan lain (B) adalah “alumunium hidrolsil octahedron” yg tersusun 1 ion A; dikelilingi oleh grup hidroksil (OH)

KOMPOSISI MINERALOGI TANAH

Mineral Tanah

Bahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.

Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:

  1. susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama berkaitan dengan penempatan internal atom-atomnya,
  2. sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan
  3. kecendrungan membentuk geometris tertentu.

Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:

  1. jenis batuan induk asalnya,
  2. proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan
  3. tingkat perkembangan tanah.

Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah sebagai berikut:

  1. Mineral kuarsa,
  2. Mineral ortoklas,
  3. Mineral mikroklin,
  4. Mineral albit
  5. Mineral oligoklas,
  6. Mineral muskovit,
  7. Mineral biotit.
  8. Mineral dll.

Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian (leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan. Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang hampir seragam.

Berdasarkan keberadaan silikat dalam mineral tanah, maka mineral dalam tanah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:

  1. kelompok mineral silikat, dan
  2. kelompok mineral bukan silikat.

A.        Kelompok Mineral Silikat:

Kelompok mineral silikat dibagi lagi menjadi 11 kelompok, yaitu:

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mineral Liat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mineral liat adalah:

(1.1) Mineral Liat Kaolinit {Si4Al4O10(OH)4}

(1.2) Mineral Liat Vermikulit {AlMg5(OH)12(Al2Si6)}

(1.3) Mineral Liat Klorit {AlMg5O20(OH)4}

(1.4) Mineral Liat Montmorillonit

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mika:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mika adalah:

(2.1) Mineral Muskovit {K2Al2Si6Al4O20(OH)4}

(2.2) Mineral Biotit {K2Al2Si6(Fe++,Mg)6.O20(OH)4}

  1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Serpentin:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok serpentin adalah:

(3.1) Mineral Serpentin {Mg3Si2O5(OH)4}

  1. Struktur Kristal Silikat Kerangka Feldsfar:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kerangka feldsfar adalah:

(4.1) Mineral Alkali Feldsfar {(Na,K)2O.Al2O3.6SiO2}

(4.2) Mineral Plagioklas (Na2O.Al2O3.6SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Piroksin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok piroksin adalah:

(5.1) Mineral Enstatit (MgO.SiO2)

(5.2) Mineral Hipersten {(Mg,Fe)O.SiO2}

(5.3) Mineral Diopsit (CaO.MgO.2SiO2)

(5.4) Mineral Augit {CaO.2(Mg,Fe)O.(Al,Fe)2O3.3SiO2}

  1. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Amfibol:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok amfibol adalah:

(6.1) Mineral Hornblende {Ca3Na2(Mg,Fe)8(Al.Fe)4.Si14O44(OH)4}

(6.2) Mineral Termolit {2CaO.5(Mg,Fe)O.8SiO2.H2O}

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Olivin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok olivin adalah:

(7.1) Mineral Olivin {2(Mg,Fe)O.SiO2}

(7.2) Mineral Titanit (CaO.SiO2.TiO2)

(7.3) Mineral Tormalin (Na2O.8FeO.8Al2O3.4B2O3.16SiO2.5H2O)

(7.4) Mineral Sirkon (ZrO2.SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Garnet:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok garnet adalah:

(8.1) Mineral Almandit (Fe3Al2Si3O12)

  1. Struktur Kristal Silikat Kelompok Epidol:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok epidol adalah:

(9.1) Mineral Soisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)

(9.2) Mineral Klinosoisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)

(9.3) Mineral Epidot (4CaO.3(Al,Fe)2º3.6SiO2.H2O)

  1. Struktur Kristal Silikat Orto dan Cincin:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat orto dan cincin adalah:

(10.1) Mineral Klanit (Al2O3.SiO2)

(10.2) Mineral Silimanit (Al2O3.SiO2)

  1. Struktur Kristal Silikat:

Mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat adalah:

(11.1) Mineral Andalusit (Al2O3.SiO2)

B. Kelompok Mineral Bukan Silikat:

Kelompok mineral bukan silikat dibagi lagi menjadi 6 kelompok, yaitu: (1) mineral fosfat, (2) mineral karbonat, (3) mineral klorit, (4) mineral sulfat, (5) mineral hidroksida, dan (6) mineral oksida. Contoh mineral tanah yang termasuk keenam kelompok mineral bukan silikat ini disajikan sebagai berikut:

1.Mineral Fosfat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral fosfat adalah:

(1.1) Mineral Apatit {Ca4(CaF)(PO4)3} atau {Ca4(CaCl)(PO4)3}

2.Mineral Karbonat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral karbonat adalah:

(2.1) Mineral Kalsit (CaCO3)

(2.2) Mineral Dolomit {(Ca, Mg)CO3}

3.Mineral Klorit:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral klorit adalah:

(3.1) Mineral Halit (NaCl)

4.Mineral Sulfat:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral sulfat adalah:

(4.1) Mineral Gipsum (CaSO4.2H2O)

(4.2) Mineral Jarosit {KFe3(OH)6(SO4)2}

5.Mineral Hidroksida:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral hidoksida adalah:

(5.1) Mineral Gibsit {Al(OH)3}

(5.2) Mineral Buhmit {Gamma – Al.O(OH)}

(5.3) Mineral Gutit {Alfa – FeO.OH}

(5.4) Mineral Lepidokrosit {Gamma – FeO.OH}

6.Mineral Oksida:

Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral oksida adalah:

(6.1) Mineral Hematit (Fe2O3)

(6.2) Mineral Ilmenit (FeO.TiO2)

(6.3) Mineral Rutil (TiO2)

(6.4) Mineral Anatase (TiO2)

(6.5) Mineral Brokit (TiO2)

(6.6) Mineral Magnetik (Fe3O4)

ASAL-USUL,STRUKTUR DAN SIFAT-SIFAT MINERALOGI TANAH

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan  penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:

1.         Kilap (luster)

2.         Warna (colour)

3.         Kekerasan (hardness)

4.         Cerat (streak)

5.         Belahan (cleavage)

6.         Pecahan (fracture)

7.         Bentuk (form)

8.         Berat Jenis (specific gravity)

9.         Sifat Dalam

10.       Kemagnetan

11.       Kelistrikan

12.       Daya Lebur Mineral

  • Kilap

Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006)

Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi  jenis:

a.    Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:

•           Gelena

•           Pirit

•           Magnetit

•           Kalkopirit

•           Grafit

•           Hematit

b.    Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:

•           Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.

•           Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.

•           Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera

•           Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.

•           Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal

•           Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

  • Warna

Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas,

 

PROSES PEMBENTUKAN TANAH

Kebanyakan tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral (kuarsa, feldspar, mika, hornblende, kalsit, dan gipsum), meskipun ada yang berasal dari tumbuhan. Ada beberapa tahap dalam pembentkan tanah yaitu sebagai berikut;

Tahap I

Pada tahap ini permukaan batuan yang tersingkap di permukaan akan berinteraksi secara langsung dengan atmosfer dan hidrosfer. Keadaan ini akan menyebabkan permukan batuan ada pada kondisi yang tidak stabil. Pada keadaan ini lingkungan memberikan pengaruh berupa perubahan-perubahan kodisi fisik seperti pendinginan, pelepasan tekanan, pengembangan akibat panas (pemuaian), kontraksi (biasanmya akibat pembekuan air pada pori-pori batuan membentuk es), dan lain sebagainya, menyebabkan terjadinya pelapukan secara fisik (disintegrasi). Pelapukan fisik ini membentuk rekahan-rekahan pada permukaan batuan (Cracking) yang lama kelamaan menyebabkan permukaan batuan  terpecah-pecah membentuk material lepas yang lebih kecil dan lebih halus.

selain itu, akibat berinteraksinya permukan batuan dengan lapisan atmosfer dan hidrosfer juga akan memicu terjadinya pelapukan  kimiawi (Dekomposisi) diantaranya proses oksidasi, hidrasi, hidrolisis, pelarutan dan lain sebagainya. Menjadikan permukaan batuan lapuk, dengan merubah struktur dan komposisi kimiawi material batuannya. Membentuk material yang lebih lunak dan lebih kecil (terurai) dibanding keadaan sebelumnya, seperti mineral-mineral lempung.

Tahap II 

            Pada tahapan ini, setelah mengalami pelapukan bagian permukaan batuan yang lapuk akan menjadi lebih lunak. Kemudian rekahan-rekahan yang terbentuk pada batuan akan menjadi jalur masuknya air dan sirkulasi udara. Sehingga, dengan proses-proses yang sama, terjadilah pelapukan pada lapisan batuan yang lebih dalam. Selain itu, pada tahap ini di lapisan permukaan mulai terdapat (Organic Matter) calon makhluk hidup.

Tahapan III

Pada tahap ini, di lapisan tanah bagian atas mulai muncul tumbuh-tumbuhan perintis. Akar tumbuhan ini membentuk rekahan pada lapisan-lapisan batuan yang ditumbuhinya (mulai terjadi pelapukan Biologis). Sehingga rekahan ini menjadi celah/ jalan untuk masuknya air dan sirkulasi udara.

Selain itu, dengan kehadiran tumbuhan, material sisa  tumbuhan yang mati akan membusuk  membentuk humus (akumulasi asam organik). Pada dasarnya humus memiliki sifat keasaman. Proses pelapukan akan dipicu salah satunya oleh adanya faktor kesaman.

Air yang terinfiltrasi ke dalam lapisan tanah akan membawa asam humus yang ada di lapisan atas melalui rekahan-rekahan yang ada. Menjangkau lapisan batuan yang lebih dalam. Ini semua akan menyebabkan meningkatnya keasaman pada tanah yang kemudian akan memicu terjadinya pelapukan pada bagian-bagian tanah serta batuan yang lebih dalam. Membentuk lapisan-lapisan tanah yang lebih tebal.

Dengan  semakin tebalnya lapisan-lapisan tanah, air yang tefiltrasi ke dalam lapisan tanah dapat melakukan proses pencucian (leaching) terhadap lapisan-lapisan yang dilaluinya. Ssehingga tahapan ini merupakan awal terbentuknya horison-horoison tanah.

Tahap IV

Pada tahapan ini, tanah telah menjadi lebih subur. Sehingga tumbuhlah tumbuhan-tumbuhan yang lebih besar. Dengan hadirnya tumbuhan yang lebih besar, menyebabkan akar-akar tanaman menjangkau lapisan batuan yang lebih dalam. Sehingga terbentuk rekahan pada lapisan batuan yang lebih dalam. Pada tahapan ini lapisan humus dan akumulasi asam organik lainnya semakin meningkat. Seperti proses yang dijelaskan pada tahap-tahap sebelumnya, keadaan ini mempercepat terjadinya peroses pelapukan yang terjadi pada lapisan batuan yang lebih dalam lagi.

LAPISAN-LAPISAN TANAH

Sebagian besar jenis tanah mengacu pada pola utama lapisan tanah yang terkadang disebut dengan lapisan tanah yang ideal. Setiap lapisan ditandai dengan huruf, dengan urutannya sebagai berikut: O-A-B-C-R.

Lapisan O

Huruf O menujukkan kata “organik”. lapisan ini disebut juga dengan humus. Lapisan ini didominasi oleh keberadaan material organik dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai tingkat dekomposisi. Lapisan O ini tidak sama dengan lapisan dedaunan yang berada di atas tanah, yang sesungguhnya bukan bagian dari tanah itu sendiri.

 

Lapisan A

Lapisan A adalah lapisan atas dari tanah, sehingga diberi huruf A. Kondisi teknis dari lapisan A mungkin bervariasi, namun seringkali dijelaskan sebagai lapisan tanah yang relatif lebih dalam dari lapisan O. Lapisan ini memiliki warna yang lebih gelap dari pada lapisan yang berada di bawahnya dan mengandung banyak material organik. Dan mungkin lapisan ini lebih ringan dan mengandung lebih sedikit tanah liat. Lapisan A dikenal sebagai lapisan yang memiliki banyak aktivitas biologi. Organisme tanah seperti cacing tanah, arthropoda, nematoda, jamur, dan berbagai spesies bakteri dan bakteri archaea terkonsentrasi di sini, dan seringkali berhubungan dengan akar tanaman.

 

Lapisan B

Lapisan B umunya disebut lapisan tanah bawah, dan mengandung lapisan mineral yang mirip dengan lapisan mineral tanah liat seperti besi atau aluminium, atau material organik yang sampai ke lapisan tersebut oleh suatu proses kebocoran. Akar tanaman menembus lapisan tanah ini, namun lapisan ini sangat miskin material organik. Lapisan ini umumnya berwarna kecoklatan, atau kemerahan akibat tanah liat dan besi oksida yang terbilas dari lapisan A.

 

Lapisan C

Lapisan C dinamakan karena berada di bawah A dan B. lapisan ini sedikit dipengaruhi oleh keberadaan proses pembentukan tanah dari bawah. Lapisan C ini mungkin mengandung bebatuan yang belum mengalami proses pelapukan. Lapisan C juga mengandung material induk.

 

Lapisan R

Lapisan R didefinisikan sebagai lapisan yang mengalami sebagian pelapukan bebatuan menjadi tanah. Berbeda dengan lapisan di atasnya, lapisan ini sangat padat dan keras dan tidak bisa digali dengan tangan.

FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH

Adapun pembentukan tanah di pengaruhi oleh lima faktor yang bekerjasama dalam berbagai proses, baik reaksi fisik (disintregrasi) maupun kimia (dekomposisi). Semula dianggap sebagai faktor pembentukan tanah hanyalah bahan induk, iklim, dan makhluk hidup. Setelah diketahui bahwa tanah berkembang terus, maka faktornya ditambah dengan waktu. Tofografi (relief) yang mempengaruhi tata air dalam tanah dan erosi tanah juga merupakan faktor pembentukan tanah.

1. Iklim

Iklim adalah rata-rata cuaca semua energi untuk membentuk tanah datang dari matahari berupa penghancuran secara radio aktif yang menghasilkan gaya dan panas. Enegi matahari menyebabka terjadinya fotosintesis (asimilasi) pada tumbuhan dan gerakan angin menyebabkan transfirasi dan evaforasi (keduanya disebut evafotranspirasi). Akibat langsung dari gerakan angin terhadap pembentukan tanah yaitu berupa erosi angin dan secara tidak langsung berupa pemindahan panas. Komponen iklim yang utama adalah curah hujan dan suhu (temperatur). Faktor pembentukan tanah melalui iklim meliputi curah hujan dan suhu.

• Curah Hujan

Pada umumnya makin banyak curah hujan maka keasaman tanah makin tinggi atau pH tanah makin rendah, karena banyak unsur-unsur logam alkali tanah yang terlindi misalnya, Na, Ca, Mg, dan K, dan sebaliknya makin rendah curah hujan maka makin rendah tingkat keasaman tanah dan makin tinggi pH tanah. Makin lembab suatu tanah maka makin jelek aerasinya dan juga sebaliknya, hal ini desebabkan karena adanya pergantian antara air dan udara dalam tanah.

• Suhu (temperatur)

Suhu sangat berpengaruh bagi proses pembentukan tanah meliputi evapotranspirasi yang meliputi gerak air di dalam tanah, juga meliputi reaksi kimia bilamana suhu makin besar maka makin cepat pula reaksi kimia berlangsung.

2. Bahan Induk

Dalam proses pembentukan tanah juga terdapat bahan induk yang menyusun pembentukan tanah, bahan induk tersebut bersumber dari batuan dan bahan organik.

• Batuan

Batuan dapat didefinisikan sebagai bahan padat yang terjadi didalam membentuk kerak bumi, batuan pada umumnya tersusun atas dua mineral atau lebih. Berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan menjadi 3 jenis batuan, yaitu beku, batuan endapan dan batuan malihan.

– Batuan Beku

Batuan beku atau batuan vulkanik terbentuk oleh magma yang berasal dari letusan gunung berapi, batuan beku atau batuan vulkanik terdiri dari meneral yang tinggi dan banyak mengandung unsur hara tanaman. Di Indonesia batuan vulkanik memegang peranan yang lebih penting, hal ini di sebabkan karena gunung berap[i tersebar mana-mana, dan karena letesan gunung berapi yang menghasilkan batuan vulkanik yang menyebabkan kesuburan tanah. Selain atas dasar terjadinya batuan vulkanik juga dapat dibagi atas dasar kandungan kadar Si O2 nya menjadi tiga golongan, yaitu, batuan asam yang berkadar Si O2 lebih dari 65%, batuan intermedier yang kadar Si o2 antar 52% s/d 65% dan batuan basis yang berkadar

Si O2 kurang dari 52%.

Batuan vulkanik di Indonesia kebanyakan termasuk basis, kemudian intermedier dan yang paling sedikit batuan asam. Batuan asam biasanya berwarna lebih muda dari pada batuan basis, batuan asam juga biasanya lebih banyak mengandung alkali dan Al, sedangkan kadar unsur-unsur seperti Fe,Mg dan Ca lebih rendah, sehingga berat jenisnya juga lebih kecil. Perbedaan lain adalah mengenai daya tahannya terhadap proses pelapukan, batuan asam lebih tahan terhadap proses pelapukan karena warnanya kebih muda. Akibatnya tanah yang berasal dari batuan asam tektunya lebih kasar daripada tanah yang berasal dari bari batuan basis, maka dapat dikatakan tanah yang berasal dari batuan asam mempunyai kandungan unsurhara yang sedikit dibandingkan dengan tanah yang berasal dari batuan basis.

– Batuan Endapan

Batuan endapan terjadi karena proses pengendapan bahan yang diangkut oleh air atau udara dalam waktu yang lama. Ciri untuk membedakan batuan endapan dan batuan lainnya yaitu, batuan endapan biasanya berlapis, mengandung jasad (fosil) atau bekas-bekasnya dan adanya keseragaman yangnyata dari bagian-bagian berbentuk bulat yang menyusun.

Adanya lapisan dalam batuan ini disebabkan karena timbunan lapisan pengendapan yang masing-masing berbeda bahan, tekstur, warna dan tebalnya. Perbedaan ini terutama di sebabkan oleh karena perbedaan waktu pengendapan dan bahan yang diendapkannya.jika bahan yang diendapkannya seragam maka ciri akan terlihat kurang jelas. Batuan endapan dari bahan-bahan yang diendapkan dari hasil pecahan batuan yang telah ada sebelumnya. Proses pelapukan batuan endapan dapat terjadi melalui gerakan bumi, seperti gempa bumi, patahan,timbulan,bahkan lipatan, dan tekanan akibat temperartur, juga bisa diakibatkan oleh tenaga mahkluk hidup saeperti akar dan hewan, maupun gaya kimia yang di sebabkan oleh gaya kimia seperti CO2, O2 asam organik dan sebagainya.

– Batuan Malihan

Batuan malihan terbentuk dari batuan beku atau batuan endapan atau juga dapat terbentuk dari batuan malihan lainnya yang mengalami proses perubahan susunan dan sentuknya yang akibatkan oleh pengaruh panas, tekanan atau gaya kimia. Batuan malihan adalah batuan yanga memiliki sipat – sipat akibat telah malihnya batuan semula baik batuan beku maupun endapan. Yang di namakan proses malihan adalah jumlah proses yang bekerja dalam zone pelapukan dan menyebabkan pengkristalan kembali bahan induk. Adapun sarat tejadinya proses malihan yaitu di sebabkan oleh temperatur tinggi, tekanan kuat, dan waktu lama.

Temperatur tinggi saling mempercepat reaksi kimia juga penting untuk dapat melampaui temperatur mineralnya. Secara teori dapat di terapkan atom – atom yang menyusun mineral setelah mencapai temperatur kritik amplitudo getarannya akan sedemikian besarnya, sehingga atom – atom dapat bergerak lebih besar dan mampu bertukar tempat. Temperatur yang tinggi juga dapat mempertinggi plasitisitas mineral. Sumber panasnya berasal dari bagian dalam bumi, energi mekanik menghasilkan yang merupakan hasil proses geologi dan magma yang meleleh.

Tekanan yang mempengaruhi proses malihan ada macam, yaitu tekanan hidrostastik dan tekanan yang berarah berupa desakan. Yang tertama menyebabkan perubahan volume dan menghasilkan stuktur butir yang tidak teratur, sedangkan desakan menyebabkan bentuk dan menghasilkan struktur sejajar. Tekanan yuang seragam mempengaruhi keseimbangan kimia dengan memacu pengeluaran volume dan pembentukan mioniral-mineral yang rapat jenisnyalebih tinggi, sedangkan desakan mewujudkan berbagai pengaruh terhadap susunan mineral batuan. Waktu yang lama lambat laun membentuk batuan malihan.

• Organik

Bahan organik brperan terhadap kesuburan tanah dan berpengaruh juga ketahanan agregat tahan. Juga bahan organik mempunyai pengaruh terhadap warna tanah yang menjadikan warna tanah coklat kehitaman.serta terhadap ketersediaan hara dalam tanah. Tumbuhan menjadi sumber utama bagi bahan organik, pada keadaan alami tumbuhan menyediakan bahan organik yang sangat besar, akibat pencernaan oleh mikro organisme bahan organik tercampur tercampur dalam tanah secara proses imfiltasi. Beberapa bentuk kehidupan seperti cacing, rayap, dan semut berperan penting dalam pengangkutan tanah.

Faktor yamg mempengaruhi bahon organiuk tanah yaitu, kedalaman tanah yang mentukan kadar bahan bahan organik yang ditentukan pada kedalaman 20 cm dan makin kebawah makin berkurang, faktor iklim menyebabkan bilamana semakin rendahnya susu maka makin tinggi pula bahan organik uyang terkandung dalam tanah.

3. Makhluk Hidup

Semua mahkluk hidup, baik hidupnya maupun sudah mati mempunyai pengaruh terhadap pembentukan tanah. Di antara makhluk yang paling berpengaruh adalah vegetasi karena jumlahnya banyak dan berkedudukan tepet untuk waktu yang lama, sedangkan hewan dan manusia berpengaruh tidak langsung melalui vegetasi.  Jasad remik (mikro organisme) dalam tanah mempunyai peranan dalam prose peruraian bahan organik menjadi unsur hara dapat di serap oleh akar tanaman dan pembentukan humus (bunga tanah). Cacing tanah sangat aktif dalam peruraian (dekoposisi) serasaah. Pada waktui malam hari cacing – cacing membawa guguran dedaunan dan rerumputan kedalam lubang-lubangmnya dan mencampur dengan mineral-mineral tanah. Sokresin yang dikeluarkan mengandung Ca lebih banyak daripada tanah disekitarnya. Lubang-lubang cacing akan mempengaruhi aerasi dan perembesan air .

Semut-semut menyusup kedalam tanah dan mengangkut bahan-bahan dari dalam tanah kepermukaa tanah sambil membangun sarang-sarangnya berupa berupa bukit-bukit kecil di pertmukaan tanah dan sering pada batang-batang pohon. Rayap-rayap makan sisa-sisa bahan organik. Tikus dan binatang lai menggunakan tanah sebagai tempat tinggal dan tempat perlindungan. Manusia mempengaruhi pembentukan tanah melalui cara penggunaan tanahnya, terutama cara bercocok tanam, menentukan jemnis tanaman yang di tanam, cara pengolahan atau penggarapan, permukaan, cara pemanenan, menentukan rotasi tanaman dan lain sebagainya.

4. Topografi

Topogarfi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mepergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah. Sebaliknya genangan air didataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh ilklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah.

Didaerah beriklim humid trop[ika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi arid (agak kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis grumosol, kelabu, sedangkan dilereng pegunungan terbentuk tanah jenis grumosol berwarna kuning coklat.Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunnya garam-garam di kaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi di daerah sub humid terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumosol, baik secara fisik maupun kimianya. Di lereng cekung seringkali bergabung membentuk cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang

5. Faktor Waktu

Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah, memainkan peranan penting dalam menentukan jenis-jenis tanah terbentuk. Gunung berapi mengendapkan lava dan abu gunung disaat terjadi letusan gunung berapi tersebut, seringkali pengendapan lava ataupun terjadinya letusan gunung tidak terjadi pada waktu yang sama. Semua tinfgkatan perkembangan tanah dapat di temukan kembali pada endapan-endapan itu. Didaerah beriklim tropika, pembentukan tanah dari bahan induk berupa abu gunung berapi berlangsung cepat, sehingga dalam waktu empat belas tahun sudah dapat terbentuk tanah yang cukup subur.

 

 

 

SIFAT-SIFAT FISIK DAN MORFOLOGI TANAH

 

BATAS-BATAS HORISON

Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang daoat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut.

Pembentukan tanah merupakan suatu proses perubahan bentuk suatu bahan ke dalam bentuk lain yang bersifat jauh berbeda dengan bahan asalnya. Bahan yang diubah yaitu bahan-bahan induk tanah, baik yang berupa bahan mineral, bahan organik atau campuran dari keduanya yang oleh beberapa peranan (unsur matahari, air, udara, bakteri, cendawan, mikrofauna, dan bermacam-macam serangga di dalam tanah) telah diubah menjadi tanah yang bermanfaat bagi segala kehidupan dan kepentingan di muka bumi. Tanah merupakan suatu sistem yang ada dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen, yaitu:

  1. Partikel mineral, berupa fraksi anorganik.
  2. Bahan Organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran binatang.
  3. Air
  4. Udara tanah, dan
  5. Kehidupan jasad renik

 

Profil tanah

Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula, sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya.

Pada suatu profil tanah yang lengkap dapat kita lihat beberapa lapisan yang membentuk tanah, dan lapisan-lapisan tersebut pada beberapa macam tanah dikenal dengan horison genesa tanah (lapisan yang terbentuk di tempat itu sehubungan dengan berlangsungnya proses perombakan bahan induk tanah). Umumnya pembentukan tanah ditekankan pada ketebalan solum tanah (medium bagi pertumbuhan tanaman) yang diukur mulai dari ketebalan lapisan batu-batuan sampai ke permukaan tanah. Setelah diketahui solum tanah itu kemudian dapat ditentukan tebalnya lapisan atas tanah (top soil) dan lapisan bawahnya (sub soil) yang satu dengan yang lainnya akan menunjukkan perbedaan atau kekhususan yang mencolok. Hal tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Lapisan atas tanah (top soil)

Ketebalan solumnya sekitar 20-35 cm, merupakan tanah yang relatif subur jika dibandingkan dengan sub soil, banyak mengandung bahan organik dan biasanya merupakan lapisan olah tanah bagi pertanian.

  1. Lapisan atas tanah merupakan media utama bagi perkembangan akar tanaman yang dibudidayakan.
  2. Dalam ketahanannya lapisan tanah atas biasanya lebih rapuh, lebih mudah terangkut dan hanyut dibandingkan dengan sub soil      

2. Tanah Mineral

Perbedaan antara tanah mineral dan tanah organik terletak pada kandungan bahan organiknya.

a. Tanah minieral: Meliputi tanah-tanah yang bahan organiknya kurang dari 20%.

b. Tanah Organik: Tanah yang kandungan bahan organiknya lebih dari 65%.

Berdasarkan sistem pengelompokkan tanah oleh USDA tanah mineral meliputi golongan tanah Alfisol, Aridisol, Entisol, Inceptisol, Mollisol, Oxisol, Spodosol, Ultisol, dan Vertisol, yang masing-masing memiliki sifat dan keterbatasan yang berbeda-beda.

 

Bahan Mineral Tanah  

Bahan mineral tanah (anorganik tanah) terdiri atas pelbagai macam ukuran dan komposisi, lazimnya berupa sibir batuan dan bermacam-macam mineral. Sibir batuan bila melapuk akan menghasilkan regolith dan pelapukan bahan ini selanjutnya menghasilkan tanah yang sangat kasar.

Mineral merupakan suatu unsur atau senyawa yang berwujud padat yang terbentuk secara alami (kecuali senyawa-senyawa karbon yang terbentuk secara biologis). Komposisi mineral dalam tanah tergantung pada faktor-faktor tertentu, yaitu pada bahan induknya serta proses yang bekerja pada pembentukan dan perkembangan tanah.

Pada umunya bentuk mineral tanah dibagi menjadi dua, yaitu kelompok mineral bukan silikat dan kelompok mineral silikat.

  • TEKSTUR/ SUSUNAN TANAH (MINERAL)

Menurut H. Kohnke (1968) dalam “Soil Physics” dengan tekstur tanah kita dapat membahas dan mengemukakan tentang bahan mineral seperti pasir, debu, dan liat dalam susunan tanah yang penting bagi kehidupan di muka bumi. Pasir, debu,dan liat merupakan partikel-partikel tanah yang dapat digolongkan berdasarkan atas ukuran, bentuk, kerapatan, dan komposisi kimia.

Mineral Liat

Perbedaan hasil pembentukan mineral liat ditentukan oleh reaksi lingkungan pembentukannya. Pada lingkungan yang bereaksi masam akan terbentuk mineral liat Kaolinit, sedangkan pada lingkungan yang bereaksi basa dan mengandung banyak magnesium akan terbentuk mineral liat Montmorillonit. Keduanya memiliki sifat-sifat yang berbeda. Dalam memperhatikan liat sebagai komponen tanah, kita harus memperhatikan pula perbedaan antara bahan berukuran liat dan mineral liat.

  1. Bahan berukuran liat meliputi semua bahan penyusun tanah berukuran 2 mikron.
  2. Mineral liat merupakan sekumpulan mineral berbentuk kristal, yang tersusun atas aluminium silikat dengan beberapa logam tertentu sebagai pendukung atau penggantinya.

Dengan demikian maka bahan berukuran liat meliputi mineral liat dan bahan-bahan lain yang mendukung atau menggantinya, seperti bahan-bahan hasil pelapukan (perombakan), oksida besi, oksida alumina, dan bahan organik.

 BAHAN ORGANIK TANAH

Organik tanah merupakan hasil perombakan dan penyusunan yang dilakukan oleh jasad renik tanah, yang tentunya dalam hal ini ada berbagai tambahan bahan seperti glukosamin (hasil metabolis jasad renik). Sumber utama bahan organik tanah ialah jaringan tanaman, baik yang berupa serasah atau sisa-sisa tanaman. Pengelompokan bahan organik tanah berdasarkan (segi) kimiawi tanah dapat meliputi senyawa karbohidrat, protein dan lignin, serta sejumlah kecil senyawa lainnya seperti minyak, lilin, dll. Senyawa karbohidrat meliputi gula (dalam keadaan sederhana) dan zat tepung, akan tetapi yang lebih banyak adalah polisakarida yang tersusun atas gula heksosa, gula pentosa dan asam uronik. Polisakarida lainnya yang sering dijumpai adalah kitin.

Bentuk hasil perombakan bahan organik (limbah nabati) di dalam tanah yang relatif tahan terhadap pelapukan adalah humus. Proses pembentukan humus merupakan proses biokimia majemuk, dimana jaringan yang terdapat di dalam tanah mengalami panas dan lembab, sehingga dalam keadaan yang demikian tanah diserang oleh bermacam-macam jasad, dan selanjutnya melalui tahapan akhir dari prosesnya akan berubah menjadi senyawa sederhana yang melarut. Humus akan menyerap air dari atmosfera yang setara dengan 80% sampai 90% beratnya, sedangkan liat hanya sekitar 15% sampai 20% saja, humus berplastisitas dan berkohesi rendah.

Kandungan oksigen dalam tanah akan sangat berpengaruh, baik pada kegiatan jasad renik maupun terhadap kandungan bahan organik di dalam tanah. Dalam hal ini penurunan kandungan oksegen tanah akan:

– Mengurangi kegiatan jasad renik tanah sehingga penguraian bahan organik tidak akan berlangsung dengan baik.

–  Pelapukan yang berlangsung hanya akan membebaskan asam-asam organik, karbondioksida, gas hidrogen, metana, senyawa sulfida, dan senyawa-senyawa lainnya.

Jasad renik yang kurang aktif ternyata hanya akan memperbesar pelonggokan bahan organik, sehingga unsur hara tertentu menjadi tidak tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Bahan organik dengan nisbah C/N yang tinggi akan lambat terlapuk. Agar bahan organik dengan nisbah demikian cepat terlapuk maka perlu usaha penambatan Nitrogen Tanah, yaitu dengan memberikan sejumlah bahan organik yang cepat terlapuk.

Pada tanah-tanah yang bertekstur halus biasanya kegiatan jasad renik dalam perombakan bahan organik akan mengalami kesulitan dikarenakan tanah-tanah yang bertekstur demikian berkemampuan menimbulkan bahan organik lebih tinggi.

WARNA TANAH

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas warna tanah.

1. Kadar lengas atau tingkat hidratasi.

Kadar lengas dan hidratasi sangat berpengaruh terhap warna tanah, dalam hal ini apabila dalam keadaan lembab hingga basah maka tanah akan tampak berwarna hitam/kelam. Tingkat hidratasi sangat erat kaitannya dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang mengarah ke warna reduksi (gleisasi), yaitu kelabu biru hingga kelabu hijau.

2. Kadar bahan organik

Makin tinggi kandungan bahan organiknya, maka warna tanah akan makin kelam. Sebaliknya, semakin rendah kandungan bahan organiknya warna tanah akan tampak lebih terang.

3. Kadar dan mutu mineral

Mineral feldspar Kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah.  Sedangkan khusus untuk feldspar dapt menyebabkan warna tanah yang bermacam-macam, terutama warna merah. Hematit juga dapat menjadikan warna merah sampai merah tua pada tanah.

Warna-warna pada tanah dapat menjadi indikator dalam pengelompokan pengaruh iklim, bahan induk serta fisiografi. Warna tanah yang hitam/gelap akan menyerap panas lebih banyak dari pada tanah yang berwarna putih atau cerah/terang.

Pengaruh yang lebih langsung yang berkaitan dengan warna tanah ialah terhadap suhu dan lengas tanah.  Makin tua warna tanah itu makin menunjukkan makin tinggi pula kesuburannya, hal tersebut ditunjukkan pula oleh bahan organik yang ada di dalamnya. Warna tanah yang terang umumnya di sebabkan oleh kuarsa (suatu mineral yang rendah nilai gizinya). Warna tanah yang berbercak umumnya menunjukkan reduksi dan oksidasi berlangsung silih berganti.

Dapat dikatakan pula bahwa profil tanah akan menunjukkan variasi warna tanah sesuai dengan horisonnya, tanah yang masih muda ataupun yang terlalu tua kurang menunjukkan gejala tersebut. Menurut Konhe, tanah yang masih muda dikarenakan waktu untuk diferensiasi horison belum mungkin, sedangkan tanah yang terlalu tua proses pnumpuannya telah berlangsung secara lanjut.

 PENGGOLONGAN/ KLASIFIKASI STRUKTUR TANAH

Klasifikasi struktur tanah sangat berkaitan dengan klasifikasi lapangan yang digunakan bagi penelaah morfologi tanah. Komponennya meliputi

1. Tipe dan Kelas struktur (bentuk, ukuran dan susunan agregat).

Macam-macam tipe dan kelas struktur tanah:

–          Platy atau lempeng

–          Tiang prismatik

–          Gumpalan bersudut

–          Tipe tidak berstruktur

Derajat struktur (kemantapan atau kekuatan agregat).

–          Yang tidak beragregat, yaitu pejal (jika berkoherensi dan butir tunggal), lepas-lepas

–          Yang derajat strukturnya lemah (jika tersentuh akan mudah hancur)

–          Yang derajat strukturnya cukup (agregat sudah jelas terbentuk)

–          Yang derajat strukturnya kokoh (agregatnya mantap dan jika dipecah-pecah agak liat).

 

KONSISTENSI TANAH

Konsistensi tanah dapat diartikan sebagai daya kohesi dan adhesi tanah pada berbagai kelembapan. Konsistensi tanah tergantung dari tekstur, kadar bahan organik, kadar dan khuluk bahan koloid dan terutama kadar lengas tanah. Sehubungan dengan kadar lengas tanah, maka keanekaan konsistensi tanah dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Pada kadar lengas tinggi, tanah seakan-akan melakukan kegiatan yang mengalir (visceus) sehingga mengental.
  2. Apabila kadar lengas berangsur-angsur berkurang, visceus tidak terjadi lagi sehingga tanah menjadi lekat, liat, dan lunak.
  3. Apabila kadar lengas semakin berkurang lagi (lebih kecil dari poin b), maka tanah akan kehilangan sifat lekat dan liatnya, selanjutnya berubah menjadi gembur atau agak retak-retak.
  4. Apabila kadar lengas semakin berkurang lagi (lebih kecil dari poin c), keadaan tanah akan menjadi kering, keras, sukar dipecahkan, dan kasar saat diraba.

.

REFERENSI

  • Arsyad, S. 1997. Konservasi Tanah. Jurusan Tanah, fakultas pertanian, institut Pertanian Bogor
  • Dwi Priyo Ariyanto.2009. Soil Physic and Conservation  Laboratory Department Soil Science .Faculty of Agriculture Sebelas Maret University

SUMBER LAIN


BOTANI

ANATOMI DAN MARFOLOGI PADA BIJI

DIUSUN OLEH :

YOGA RANANDA                D1D011118

M KHOTIBUL FITRA       D1D011119

ROZI YULIANDRI                D1D011120

RIAN FERY SADI                  D1D009013

JENI RAHMAN                D1D010025

AGUSTINUS PRIYANTO    D1D009020

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012/2013

KATA PENGANTAR

Assalamu’alikum Wr. Wb.

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas kita sebagai mahasiswa. Berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dari kelompok VII dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah ini tidak kurang dari waktu yang ditentukan. Tidak lupa pula kami khaturkan Salam dan Shalawat atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Pabrik Figur umat manusia khususnya kita umat islam sebagai pengikutnya, sehingga kita dapat merasakan kemerdekaan dalam memeluk agama dan keyakinan. Berkat perjuangan dan kerja keras beliau kita dapat merasakan indahnya hidup yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan di jauhkan keterpurukkan dan kejahilliyaan dunia yang fana ini. Melihat betapa pentingnya ilmu pengetahuan, maka dunia pendidikan sebagai sarana dan fasilitator menyajikan berbagai mata kuliah yang bisa menumbuhkembangan potensi manusia, khususnya kita sebagai mahasiswa. Salah satu contoh mata kuliah “ MORFOLOGI TUMBUHAN”. Mata Kuliah Morfologi Tumbuhan menyajikan sejuta pengetahuan tentang bentuk, struktur serta fungsi organ tumbuhan secara detail. Maka dari itu penyusunan karya ilmiah ini menitik beratkan pada organ Assesories tumbuhan yakni “ BIJI ”. Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentunya masih terdapat kekeliruan dan kekurangan. Oleh karena itu besar harapan kami kepada Dosen atau rekan-rekan mahasiswa memberikan sebuah gagasan baru, baik berupa kritik dan saran yang bersifat membangun, agar penyusunan karya ilmiah selanjutnya lebih baik lagi, untuk itu kami sampaikan

terimakasih.

Wabillahi Fisabilillah Fastabiqul Khairat.

Wassalam,

Jambi,18-04-2012

Kelompok VI

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dunia Pendidikan merupakan salah satu sarana dan fasilitas bagi manusia dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Salah satunya lewat dunia perkuliahan, potensi yang ada dalam diri individu tersebut bisa digali dan dikembangkan. Dalam dunia perkuliahan disajikan berbagai mata kuliah guna menumbuhkembangkan potensi tersebut. Misalnya Mata Kuliah Morfologi Tumbuhan disajikan bagi mahasiswa khususnya, agar dapat memperluas wawasannya terhadap keanekaragaman tumbuhan berdasarkan ciri-ciri morfologi dan modifikasinya. Berdasarkan pengetahuan tentang ciri morfologi organ tumbuhan dan modifikasinya tersebut, diharapkan Bagi mahasiswa dapat mengidentifikasi jenis suatu tumbuhan. Pokok bahasan mata kuliah tersebut mencakup bagian organ vegetatif tumbuhan / Organ primer (akar, batang, daun) dan modifikasinya, serta organ reproduktif tumbuhan (bunga, buah, dan biji) atau organ Assesories/Perhiasan. Betapa pentingnya mempelajari ilmu morfologi tumbuhan, maka tidak jarang dosen-dosen di dunia perkuliahan, khususnya yang berprofesi sebagai dosen mata kuliah tersebut, tidak jarang memberikan tugas bahkan mengadakan penelitian terhadap mata kuliah ini. Oleh sebab itu salah satu faktor yang melatar belakangi penyusunan karya ilmiah ini adalah adanya tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa khususnya kami dari kelompok VI sebagai tanggung jawab langsung kami terhadap mata kuliah morfologitumbuhan. Adapun masalah yang akan dibahas terutama dititikberatkan pada fitografi BIJI atau Tumbuhan Berbiji.

  1. RUMUSAN MASALAH

· Pengertian Biji

· Gymnospermae (Tumbuhan Berbiji Terbuka)

· Angiospermae  ( Tumbuhan Berbiji Tertutup

· Tumbuhan Monokotil dan Dikotil

  1. TUJUAN

· Menjelaskan Pengertian Biji Dan Spermathopyta (Tumbuhan Berbiji)

· Menjelaskan Pengertian Gymanospermae (Tumbuhan BerbijiTerbuka)

· Menjelaskan Pengertian Angiospermae (Tumbuhan Berbiji Tertutup)

· Menjelaskan Pengertian Monokotil (Tumbuhan Berkeping Satu) dan

Dikotil (Tumbuhan Berkeping Dua) Serta Ciri-Ciri Dan Perbedaannya.

Adapun maksud dan tujuan lain dari penyusunan karya ilmiah ini adalah sebagai bentuk anggungjawab langsung kami terhadap tugas yang diberikan Dosen sekaligus sebagai bahan diskusi / presentase guna menunjang proses pembelajaran perkuliahan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BIJI

Biji merupakan struktur yang efisien untuk perkembangbiakan dan perbanyakan. Perbanyakan yang dimaksud adalah untuk memperbanyak keturunan atau spesies dalam mempertahankan kelangsungan hidup generasinya. Biji berasal dari bakal biji yang berkembang setelah mengalami pembuahan. Biji (bahasa Latin:semen) adalah bakal biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Biji dapat terlindung oleh organ lain (buah, pada Angiospermae atau Magnoliophyta) atau tidak (pada Gymnospermae). Dari sudut pandang evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan. Biji hanya terdapat pada tumbuhan berbiji atau Spermatophyta (Yunani, sperma=biji, phyton=tumbuhan) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyerbukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.

  1. Ciri Tubuh

Ciri tumbuhan berbiji meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk tubuh Tumbuhan berbiji berukuran makroskopik dengan ketinggian yang sangat bervariasi. Tumbuhan biji tertinggi berupa pohon dengan tinggi melebihi 100 m. masalnya pohon konifer Sequoiadendron giganteum di taman Nasional Yosemite California, dengan tinggi sekitar 115 m dan diameter batang sekitar 14 m. Habitus atau perawakan tumbuhan berbiji sangat bervariasi, yaitu Pohon, misalnya jati, duku, kelapa, beringin, cemara; Perduk, misalnya mawar, kembang merak, kembang sepatu; semak, misalnya arbei; dan Herba, misalnya sayur-sayuran, bunga lili, serta bunga krokot.

  1. Struktur dan Fungsi

Tumbuhan berbiji merupakan heterospora. Tumbuhan berbiji membentuk struktur megasporangia dan mikrosporangia yang berkumpul pada suatu sumbuh pendek. Misalnya struktur seperti konus atau strobilus pada konifer dan bunga pada tumbuhan berbunga. Seperti halnya pada tumbuhan lain, spora pada tumbuhan berbiji dihasilkan melalui meiosis di dalam sporangia. Akan tetapi, pada tumbuhan berbiji, megaspora tidak dilepaskan melainkan dipertahankan. Megasporangia mendukung perkembangan gametofit betina dan menyediakan makanan serta air. Gametofit betina akan tetap berada dalam sporangium, menjadi matang dan memlihara generasi sporofit berikutnya setelah terjadi pembuahan. Pada mikrosporangium, produk meiosis berupa mikrospora. Mikrospora yang mencapai sporofit akan berkecambah membentuk serbuk sari yang tumbuh menuju kearah bakal biji untuk membuahi gametofit betina. Pada tumbuhan berbiji, istilah mikrospora merupakan serbuk sari, mikrosporangium merupakan kantung serbuk sari, dan mikrosporofil merupakan benagsari. Istilah megaspora merupakan kandung lembaga (kantung embrio), megasporangium merupakan bakal biji, dan megasporofil merupaka daun buah (karpela)

.

· Kulit, Inti Biji, dan Tali Pusar

Biji merupakan struktur yang efisien untuk perkembangbiakan dan perbanyakan. Perbanyakan yang dimaksud adalah untuk memperbanyak keturunan atau spesies dalam mempertahankan kelangsungan hidup generasinya. Biji berasal dari bakal biji yang berkembang setelah mengalami pembuahan. Ada beberapa macam tipe bakal biji, yaitu orthotropous bila mikropil terletak di bagian atas, sedangkan hilumnya di bagian bawah; amphitropous, yaitu bakal biji yang tangkai bijinya membengkok sehingga ujung bakal biji dan tangkai dasarnya berdekatan satu sama lain. Anatropous, yaitu bakal biji yang mempunyai mikropil membengkok sekitar 180o, dan campylotropous, yaitu bakal biji yang membengkok 90o sehingga tali pusar tampak melekat pada bagian samping bakal biji. Biji mempunyai bentuk yang bermacam-macam, misalnya menyudut, ginjal, bulat, memanjang, bulat telur dan lain-lain. Bentuk biji yang unik dijumpai pada genjer yang mempunyai biji, seperti ladam, dan senggani yang mempunyai bentuk biji, seperti rumah siput. Permukaan kulit luar biji bermacam-macam, ada yang halus, kasar, berkutil, berduri dan sebagainya. Ini dapat dijumpai pada tumbuh- tumbuhan yang tergolong gulma.

Bagian-bagian biji terdiri atas kulit biji, inti biji, dan tali pusar. Kulit biji pada tumbuhan ada yang terdiri atas dua lapis, ada juga yang tiga lapis. Inti biji terdiri atas embrio dan cadangan makanan. Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan plasenta. Pada kulit biji dapat dijumpai bagian-bagian, seperti sayap, bulu, salut biji, pusar biji, liang biji, berkas pembuluh pengangkut, tulang biji, carunle, dan strophiole.

· Lembaga dan Putih Lembaga

Lembaga dan putih lembaga merupakan inti biji atau isi biji. Bagian ini terdapat di dalam kulit biji. Lembaga atau embrio terdiri atas akar lembaga (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga. Putih lembaga terdiri atas putih lembaga dalam (endosperma) dan putih lembaga luar (perisperma). Bagian embrio, seperti radikula akan berkembang menjadi akar. Pada tumbuhan Dicotyledoneae, radikula akan berkembang menjadi akar tunggang. Pada Monocotyledoneae, akar tersebut akan berkembang menjadi akar primer, namun masa hidupnya tidak lama karena segera diganti oleh sistem akar sekunder. Kotiledon pada biji dapat berfungsi sebagai tempat penimbunan makanan, alat untuk berfotosintesis sementara, dan sebagai alat untuk menghisap makanan dari putih lembaga. Batang lembaga terdiri atas epikotil dan hipokotil. Epikotil adalah pemanjangan ruas batang di atas kotiledon, sedangkan hipokotil adalah pemanjangan ruas batang di bawah kotiledon. Batang lembaga dan calon-calon daun merupakan bagian lembaga yang disebut plumula. Bagian putih lembaga, seperti endosperma merupakan cadangan makanan pada biji. Berdasarkan pembentukannya, endosperma berasal dari sel induk endosperma yang telah dibuahi oleh sel sperma. Perisperma merupakan putih lembaga luar. Bagian ini berasal dari nuselus atau selaput bakal biji.

  1. Cara Hidup dan Habitan Reproduksi

Tumbuhan berbiji kebanyakan hidup di darat. Namun, tumbuhan berbiji ada yang hidup mengapung di air, misalnya teratai. Tumbuhan berbiji merupakan tumbuhan fotoautotrof.

  1. Klasifikasi

Berdasarkan kajian filogeni menggunakan DNA kloroplas (cpDNA) saat ini dapat dikelompokkan berbagai anggota tumbuhan berbiji sebagai berikut : 1) tumbuhan berbunga (Angiospermae) dan Gymnospermae

B. GYMNOSPERMAE (Tumbuhan Berbiji Terbuka)

Gymnospermae (dari bahasa Yunani: gymnos (telanjang) dan sperma (biji) atau tumbuhan berbiji terbuka merupakan kelompok tumbuhan berbiji yang bijinya tidak terlindung dalam bakal buah (ovarium). Pada tumbuhan berbunga (Angiospermae, atau Magnoliophyta), biji atau bakal biji selalu terlindungi penuh oleh bakal buah sehingga tidak terlihat dari luar. Pada Gymnospermae, biji terekspos langsung atau terletak di antara daun- daun penyusun strobilus atau runjung. Pada melinjo misalnya, “pêntil”nya (yaitu bijinya) sejak dari “kroto” hingga melinjo masak dapat dilihat, sementara pada tusam biji terletak pada runjungnya. Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang lalu), sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok yang sekarang sudah punah dan kini menjadi batu bara: Pteridospermophyta (paku biji), Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji).

  1. Pengelompokan

Dalam klasifikasi tumbuhan modern, Gymnospermae tidak memiliki status taksonomi karena banyak petunjuk bahwa tumbuhan berbunga (Angiospermae, tumbuhan berbiji tertutup) adalah keturunan dari salah satu tumbuhan berbiji terbuka. Pemisahan antara tumbuhan berbiji terbuka dengan berbiji tertutup akan menyebabkan pemisahan yang parafiletik. Gymnospermae mencakup tiga divisio yang telah punah dan empat divisio yang masih bertahan: · Bennetophyta, punah · Cordaitophyta, punah · Pteridospermophyta, sudah punah namun dianggap sebagai moyang Salah satu contoh tumbuhan gymnospermae adalah tumbuhan Melinjo (G.gnemon L.) merupakan salah satu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) yang tumbuh di daerah tropis. Perkembangbiakan tunbuhan melinjo secara generatif.

  1. ANGIOSPERMAE  ( Tumbuhan Berbiji Tertutup )

Tumbuhan biji tertutup (angiospermae) merupakan tumbuhan berbunga yang memiliki pembungkus biji (ovulum) dibagi ke dlm 2 kelas yaitu Monokotiledon (berkeping satu) dan dikotilodonae (berkeping dua). ada yang berumah satu dan bermah dua. Peranan tumbuhan biji tertutup diantaranya adalah:

· Sebagai tanaman hias, misalnya cempaka, mawar, kembang sepatu, kaktus, bunga matahari, bunga sedap malam, bunga gladiol, anggrek, dll

· Bahan bumbu dapur, misalnya kemiri, lada, cengkeh, pala, ketumbar, temu-temuan, dll

· Sumber makanan berupa sayuran, misalnya tomat, kubis, sawi, lobak, terong, bayam, labu siam, kentang, dll

· Buah-buahan, misalnya apel, pir, arbei, pisang, mangga, jambu, anggur, jeruk, nangka, rambutan, pepaya dll

· Sumber protein yang berasal dari tumbuhan, seperti kacang kedelai, kacang tanah, kacang merah, dll

· Bahan baku industri furnitur/alat-alat rumah tangga, misalnya bambu, rotan, kayu jati, kelapa, kayu meranti, dll

· Bahan untuk obat, misalnya mahkota dewa, buah merah, jambu biji, daun jarak, mengkudu, sambiloto, kumis kucing dll

· Penghasil minyak aromatik, misalnya melati, mawar, nilam, lavender, kayu putih dll

· Penghasil minyak sayur, misalnya kelapa, kelapa sawit

· Penghasil biodisel, misalnya jarak, kelapa sawit

· Penghasil gula, misalnya tebu (Saccharum sp.), aren (Arenga pinnata), lontar (Borassus flabellifer)

· Sumber karbohidrat, misalnya padi, gandum, singkong, ubi jalar, kentang, dan lain-lain.

D. TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL

Tumbuhan Monokotil adalah tumbuhan yang berkeping satu (mono;satu-kotil;keping), Contoh tumbuhan monokotil : Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem, Durian, Salak, Melinjo, dst. Sedangkan tumbuhan dikotil adalah tumbuhan berkeping dua (di;dua dan kotil;keping).

Contoh tumbuhan dikotil adalah Kacang tanah, Mangga, Rambutan Belimbing, Beringin, Jati, Mahoni,jahe, dst.

  1. Ciri-Ciri dan Perbedaan Monokotil dan Dikotil

Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya. Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil

berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

  1. Bentuk akar

– Monokotil : Memiliki sistem akar serabut

– Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

  1. Bentuk sumsum atau pola tulang daun

– Monokotil : Melengkung atau sejajar

– Dikotil : Menyirip atau menjari

  1. Kaliptrogen / tudung akar

– Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra

– Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar

  1. Jumlah keping biji atau kotiledon

– Monokotil : satu buah keping biji saja

– Dikotil : Ada dua buah keping biji

  1. Kandungan akar dan batang

– Monokotil : Tidak terdapat kambium

– Dikotil : Ada cambium

  1. Jumlah kelopak bunga

– Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga

– Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

  1. Pelindung akar dan batang lembaga

– Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar

lembaga / keleorhiza

– Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

  1. Pertumbuhan akar dan batang

– Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

– Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesaR

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Biji merupakan bagian dan struktur yang sangat efisien untuk perkembangbiakan pada tumbuhan khususnya Spermathopyta (tumbuhan berbiji). Fungsi biji itu sendiri adalah untuk memperbanyak keturunan atau spesies dalam mempertahankan kelangsungan hidup generasinya. Biji berasal dari bakal biji yang berkembang setelah mengalami pembuahan. Biji juga merupakan salah satu organ assesories atau organ perhiasan pada Tumbuhan berbiji (Spermathopyta). Biji bukan hanya sebagai organ assesories tetapi juga mempunyai fungsi yang utama yakni, sebagai alat perkembangbiakan atau untuk memperbanykan keturunan, agar tumbuhan tersebut tidak punah.

Sesuai dengan bentuk dan stukturnya, biji dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok besar yakni :

· Gymnospermae (Tumbuhan Berbiji Terbuka )

· Angiospermae  (Tumbuhan Berbiji Tertutup)

Sedangkan pada tumbuhan Angiospermae Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan, karena memiliki bunga yang sesungguhnya atau bunga lengkap. Oleh karena itu Tumbuhan Angiospermae dibagi menjadi dua kelompok besar yakni ; Monokotil (Tumbuhan Berkeping satu) dan Dikotil (Berkeping Dua). Contoh tumbuhan monokotil seperti Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem, Durian, Salak, Melinjo, dst. Sedangkan Contoh tumbuhan dikotil adalah Kacang tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing, Beringin, Jati, Mahoni,jahe, dst.

B. SARAN

Dalam penyusunan karya ilmiah tentunya masih terdapat kekeliruan dan kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari Dosen dan rekan-rekan mahasiswa yang membangun sangat kami harapkan, guna mengevaluasi diri kami agar penyusunan karya ilmiah selanjutnya lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

· Anonim, 2008, Biji, http://id.wikipedia.org /,

· Anonim, 2006, Dormansi dan Perkecambahan Biji, http://elisa.ugm.ac.id /,

· Anonim, 2008, Dormansi Benih dan Pemecahannya, http://pustaka.ut.ac.id //, · Anonim, 2006,

Pertumbuhan dan Perkembangan Biji, http://www.freewebs.com //,

· Anonim, 2007, Biji dan Perkembangan Biji, http:// http://www.sith.itb.ac.id //,

· Bold, H.C., Alexopoulos, C.J., and Delevoryas, T. (1980). Morphology ofPlants and Fungtion. New York: Harper & Row, Publishers.

· Tjitrosoepomo, G. (1989). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press.

· http://www.Blog.Ilmu Biologi.com_kategori : Spermathopyta

· www. Freedownload PDFBio_Gymnospermae dan angiospermae.co.id

· http://www.guruNgeblog.OrganTumbuhan_ilmuMorfologi

· http://www.google.com

· http://www.wiki.org.biji.co.id

· http://www.wiki.org.spermathopyta.co.id


Daftar Nama Latin Tanaman Hutan

Famili Nama Latin Nama Daerah
  1. Anacardiaceae
Bouea macrophylla GRIFF Cipotah
  1. Anacardiaceae
Bouea sp.1 Spotah Gunung
  1. Anacardiaceae
Campnosperma aurioulata Hook Tumus
  1. Anacardiaceae
Canarium dentieulatum Kenapuren
  1. Anacardiaceae
Dracontomelon mangiferum BL. Kihing
  1. Anacardiaceae
Gluta renghas L Cik – cik
  1. Anacardiaceae
Gluta sp.1 Beras – Baras
  1. Anacardiaceae
Melanorrhoea wallichii Rengas
  1. Anacardiaceae
Melanorrhoea sp.2 Sitorngom
  1. Anacardiaceae
Melanorrhoea sp.1 Tangis – tangisen menci
  1. Anacardiaceae
Odina spp. Gorat – gorat
  1. Anacardiaceae
Spondias pinnata KURTZ Siap – siap
  1. Anacardiaceae
Spondias sp.1 Telurup
  1. Annonaceae
Polyltha hypoleuoa Bakbaken
  1. Apocynaceae
Alstonia sp.1 Ketepal
  1. Apocynaceae
Alstonia angustiloba Miq Meme
  1. Apocynaceae
Alstonia sp.3 Gecih
  1. Apocynaceae
Alstonia pneumatophora Back Goti
  1. Apocynaceae
Dyera castulata Hook Jelutung
  1. Apocynaceae
Dyera sp.1 Boang
  1. Bignoniaceae
Radermachera gigantea Miq Simarnapuran
  1. Bombacaceae
Ceiba pentandra L.Gaertn Gapuk
  1. Bombacaceae
Durio carinatus Arngah
  1. Bombacaceae
Durio oxleyarus Murr tenger
  1. Bombacaceae
Durio zhibetinus Murr Durian
  1. Bombacaceae
Durio sp.1 Tarutung Bulung
  1. Burseraceae
Canarium pilosua Benn Damar
  1. Burseraceae
Canarium sp.1 Semaue
  1. Burseraceae
Canarium sp.2 Kepeng
  1. Burseraceae
Dacryodes rostrata Paruh Enggang
  1. Burseraceae
Santiria oblongifolia Kabu – kabu
  1. Burseraceae
Stombocia javanica Kacang-kacang
  1. Burseraceae
Stombocia sp.1 Bogol
  1. Caesalpiniaceae
Crudia spp. Tembeski
  1. Casuarinaceae
Casuarina sumatrana Jungh Kayu Ketang
  1. Combretaceae
Terminalia copelandii Ketapang
  1. Compositae
Vernonia arborea Ham Sibernaik
  1. Datistaceae
Octomeles sumatrana Miq Binuang
  1. Dipterocarpaceae
Dipterocarpus kunstleri King Kruing
  1. Dipterocarpaceae
Dipterocarpus borneensis Lagan
  1. Dipterocarpaceae
Dipterocarpus sp.1 Asar Madat
  1. Dipterocarpaceae
Dryobalanops abnormis Kapur
  1. Dipterocarpaceae
Hope sangal Korth Cengal
  1. Dipterocarpaceae
Hopea dryobalanoides Damar Mata Kucing
  1. Dipterocarpaceae
Shorea bracteolata dyer Meranti Putih
  1. Dipterocarpaceae
Shorea sp.1 Berek
  1. Dipterocarpaceae
Shorea sp.2 Meranti Gembong
  1. Dipterocarpaceae
Shorea leprosula Miq Meranti Merah
  1. Dipterocarpaceae
Shorea laevifolia Sige – sige
  1. Dipterocarpaceae
Shorea macroptera Damar laut
  1. Dipterocarpaceae
Shorea sp.3 Gering
  1. Dipterocarpaceae
Shorea pauciflora King Ubar
  1. Dipterocarpaceae
Shorea platyclados Meranti Batu
  1. Dipterocarpaceae
Shorea sp.6 Pangi – pangi
  1. Dipterocarpaceae
Shoreasp.4 Piangi
  1. Dipterocarpaceae
Shorea mecistopteryx Ridl Meranti
  1. Dipterocarpaceae
Shorea uliginosa Berabas
  1. Dipterocarpaceae
Shorea sp.5 Meranti udang
  1. Dipterocarpaceae
Shorea teysmanniana Dyer Meranti kulit buaya
  1. Euphorbiaceae
Actephila spp. Katarasa
  1. Euphorbiaceae
Aleurites moluccana Kemiri
  1. Euphorbiaceae
Baccaurea griffithii HOOK. Bengkurung
  1. Euphorbiaceae
Claoxylon spp. Tongir – tongir
  1. Euphorbiaceae
Excoecaria agallocha L Buta – buta
  1. Euphorbiaceae
Macaranga javanica Sitarak
  1. Euphorbiaceae
Macaranga sp.2 Gundur – gundur
  1. Euphorbiaceae
Macaranga sp.1 Kecapet
  1. Euphorbiaceae
Macaranga triloba MUELL. Coping – coping
  1. Euphorbiaceae
Macaranga sp.3 Sung
  1. Euphorbiaceae
Mallotus barbatus Sibalik Angin
  1. Euphorbiaceae
Sapium baccatum Roxb Adulpak
  1. Euphorbiaceae
Sapium sp.1 Dulpak Ndeleng
  1. Euphorbiaceae
Sapium sp.2 Ortong
  1. Euphorbiaceae
Sindora leiocarpa Backer Rabah
  1. Fabaceae
Dialium indum L. Asam Tanin
  1. Fabaceae
Dialium sp.1 Riman
  1. Fabaceae
Elateriospermus tapus lemas
  1. Fagaceae
Castanopsis javanica Ordong – ordong
  1. Fagaceae
Castanopsis sp.1 Gatot-gatot
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.1 Kikembu
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.9 Bunga – bunga
  1. Fagaceae
Lithocarpus elegans Kecing Bunga
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.4 Mening – mening
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.5 Sernehe
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.10 Tuhur – tuhur
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.6 Guntung
  1. Fagaceae
Lithocarpus coopertus Kayu Uso
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.7 Dalung – dalung
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.11 Kecing Balanga
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.8 Miciangi
  1. Fagaceae
Lithocarpus sp.3 Turi – turi
  1. Fagaceae
Quercus sp.1 Pecing-pecing
  1. Fagaceae
Quercus subsericea A.Camus Kecing Batu
  1. Flacourtiaceae
Pangium edule Reinw Tuba – Tuba
  1. Guttiferae
Garcinia mangostana Manggis Hutan
  1. Guttiferae
Garcinia parvifolia Kandes
  1. Guttiferae
Jackia ornata Wall Kayu air
  1. Hypericaceae
Cratoxylon arborescens Bronggang
  1. Lauraceae
Beilschimedia sp.1 Tenggolen
  1. Lauraceae
Beilschimedia sp.2 Rimo – rimo
  1. Lauraceae
Cinnamomum parthenoxylon Bair
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.8 Celuruk
  1. Lauraceae
Cinnamomum javanicum Sitelu Uruk
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.1 Berade
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.12 Cemon cemon
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.10 Medang Bunga
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.14 Sampulalae
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.2 Unjung Damar
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.6 Kulit Manis
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.9 Medang Kersik
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.3 Modang putih
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.7 sawal
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.4 Jambu  jambu
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.5 Mandu amas
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.13 manis-manis
  1. Lauraceae
Dehaasia caesia Medang Sanggar
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.9 Baning-baning
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.1 Benang Kuning
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.2 Kubang
  1. Lauraceae
Dehaasia cuneata Medang kuning
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.8 Modang monyet
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.5 Ndelaing
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.4 Ndelit
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.6 Kut-kuten
  1. Lauraceae
Dehaasia sp.7 Medang landit
  1. Lauraceae
Litsea sp.10 Badir
  1. Lauraceae
Litsea sp.7 Kayu kersik
  1. Lauraceae
Litsea sp.11 Mberawas
  1. Lauraceae
Litsea ordorifera Medang Solar
  1. Lauraceae
Litsea sp.2 Buturen
  1. Lauraceae
Litsea sp.10 Cincin Urat
  1. Lauraceae
Litsea sp.8 Gelip
  1. Lauraceae
Litsea sp.1 kerten
  1. Lauraceae
Litsea sp.6 Koletasu
  1. Lauraceae
Litsea sp.12 Kurasar
  1. Lauraceae
Litsea sp.15 Martualu
  1. Lauraceae
Litsea amara Blurne Medang
  1. Lauraceae
Cinnamomum sp.11 Modang merah
  1. Lauraceae
Litsea sp.13 Ndri
  1. Lauraceae
Litsea sp.14 Pistri
  1. Lauraceae
Litsea sp.4 Sumari
  1. Lauraceae
Litsea sp.6 Tasu
  1. Lauraceae
Litsea sp.5 Teruten
  1. Lauraceae
Shorea platyclados Medang Batu
  1. Leguminosae
Koompassia excelsa Taub Tualang
  1. Leguminosae
Koompassia malaccensis Tuma – tuma
  1. Leguminosae
Koompassia malaccensis Maing Kompas
  1. Leguminosae
Ormosia sp.1 Simarin balang
  1. Leguminosae
Ormosia sumatrana Simari Batu
  1. Leguminosae
Parkia singularis Miq Kabo
  1. Leguminosae
Parkia speciosa Petai
  1. Leguminosae
Sindora wallichi Graham Tapa – tapa
  1. Magnoliaceae
Aromadendron elegans Modang Hitam
  1. Melastomataceae
Urtica spp Latong
  1. Meliaceae
Aglaia argantea Banga Kera
  1. Meliaceae
Aglaia tomentosa Langsat Hutan
  1. Meliaceae
Baccaurea sp.1 Jentikkin
  1. Meliaceae
Baccaurea macrocarpa Otor – otor
  1. Moraceae
Ficus gibbosa Kaya ara
  1. Moraceae
Ficus sp.2 Make
  1. Meliaceae
Toona sp.2 Lipora
  1. Meliaceae
Toona sp.1 Remperah
  1. Moraceae
Artocarpus elastious Ranw Kasumpat
  1. Moraceae
Artocarpus elastica Terep
  1. Moraceae
Artocarpus rigidus Cempedak
  1. Moraceae
Artocarpus sp.1 Doko – doko
  1. Moraceae
Artocarpus integra Nangka Hutan
  1. Moraceae
Ficus benjamina Beringin
  1. Moraceae
Ficus sp.1 Ficos/Pencilik
  1. Moraceae
Ficus grossulariodes BURM Rahu
  1. Myristicaceae
Horsfieldia irya Warb Daro-daroh
  1. Myrtaceae
Decaspermum fruticosum Forst. Benten
  1. Myrtaceae
Eugenia spp. Nggacip
  1. Myrtaceae
Melaleuca leucadenron Gelam
  1. Myrtaceae
Rhodamnia sp.1 Baja
  1. Myrtaceae
Rhodamnia cinerea Jack Kubang – Kubang
  1. Myrtaceae
Rhodemnia sp.2 Kayu Batu
  1. Nyssaceae
Litsea firma Sangketan
  1. Nyssaceae
Nyssa javanica Bahing – bahing
  1. Olaceae
Strombosia javanica Gersap
  1. Rosaceae
Parastemon urophillum Kelet
  1. Rubiaceae
Gardenia tubifera Alban
  1. Rubiaceae
Petungah spp. Kopi – Kopi
  1. Rubiceae
Anthocephalus cadamba Kalompean
  1. Rubiceae
Cinchona sp.2 Alngit
  1. Rutaceae
Zanthoxylum rhetsa (ROXB.)DC Guranci
  1. Sapindaceae
Nephelium malaiense. Cambukbuken
  1. Sapindaceae
Nephelium lappaceum Rambutan
  1. Sapindaceae
Pometia tomentosa Kongkir
  1. Sapotaceae
Palaquium gutta Meang
  1. Sapotaceae
Palaquium sp.4 Meang Baka
  1. Sapotaceae
Palaquium sp.3 Meang Kuning
  1. Sapotaceae
Palaquium sp.1 Meang susu
  1. Saurauiaceae
Saurauia sp.1 Sosopan
  1. Saurauiaceae
Saurauia sp.2 Endet
  1. Simaroubaceae
Irvingia malayana Ndeleng
  1. Simaroubaceae
Irvingia sp.1 Laddorong
  1. Staphyleaceae
Heritiera simplicifolia.1 Lesi – lesi
  1. Staphyleaceae
Heritiera simplicifolia.2 Mesi – mesi
  1. Sterculiaceae
Sterculia macrophylla Vent Tapak gajah
  1. Styracaceae
Styrax benzoin Kemenjen
  1. Theaceae
Adinandra dumosa Miq Api – api
  1. Theaceae
Adinandra sp.1 Linggahang
  1. Theaceae
Eurya sp.1 Leba
  1. Theaceae
Eurya sp.2 Raru
  1. Theaceae
Gordonia multinervis KING. Daudakka
  1. Theaceae
Gordonia sp.1 Tarsandeleng
  1. Thymelaeaceae
Aquilaria moluccensis Oken Gaharu
  1. Urticaceae
Boehmeria glomerutifolia MIQ nderung

Nama latin daerah dan latin diatas adalah nama latin yang ada di sumatera utara dan aceh..

Daftar Tanaman Taman Hutan

  No.  Nama Daerah Nama Latin   No.  Nama Daerah Nama Latin
1 Bungur Lagerstromia speciosa 32 Balam sudu Palaguium sumatranum
2 Jening Pithecolobium lobatum 33 Sawo duren Crysophyllum cainito
3 Khaya Khaya anthotheca 34 Kedinding Albizzia leppecioides
4 Pingku Dysoxylum excelsum 35 Kepuh Sterculia foetida
5 Lamtorogung Leucaena lecocephala 36 Dadap Erythrina cristagalli
6 Puspa Schima wallichii 37 Salam Eugenia polyantha
7 Kenanga Canangium adoratum 38 Sungkai Pheronema canescens
8 Locust Hymenaena courburil 39 Matoa/kasai Pometia pinnata
9 Kisireum Eugenia cymosa 40 Locust Hymenaea courbaril
10 Manglid Michelia velutina 41 Ebony/kayuhitam Dyospiros celebica
11 Cengal Hopea sangkal 42 Kempas Kompasia excelsa
12 Flamboyan Delonix regia 43 Sawo kecik Manilkara kauki
13 Tanjung Mimusops elengi 44 Asam Tamarindus indica
14 Trembesi Samanea saman 45 Pingku Dysoxyllum exelsum
15 Beringin Ficus benjamina 46 Johar Cassia grandis
16 Kepuh Sterculia foetida 47 Angsana Pterocarpus indicus
17 Angsret Spathodea campanulata 48 Tengkawang layar Shorea mecistopteryx
18 Nyamplung Callophylum inophyllum 49 Kecapi Shandoricum koetjape
19 Leda Eucalyptus deglupta 50 Palem Raja Oerodoxa regia
20 Tengkawanglayar Shorea mecistopteryx 51 Kalak Poliantha lateriflora
21 Johar Cassia siamea 52 Saputangan Maniltoa brawneodes
22 Merbau pantai Intsia bijuga 53 Bacang Manejitera foetida
23 Tengkawangmajau Shorea palembanica 54 Kayu manis Cinnamomun burmanni
24 Hoe Eucaliyptus platyphylla  55 Kawista Feronia limonia
25 Merawan Hopea mangarawan 56 Kenanga Canangium odoratum
26 Blabag Terminalia citrina 57 Hopea bancana
27 Pala hutan Myristica fatua 58 Shorea selanica
28 Cemara sumatra Casuarina sumatrana 59 Pterogota alata
29 Palur raja Oreodoxa regia 60 Khaya K. sinegalensis
30 Kibeusi leutik Lindera srtichchytolia 61 Khaya K. grandiflora
31 Kaliandra Calliandra marginata 62 Khaya K. anthotheca

Nama Tanaman Keras dan Nama Latin

  • Ajan Kelicung (Diospyros macrophylla)
  • Andalas (Morus macroura)
  • Baobab (Adansonia Digitata)
  • Bintaro (Cerbera manghas)
  • Eboni (Diospyros celebica)
  • Gaharu (Aquilaria moluccensis)
  • Gandaria (Bouea macrophylla)
  • Jati (Tectona grandis)
  • Karet (Hevea braziliensis)
  • Kapuk Randu (Ceiba pentandra)
  • Kenari (Canarium ovatum)
  • Kendal (Cordia bantamensis)
  • Kepuh (Sterculia foetida)
  • Kokoleceran (Vatica bantamensis)
  • Limpasu (Baccaurea lanceolata)
  • Maja (Aegle marmelos)
  • Majegau (Dysoxylum densiflorum)
  • Nagasari (Palaquium rostratum)
  • Trembesi (Albizia saman Sin. Samanea saman)

TAMAN NASIONAL BERBAK

 

 

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Pencagaralaman merupakan padanan kata dari nature conservation, dimana cagar alam sendiri didefinisikan sebagai sebidang lahan dalam bentang alam yang dijaga untuk melindungi flora dan fauna yang ada di dalamnya (Soemarwoto, 2004). Berdasarkan data dari World Conservation Strategy, proses konservasi ini ditujukan untuk memelihara proses ekologi yang esensial sebagai sistem pendukung kehidupan; mempertahankan keragaman gen; menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan (Soemarwoto, 2004). Sesuai dengan hal tersebut, maka kondisi cagar alam haruslah diupayakan agar secara optimal dapat mendukung fungsinya sehingga tujuan-tujuan konservasi dapat dicapai.

Berdasarkan teori biogeografi pulau (meski tidak selalu benar), wilayah konservasi di tengah daerah aktivitas manusia (pertanian, industri, pemukiman) dapat dianggap sebagai  suatu pulau. Makin luas wilayah konservasi, makin tinggi keragaman jenisnya. Hutan belantara yang belum terganggu dapat dianggap sebagai sumber jenis. Karena itu, makin dekat wilayah konservasi ke belantara, makin tinggi pula keragaman jenisnya (Soemarwoto, 2004).

Selain luas dan kedekatan dengan sumber jenis, bentuk wilayah  juga mempengaruhi jumlah jenis yang dapat hidup dalam suatu wilayah konservasi. Bentuk yang lebih kompak lebih mendukung jumlah jenis daripada bentuk memanjang tak teratur akibat adanya efek tepi yang lebih kecil pada bentuk kompak (Indrawan dkk., 2004). Untuk luas dan bentuk yang sama, satu wilayah tunggal lebih baik daripada beberapa wilayah kecil. Jika pun wilayah luas yang tunggal sulit didapat, maka penggunaan wilayah-wilayah kecil yang terpencar dapat diatasi dengan pemanfaatan keberadaan koridor atau stepping stones (Indrawan dkk., 2004). Koridor dapat berfungsi sebagai jembatan (jalur) migrasi. Contoh kawasan yang harus besar adalah kawasan yang diperuntukkan bagi konservasi gajah, harimau dan badak.

Berdasarkan paparan di atas, dapat dinyatakan bahwa secara umum, kondisi karakter bentang alam sangat berpengaruh terhadap pengelolaan suatu kawasan konservasi, seperti taman nasional. Dalam makalah ini, akan dikaji kondisi bentang alam pada lima taman nasional di Indonesia, mencakup:

  • Taman Nasional Berbak,

 

1.2  Tujuan

Tujuan penulisan makalah adalah untuk menentukan faktor-faktor dalam bentang alam yang mempengaruhi kesuksesan konservasi  dalam taman nasional.

 

 

BAB II PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL

 

Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Pasal 1 butir 13 UU No. 5 Tahun 1990). Salah satu bentuk kawasan pelestarian alam yang kita kenal adalah taman nasional.

Taman Nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Di Indonesia, setidaknya terdapat 45 kawasan yang termasuk taman nasional. Lima diantaranya yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Taman Nasional Berbak, Ujung Kulon, Gunung Gede-Pangrango, Gunung Halimun dan Bali Barat.

 

Gambar 2.1 Peta Taman Nasional di Indonesia.

Kelestarian taman nasional sebagai kawasan konservasi bergantung kepada beberapa hal. Dari sisi bentang alam sendiri,  wilayah konservasi dengan patch  ukuran besar memiliki stabilitas yang lebih daripada dengan patch berukuran kecil. Hal ini juga didukung oleh bentuk yang kompak dengan nilai shape index mendekati 1  (Lele dkk., 2008). Nilai SI terutama berpengaruh karena merupakan representasi rasio kawasan tepi terhadap bagian inti patch (Molles, 2010). Semakin besar nilainya, semakin besar pula kemungkinan gangguan dan penyampaiannya ke bagian patch yang lebih dalam.

 

2.1  Taman Nasional Berbak

Taman Nasional Berbak merupakan kawasan pelestarian alam untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara. Kawasan ini memiliki hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang tidak saja dilindungi secara nasional, tetapi juga secara internasional yaitu dengan ditetapkan sebagai Lahan Basah Internasional dalam Konvensi RAMSAR pada tahun 1992. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 285/Kpts-II/1992, wilayah ini ditetapkan sebagai taman nasional dengan luas 162.700 hektar yang mencakup Kab. Tanjung Jabung, Provinsi Jambi (Letak geografis 1°08’ – 1°43’ LS, 104°05’ – 104°26’ BT). Kawasan ini memiliki temperatur udara harian 25° – 28° C dengan curah hujan rata-rata 2.300 mm/tahun. Sebagai kawasan pesisir, wilayah Taman Nasional Berbak memiliki ketinggian tempat 0 – 20 meter dpl.

Berikut adalah peta kawasan ini.

 

Gambar 2.2 Peta Taman Nasional Berbak.

 

Gambar 2.3 Peta Taman Nasional Berbak (Balai TN Berbak)

Pada peta gambar 2.3 kita dapat melihat bahwa kawasan ini sebetulnya telah memanfaatkan konsep zona daerah penyangga. Sebagai suatu kawasan lahan basah, keberadaan daerah penyangga sangat penting artinya. Kawasan lahan basah memerlukan daerah penyangga berupa ekosistem terestrial terutama sebagai habitat bagi spesies semi akuatik seperti beragam reptil dan amfibi (Indrawan dkk., 2004). Selain itu, jika dilihat, daerah pemukiman juga diupayakan berada dalam daerah penyangga, bukan daerah inti. Dengan ini diharapkan masyarakat masih dapat memanfaatkan kekayaan alam tanpa secara langsung mengambilnya dari kawasan konservasi.

Jika diperhatikan, bentuk kawasan TN Berbak cenderung kompak (meski agak memanjang). Dalam kondisi ideal, bentuk bulat memang yang diharapkan. Namun, prinsip geometri ini memang sulit untuk dicapai dalam kenyataan karena lahan konservasi biasanya diperoleh secara kebetulan atau oportunistik (Indrawan dkk., 2004). Dalam kasus ini, TN Berbak juga merupakan Ramsar Site. Dengan begitu, penetapan kawasannya juga harus mempertimbangkan tipe ekosistem yang ada (diutamakan ekosistem lahan basah).

Meskipun bentuknya cenderung kompak, bukan berarti kawasan ini tidak menghadapi ancaman. Sebagai kawasan lahan basah, jalan masuk ke Taman Nasional dapat dicapai dengan menelusuri Sungai Air Hitam. Jika dilihat, DAS Air Hitam dapat dianggap sebagai jalur yang memfragmentasikan (memotong) kawasan Berbak. Berdasarkan beberapa kasus pembakaran hutan di kawasan ini, penyusupan melalui DAS oleh masyarakat bukan hal yang jarang terjadi. Bahkan, penyusupan ini banyak berujung pada meningkatnya jumlah titik api di musim kemarau yang menyebabkan kerusakan parah di kawasan inti TN Berbak. Selain melalui DAS Air Hitam, penyusupan juga dilakukan dari berbagai titik awal karena TN Berbak memiliki banyak pintu masuk (Balai TN Berbak). Dalam hal ini, beberapa kegiatan masyarakat yang mendorong pembakaran adalah pembalakan liar, pencurian ikan, pengambilan getah jelutung, perburuan, pengambilan rotan dan pembukaan lahan pertanian atau perkebunan (Ginson).

Masih berkaitan dengan DAS Air Hitam, hulu DAS ini juga berada dalam kondisi buruk. Penebangan telah menyebabkan kerusakan sistem hidrologis alami yang sangat menunjang kelestarian ekosistem lahan basah di Berbak. Wilayah hulu yang telah kehabisan kayu ini (Lubis dan Suryadiputra) menyebabkan meningkatnya kemungkinan kebakaran hutan di kawasan Berbak yang memiliki potensi pelepasan karbon hingga 20 juta ton.

Salah satu konsep penting yang terkait hubungan DAS Air Hitam dengan TN Berbak adalah bahwa suatu wilayah konservasi idealnya memasukkan seluruh unit ekologi yang berperan, misal: seluruh bagian daerah aliran sungai (Indrawan dkk., 2004). Sayangnya, DAS yang sangat penting bagi TN Berbak ini tidak sepenuhnya masuk ke dalam kawasan konservasi. Bagian hulu DAS yang sangat berpengaruh justru dalam status kritis pasca penebangan dengan HPT yang diberikan pada dua perusahaan tertentu. Perusahaan tersebut kini dinyatakan berhenti beroperasi karena kehabisan stok kayu.

 

2.2  Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan sisa ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat hidup badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Dalam kawasan ini, terdapat tiga tipe ekosistem yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980 melalui SK Menteri Pertanian yang kemudian ditunjuk melalui SK Menteri Kehutanan No. 284/ Kpts-II/92 dengan luas 122.956 ha yang terletak di Letak Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Temperatur udara harian kawasan adalah 25° – 30° C dengan curah hujan rata-rata 3.200 mm/tahun. Ketinggian kawasan adalah 0 – 608 meter dpl dengan letak geografis pada 6°30’ – 6°52’ LS, 102°02’ – 105°37’ BT.

 

Gambar 2.4 Peta TN Ujungkulon.

 

Gambar 2.5 Peta TN Ujung Kulon.

Jika dilihat dari sisi luas wilayah, dalam kondisi yang baik, kawasan ini memenuhi syarat untuk pelestarian herbivora besar seperti badak karena memiliki luas > 10.000 ha. Meskipun begitu, secara garis besar kawasan ini masih bisa terbagi ke dalam 3 bagian, yaitu Pulau Panaitan, daerah Semenanjung Ujung Kulon (Pulau Handeuleum) dan daerah Sumur. Secara umum, akses jalan hanya masuk hingga Tanjung Lame (melalui daerah pesisir di utara) dan Cegog (di selatan ).

Dilihat dari segi bentuk, tepian kawasan Sumur cenderung kompak. Meskipun begitu, nampak dari bagian utara maupun selatan, kawasan pemukiman dengan akses jalan dapat memberikan pengaruh yang cukup besar. Akan lebih baik jika kawasan di bagian tersebut juga dikelola oleh badan konservasi, misal sebagai daerah penyangga. Dengan begitu, aktivitas manusia di kawasan tersebut dapat lebih ditekan efek negatifnya, terutama masalah efek tepi.

Aksesibilitas juga penting untuk dibatasi. Jika akses jalan bisa masuk sampai ke perbatasan kawasan konservasi Sumur dan Pulau Handeuleum, dikhawatirkan terjadi fragmentasi di celah sempit yang akan memperburuk kawasan gerak satwa liar yang dilindungi. Pengelolaan jaringan antar kawasan konservasi dalam taman nasional merupakan hal yang dianggap baik. secara teknis, satu pihak mengawasi luasan besar wilayah akan meningkatkan kemungkinan kawasan tidak terawasi sepenuhnya. Dengan membagi kawasan kerja dan tetap melakukan koordinasi, diharapkan pengawasan dapat dilakukan secara lebih optimal.

 

2.3  Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango memiliki ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980 dengan luas 15.000 hektar yang terletak di Kab. Bogor, Kab. Cianjur dan Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Temperatur udara harian kawasan adalah 5° – 28° C dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Ketinggian kawasan konservasi adalah 1.000 – 3.000 m. dpl dengan letak geografis 6°41’ – 6°51’ LS, 106°50’ – 107°02’ BT.

Jika dilihat dari bentuk patch, kawasan TNGP memiliki bentuk wilayah seperti bintang (asterik) dengan luas hanya l.k. 15.000 ha. Ukuran yang relatif kecil dengan kemungkinan efek tepi yang tinggi menyebabkan rendahnya ketahanan kawasan konservasi. Secara teknis, pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan pengelolaan kawasan berbentuk bulat, meskipun kawasan konservasi secara kasar dapat dikatakan berupa suatu patch tunggal.

 

Gambar 2.6 Peta TN Gede-Pangrango.

Pada gambar selanjutnya kita dapat lebih banyak melihat pengaruh aksesibilitas aktivitas manusia terhadap ketahanan wilayah konservasi. Jika diperhatikan dengan seksama, nampak bahwa jalan akses (garis merah) biasanya berujung pada celah yang menjorok ke arah kawasan taman nasional. Misalnya adalah akses dari Cimande, Selabintana, Situgunung dan Cimungkat. Dapat kita pahami bahwa efek tepi akan ditingkatkan dengan adanya intrusi berupa akses jalan. Sebagai hasil, peningkatan efek tepi akan membuka lebih banyak lahan tertutup sehingga aksesibilitas juga meningkat.

 

Gambar 2.7 Peta akses TN Gede-Pangrango.

Hal yang dapat diupayakan untuk menanggulangi ancaman kerusakan dan penurunan luas wilayah yang lebih parah di kawasan ini adalah sebagai berikut.

Pertama, dapat dibentuk zona reforestasi di sekitar kawasan hutan yang mengambil bentuk sedemikian hingga bentuk hutan semakin bulat (nilai SI semakin mendekati 1). Meskipun secara umum kawasan ini telah memiliki zona penyangga dan transisi, hanya saja kondisinya sekarang sangat memperihatinkan. Reforestasi terutama dilakukan di daerah penyangga.

Kedua, dilakukan pembatasan akses masuk ke zona inti konservasi. Terutama di daerah puncak dengan sumberdaya dan luas yang rendah, pembatasan kegiatan manusia menjadi penting karena aktivitas manusia dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kondisi kawasan konservasi. Kini, TNGP merupakan salah satu kawasan konservasi yang kritis karena tingkat aktivitas manusia di dalamnya nyaris melebihi daya dukung yang dimilikinya (Soemarwoto, 2004).

 

2.4  Taman Nasional Gunung Halimun

Taman Nasional Gunung Halimun merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, hutan sub-montana dan hutan montana di Jawa. Hampir seluruh hutan di taman nasional ini berada di dataran pegunungan dengan beberapa sungai dan air terjun, yang merupakan perlindungan fungsi hidrologis di Kabupaten Bogor, Lebak, dan Sukabumi. Iklim kawasan ini basah dan merupakan sumber mata air beberapa sungai yang alirannya bertahan sepanjang tahun serta delapan air terjun yang potensial untuk pariwisata.

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/92 dengan luas 40.000 ha yang terletak di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi. (Provinsi Jawa Barat) dan Kabupaten Lebak (Provinsi Banten). Temperatur udara harian rata-rata 30° C dengan curah hujan 4.000 – 6.000 mm/tahun. Ketinggian kawasan konservasi adalah 500 – 1.929 meter dpl dengan letak geografis 6°37’ – 6°51’ LS, 106°21’ – 106°38’ BT.

Berikut adalah peta kawasan tersebut.

 

Gambar 2.8 Peta Taman Nasional Gunung Halimun

Bentuk kawasan konservasi TNG Halimun cenderung tidak beraturan, memiliki banyak lekukan, pada beberapa lokasi seperti terlipat dan ada bagian yang nyaris putus menjadi patch yang terpisah. Salah satu jalur yang cukup fatal memisahkan wilayah TNG Halimun adalah jalan dari Cipanas ke Cikotok. Dapat dilihat adanya zona depresi yang menyempit di wilayah sekitar Candi Cibedug. Di bagian timur, tekanan dari aktivitas manusia seperti perkebunan the juga nampak cukup parah. Jika dilihat, di bagian timur nampak ada bagian cekungan (kurva) yang menjorok ke arah kawasan konservasi.

Upaya penekanan efek tepi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi daerah penyangga terutama di bagian-bagian tepi yang kritis (misal: adanya tekanan aktivitas perkebunan). Selain itu, fungsi daerah transisi juga penting agar kelestarian daerah penyangga juga dapat dijaga.

Seperti halnya di kawasan TNGP, di kawasan ini pun penting untuk dilakukan revitalisasi zona penyangga dan pembatasan aktivitas manusia di dalam kawasan konservasi. Hal lain yang dapat diupayakan adalah reforestasi di bukaan sebelah timur laut (punggung) kawasan. Di wilayah tersebut nampak ada wilayah hijau muda pada peta citra satelit yang merupakan patch bukaan hutan di tengah tutupan hutan.

Peran masyarakat Kasepuhan yang tinggal di sekitar taman nasional juga harus dioptimalkan. Masyarakat adat biasanya memiliki tata aturan yang secara ketat diterapkan dalam menjaga kawasan hutan yang dianggap penting. Hutan yang sama sekali tidak boleh dijamah biasa disebut sebagai leuweung larangan. Selain itu, secara kultural kawasan Gunung Halimun juga dianggap sakral. Dengan begitu, upaya pendekatan pada masyarakat memang pantas dilakukan.

Dalam menyikapi tidak cukup luasnya kawasan konservasi di TN Gunung Halimun dan TN Gede-Pangrango, dapat dilakukan upaya yang sejalan dengan prinsip pengelolaan dan konservasi bentang alam. Bersama dengan kawasan Gunung Salak, dapat dibangun koridor habitat antara ketiga kawasan ini. Manfaat yang dapat dipetik adalah peningkatan luas total kawasan pergerakan hewan, peningkatan kualitas konservasi bagi Hylobates moloch, Presbytis comata comata dan Trachypithecus auratus, peningkatan ketahanan kawasan terhadap gangguan, dll. keberadaan koridor ini juga mendukung diperlukannya suatu sistem pengelolaan regional yang mampu mengawasi keberjalanan konservasi di lokasi-lokasi yang saling berkaitan (Indrawan dkk., 2004). Dengan begitu, pengelolaan dan konservasi bentang alam dapat dilakukan dengan lebih terpadu dan berkelanjutan.

 

2.5  Taman Nasional Bali Barat

Taman Nasional Bali Barat mempunyai luas 19.002,89 ha. terdiri dari kawasan terestrial seluas 15.587,89 ha. dan kawasan perairan selaus 3.415 ha. Secara administrasi pemerintahan, Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terletak dalam 2 kabupaten yaitu Kabupaten Buleleng dan Jembrana, Propinsi Bali. Secara geografis terletak antara 8o 05′ 20″ sampai dengan 8o 15′ 25″ LS dan 114o 25′ 00″ sampai dengan 114o 56′ 30″ BT.

Topografi kawasan terdiri dari dataran landai (sebagian besar datar), agak curam, dengan ketinggian tempat antara 0 s.d 1.414 mdpl. Terdapat 4 buah gunung yang cukup dikenal dalam kawasan, yaitu Gunung Prapat Agung setinggi ± 310 mdpl, Gunung Banyuwedang ± 430 mdpl, Gunung Klatakan ± 698 mdpl dan Gunung Sangiang yang tertinggi yaitu ± 1002 mdpl. Di perairan laut terdapat 4 pulau yang masuk dalam kawasan TNBB yaitu P. Menjangan ± 175 Ha, P. Burung, P. Gadung, dan P. Kalong.

Tingkat ketergantungan penduduk sekitar kawasan konservasi terhadap sumberdaya hutan cukup tinggi. Ketergantungan ini biasanya terhadap sumberdaya kayu bakar untuk keperluan rumah tangga maupun sumberdaya pakan ternak. Ketergantungan yang merupakan salah satu ciri masyarakat wilayah perbatasan hutan ini dapat mempengaruhi keutuhan dan kelestarian sumberdaya kawasan konservasi. Selain itu, sumberdaya hutan yang seringkali dijadikan komoditi dan diambil dari Taman Nasional oleh penduduk diantaranya satwa-satwa liar.

Berkaitan dengan potensi flora dan fauna yang dimilikinya, TNBB seringkali identik sebagai taman nasional yang dibentuk untuk konservasi Jalak Bali (Leucopsar rothchildi). Meskipun begitu, secara umum dapat dikatakan kawasan TNBB kaya akan potensi fauna. Berdasarkan jenisnya, fauna yang terdapat di TNBB antara lain terdiri dari 7 jenis mamalia, 2 jenis reptilia, 105 jenis burung, 120 jenis ikan, dan lain-lain.

Menilik nilai penting kawasan yang dimilikinya, penataan kawasan pengelolaan TNBB sesuai fungsi peruntukannya telah ditetapkan berdasarkan SK Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam No.186/Kpts/Dj-V/1999. Berdasarkan keputusan di atas, TNBB dikelola dengan bentuk zonasi sebagai berikut.

  • Zona inti. Zona ini merupakan kawasan yang mutlak dilindungi, tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia kecuali yang berhubungan dengan kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan. Kawasan ini meliputi wilayah daratan seluas 7.567,85 ha dan perairan laut seluas 455.37 ha.
  • Zona rimba.  Zona ini merupakan kawasan penyangga dari zona inti. Pada kawasan ini, dapat dilakukan kegiatan seperti pada zona inti dan kegiatan wisata alam terbatas. Kawasan ini meliputi daratan seluas 6.009,46 ha dan perairan laut seluas 243.96 ha.
  • Zona pemanfaatan intensif. Dalam kawasan ini dapat dilakukan aktivitas penelitian, wisata alam, pembangunan sarana dan prasarana pariwisata alam dan rekreasi atau penggunaan lain yang menunjang fungsi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan ini meliputi daratan seluas 1.645,33 ha dan perairan laut seluas 2.745.66 ha.
  • Zona pemanfaatan budaya. Kawasan ini dikembangkan dan dimanfaatkan terbatas untuk kepentingan budaya atau religi. Kawasan ini meliputi wilayah daratan seluas 245,26 ha yang digunakan untuk kepentingan pembangunan sarana ibadah umat Hindu.

 

Gambar 2.9 Peta TN Bali Barat

Prinsip zonasi cagar alam telah diterapkan di kawasan ini. Hal ini penting ditetapkan secara tegas karena kawasan TN Bali Barat berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat. Berdasarkan zona yang ada, untuk aktivitas budaya dilakukan di dalam zona pemanfaatan budaya seluas 245,26 ha. Dalam kenyataannya, meskipun telah dilakukan zonasi, masih saja terdapat pelanggaran-pelanggaran yang merupakan akibat dari tingginya ketergantungan masyarakat akan hasil hutan.

Jika dilihat dari bentuknya, sebetulnya bentuk kawasan konservasi ini cenderung kompak. Sayangnya, antara bagian utara dan selatan terfragmentasi oleh jalan raya (garis merah). Diantara kendaraan yang melintas adalah kendaraan yang merapat di pelabuhan Gilimanuk yang bergerak menuju timur Pulau Bali. Di bagian barat daya pun, terdapat jalan yang memanjang di tepi pesisir menuju Pulau Bali bagian selatan. Karenanya, dibutuhkan upaya lebih agar fragmentasi ini memiliki efek yang seminimal mungkin.

Jika dilihat dari luas kawasan, maka TN Bali Barat termasuk kecil. Namun, dengan melihat bahwa kawasan ini berada di pulau kecil juga, nilai penting kawasan ini tidak dapat dipatahkan. Secara kasar, kawasan ini mencakup l.k. 10% dari luas daratan Pulau Bali.

Beberapa hal yang dapat diupayakan untuk mengoptimalkan keberjalanan fungsi kawasan konservasi adalah penegasan lapangan mengenai zonasi kawasan, penekanan efek fragmentasi oleh jalan raya dan kerjasama konstruktif dengan masyarakat adat.

 

 

BAB III PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Faktor-faktor dalam bentang alam yang dapat mempengaruhi kesukesan konservasi dalam taman nasional adalah sebagai berikut.

  • Bentuk kawasan dan penekanan tingkat efek tepi.
  • Luas kawasan.
  • Keutuhan unit ekologi yang dicakup dalam kawasan (misal: keseluruhan DAS).
  • Keberdaaan daerah penyangga dan transisi.
  • Pelibatan masyarakat lokal.
  • Keberadaan koridor habitat.
  • Ketiadaan fragmentasi.
  • Keberadaan jaringan pengelolaan regional.

 

3.2  Saran

Untuk mendapatkan kawasan konservasi yang ideal sesuai prinsip-prinsip yang diacu adalah hal yang sangat sulit dilaksanakan di lapangan. Meskipun begitu, dengan mengetahui prinsip-prinsip ideal tersebut, diharapkan upaya konservasi dapat dilakukan dengan lebih optimal. Secara sederhana, kelemahan konservasi yang sulit ditanggulangi sebaiknya segera diseimbangkan dengan mengupayakan sisi lain yang lebih memungkinkan. Dengan begitu, upaya konservasi dapat terus berlangsung.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ginson, Andri. ___. Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan di Taman Nasional Berbak Jambi. Palembang: Wetlands International Indonesia Programme.

Indrawan, Mochamad, Richard B. Primack dan Jatna Supriatna. 2004. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lele, N., P.K. Joshi dan S.P. Agrawal. 2008. Science Direct. “Assessing forest Fragmentation in northeastern region (NER) of India using landscape matrices”. (online) diunduh dari http://www.elsevier.com.

Lubis, Irwansyah Reza dan I.N.N. Suryadiputra. ___. Upaya Pengelolaan Terpadu Hutan Rawa Gambut Bekas Terbakar di Wilayah Berbak – Sembilang. Palembang: Wetlands International Indonesia Programme.

Molles, Manuel C. 2010. Ecology Concepts and Applications Fifth Edition. New York: McGraw-Hill.

Soemarwoto, Otto.   2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.

http://www.dephut.go.id/informasi/tamnas/tn3ber.htm

 

DIMUAT ULANG OLEH,,, YOGA RANANDA

 


LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

VISKOMETER STOKES & HIDRODINAMIKA

 

Dosen :

Drs. N A S R I M.Z,MS

Oleh : Kelompok VI

Kelas M2

  1. YOGA RANANDA       D1D011118
  2. M. KHOTIBUL FITRA D1D011119
  3. ENGGI EDIANSYAH   D1D011116
  4. ROZI YULIANDRI       D1D011120
  5. VIKTOR ANDRIANO  D1D011117
  6. PUTI NILAM CAHYO  D1D01115

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

     Mengukur ialah membandingkan suatu besaran yang tidak diketahui dengan suatu besaran yang sudah diketahui yang diambil sebagai ukuran standar. Hasil pengukuran ini berupa bilangan. Bilangan ini menyatakan diperlukan beberapa banyak besaran yang diukur itu. Besaran yang diketahui itu disebut satuan, besaran yang diketahui atau pun yang tidak diketahui dinyatakan dalam bilangan atau pun satuan yang bersangkutan, atau :

Besaran = bilangan x satuan

            Jadi, pada percobaan kali ini bila kita jatuhkan benda kecil berbentuk bola yang massa jenisnya lebih besar dari pada zat air yang diam, maka benda tersebut akan jatuh secara perlahan-lahan ( tenggelam ). Hal ini disebabkan benda tersebut mendapat gaya geser yang menentang arah pergerakan arah tersebut. Dimana arah gaya resultan yang ditimbulkannya terhadap benda akan selalu nmengarah ke atas. Jadi, dapat disimpulkan pentingnya belajar viskometer stokes dan hidrodinamika adalah agar bisa menganalisa dan menjelaskan mengapa suatu fenomena bisa terbentuk. Seseorang agar bisa mencapai tahap ini dibutuhkan dasar-dasar yang sangat kuat. Hidrodinamika memberikan kemampuan atau pemahaman lebih untuk menganalisa fenomena yang kompleks dari fluida.

 

 

1.2  Tujuan

 

  • Menentukan koefisien vikositas minyak pelimas
  • Menentukan jarak pancar zat cair yang mengalir
  • Menentukan volune / debit zat cair yang mengalir

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Viskometer stokes

Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluida terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai “kekentalan”, atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluida. Air memiliki viskositas rendah, sedangkan minyak sayur memiliki viskositas tinggi.

Setiap benda yang bergerak relatif terhadap benda lain selalu mengalami gesekan (gaya gesek). Sebuah benda yang bergerak di dalam fluida juga mengalami gesekan. Hal ini disebabkan oleh sifat kekentalan (viskositas) fluida tersebut. Koefisien kekentalan suatu fluida (cairan) dapat diperoleh dengan menggunakan percobaaan bola jatuh di dalam fluida tersebut. Gaya gesek yang bekerja pada suatu benda yang bergerak relatif terhadap suatu fluida akan sebanding dengan kecepatan relatif benda terhadap fluida :

F = – b . v (1)

dimana : F = gaya gesek yang dialami benda. b = konstanta gesekan. v = kecepatan benda.

 

Hidrodinamika

            Hidrodinamika merupakan salah satu cabang ilmu yang berhubungan dengan gerak liquid atau lebih dikhususkan pada gerak air. Skala atau lingkup analisis ilmu ini adalah pada gerak partikelir air atau dapat disebut dalam skala makroskopik. Skala makroskopik disini memiliki maksud air tersusun dari partikel-partikel fluida. Mengapa makroskopik karena partikel fluida bukan skala terkecil air yakni atom. Lebih penting lagi bidang ini merupakan aplikasi matematik bukan fisika. Karena berhubungan dengan perlakuan matematik dari persamaan-persamaan dasar fluida kontinyu berbasis hukum-hukum newton. Jadi objek yang dijadikan bahan analisa merupakan fluida newton.

Mempelajari hidrodinamika memiliki beberapa fungsi yang berkaitan dengan keilmuan oseanogarafi. Fungsi pertama adalah untuk mengetahui dan memehami kejadian atau fenomena-fenomena fisis yang terjadi di laut. Lalu juga dapat digunakan untuk memprediksi gerak fluida karena didalamnya dipelajari tentang unsur-unsur penggeraknya. Yang ketiga untuk membangun daya analisa bagi seorang peneliti. Daya analisa ini sangat bergantung pada riset yang dilakukan. Riset bukan hanya mencari tahu tentang apa yang belum kita ketahui. Karena ika hanya itu batasan riset maka orang yang tidak berpendidikan pun dapat melakukan riset yang sangat-sangat sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI

 

3.1 Waktu dan Tempat

                Dalam melaksanakan praktikum telah di sepakati bersama bahwa di laksanakan pada hari selasa, 10 April 2012 yang di lakukan pada pukul 13.30-14.30 wib, dan bertempatan di laboratorium UP-MIPA Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

3.2 Alat dan Bahan

            A. Viskometer stokes                                                       

v  Gelas ukur

v  Bola plastik

v  Oli ukuran  SAE 20

v  Mistar

v  Penjepit

v  Mikrometer sekrup

v  Oli ukuran SAE 40

v  Stopwatch

v  Neraca

v  Saringan plastik

                                                           

            B. Hidrodinamika

v  Tabung bonanza

v  Stopwatch

v  Mistar

v  Ember plastik

v  Gelas piala

v  Jangka sorong

v  Air

v  Serbet

 

 

 

3.3 Prosedur kerja

            A. Viskometer stokes

                 a. Menyiapkan alat dan perlengkapan lain yang telah diberikan spesifikasi datanya.

b. Mengukur jari-jari bola dengan mikrometer sekrup lalu menimbang beratnya                                                                                 dengan neraca.

c. Memberi tanda dan mengukur jarak yang akan ditempuh bola pada alat ukur.

d. Menjatuhkan bola perlahan-lahan pada gelas ukur A dan mencatat waktunya                       dengan memakai stopwatch, dan melakukannya lagi sebanyak 3 x ulangan.

e. Mengulangi lagi pada gelas ukur B.

f. Membuat hasil pengamatan dalam bentuk tabel.

 

            B. Hidrodinamika

                 a. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.

b. Memberi lubang kecil pada tabung bonanza yang dapat menentukan luas                            penampangnya dan mengukur diameter.

c. Memasukkan air kedalam tabung, sebelumnya lubang ditutup dengan jari agar                    air tidak mengalir.

d. Mengukur tinggi permukaan air dari dasar tabung (H)

e. Melepaskan jari dari lubang tabung bersamaan dengan itu di jalankan stopwatch.

f. Mengukur jarak pancar air pertama yang mengalir keluar dengan mistar yang          telah disiapkan.

g. Melakukan hingga sampai 3 x ulangan.

h. Mencatat hasil pengamatan dalm suatu tabel.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

            “ Viskometer Stokes “

No Obyek Massa

( gr )

Volume

( ml )

Jarak

( cm )

Waktu

( detik )

Massa Bola

( gr )

Jari-Jari Bola

( cm )

1.

 

OLI SAE

20

 

204.44 gr 250 ml

 

14 cm T1 = 28 s

T2 = 21 s

T3 = 22,3 s

0,10 gr 0,292 cm
2. OLI SAE

40

207,72 gr 250 ml 14 cm T1 = 25 s

T2 = 22,1 s

T3 = 20 s

0,10 gr 0,292 cm

 

 

“ Hidrodinamika “

Tinggi air ( h )

( cm )

Diameter

( cm )

Jarak ( x )

( cm )

Waktu ( t )

( cm )

30 cm 0,71 cm X1 = 23 cm

X2 = 22,5 cm

X3 = 23 cm

T1 = 25,17 cm

T2 = 24,24 cm

T3 = 24,04 cm

40 cm 0,83 cm X1 = 30 cm

X2 = 29 cm

X3 = 29 cm

T1 = 16,20 cm

T2 = 17,02 cm

T3 = 16,68 cm

 

 

 

 

 

 

 

4.1 Pembahasan

Viskometer stokes

  1. Yang dimaksud dengan viskositas suatu zat adalah koefisien dimana adanya konsentrasi atau kekentalan suatu zat di dalam suatu bejana.
  2. V bola = 4/3 r2

=4/3 x 3.14 x (0.29)2cm

= 0.35 cm3

v bola = h/t

= 14 cm/23.76 s

= 0.58 cm/s

Masasa jenis bola = m/V

= 0.10 gr/0.35 cm3

= 0.28 gr/cm3

Massa jenis oli SAE 20 = m/V

= 204.44 gr/250ml

=0.817 gr/cm3

Massa jenis oli SAE 40= m/V

=207.72gr/250 ml

= 0.83 gr/cm3

 

SAE 20

Ƞ = 2π x g (ρ21)/9v

= 2 x 3.14 x 978.5 cm/s2 (0.28 gr/cm3-0.817gr/cm3)

9v

= 632.155

= 6.32 x 10-2 poise

SAE 40

ῃ= 2π x g (ρ21)/9v

= 2x 3.14x 978.5 cm/s2 ( 0.28 gr/cm3– 0.83 gr/cm3)

9v

= 631.22

= 6.31 x 10-2 poise

 

 

Hidrodinamika

            luas tabung A    : 2 x luas alas x tinggi

: 2 x 3.14 x ( 0.35)2 cm x 30 cm

: 23.07 cm2

 

Luas tabung B             : 2 x luas alas x tinggi

: 2 x 3.14 x (0.41)2 cm x 30 cm

: 31.67 cm 2

v di A : √2gh                                       v di B :√2gh

: √2 x 978.5 x 30 cm                                   :√2 x 978,5 x 40 cm

: 242.3 cm/s                                                  : 279.78 cm/s

 

Q ; Ax v                                              Q : A x v

: 23.07 cm2 x 242,3 cm/s                      : 31.67 cm2 x 279.78 cm/s

: 5589.86 cm3/s                                     : 8860.63 cm3/s

V : Q x t                                              V : Q x t

: 5589.86cm3/s x 24.28 s                     : 8860.63 cm3/s x 16.63 s

: 135720.3 cm3                                              : 147352.2 cm3

: 0.135 m3                                             : 0.147 m3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. KESIMPULAN

 

Kesimpulan yang dapat diperoleh adalah ;

  • semakin kecil ketinggian suatu tempat, maka kecepatan air yang mengalir semakin cepat dan begitu juga sebaliknya.
  • Sebuah benda yang bergerak di dalam fluida juga mengalami gesekan. Hal ini disebabkan oleh sifat kekentalan (viskositas) fluida tersebut

 

%d blogger menyukai ini: