RANGKUMAN PENYAKIT-PENYAKIT PASCA PANEN TANAMAN PANGAN

 

 

 

DISUSUN OLEH :

  1. 1.     YOGA RANANDA
  2. 2.     DEDE IRAWAN
  3. 3.     AKHMAD KURNIAWAN
  4. 4.     IANSYAH LAMHOT
  5. 5.     ENGGI EDIANSYAH
  6. 6.     HARYATI
  7. 7.     LENSI ERIKA SARI
  8. 8.     NENI SAFITRI

 

UNIVERSITAS JAMBI

FAKULTAS PERTANIAN

2011/2012

 

 

 

 

BAB I

Pendahuluan

          Pasca panen adalah semua kegiatan yang di lakukan terhadap  suatu komoditi sejak komoditi tersebut di panen sampai penggunaan akhir, baik untuk konsumsi maupun untuk maksud lain. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pemanenan, pemasaran, pemilihan, dan penyimpanan.

          Bahan pangan, khusus dalam bentuk biji-bijian merupakan bahan  pangan yang tidak tahan lama dan mudah menjadi busuk.  Bahan pangan tersebut selain tidak tahan lama juga peka terhadap serangan hama maupun patogen, khususnya bakteri, virus, maupun jamur.

            Biji-bijian sebagai bahan utama bagi manusia dan binatang mengandung senyawa-senyawa penting yaitu :

  1. Karbohidrat , merupakan  sumber energi
  2. Lemak juga sebagai sumber energi
  3. Protein, sebagai cadangan energi, untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh
  4. Mineral sebagai bahan untuk memperbagai dan untuk mengatur proses kimia dalam tubuh, dan
  5. Vitamin di gunakan untuk proses kimia di dalam tumbuh dan di perlukan dalam jumlah yang sedikit dan tidak disintesis oleh rubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ARTI PENTING PENYAKIT PASCA PANEN DI BIDANG PERTANIAN

  1. Pengertian  penyakit pasca panen

Penyakit yang muncul pada tanaman dari saat benih di tanam sampai panen disebut penyakit sebelum panen atau pre harvest disease, sedang penyakit yang muncul dari saat panen sampai hasil panen dikonsumsi disebut pasca panen atau post harvest disease.

 

          Tukidjo (1985) menyebutkan bahawa periode waktu yang meliputi dari benih ditanam sampai penanaman di sebut fase I dan penyakit  yang terdapat pada periode ini sebut  penyakit fase I atau field disease, sedang periode waktu yang meliputi penanaman sampai hasil tanaman di kosumsi disebut fase II, dan penyakit pada periode ini disebut penyakit fase II (post harvest disease).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

PENYEBAB KERUSAKAN PASCA PANEN DAN AKIBAT YANG DI TIMBULKAN

          Beberapa  penyakit yang muncul setelah panen, termasuk selama pengangkutan dan penyimpanan disebabkan terutama oleh bakteri, jamur virus dan oleh penyebab non patogen. Patogen-patogen tersebut dapat bekerja sendiri sendiri atau bersama sama, sedang penyakit non patogen atau fisiologi disebab kan oleh bahan bahan itu sendiri atau disebabkan aktivitas metabolisme dari jaringan-jaringan bahan yang disimpan, dan juga disebabkan oleh fluktuasi dari keadaan luar.

A.Penyebab patogen

1. Bakteri

          Kebanyakan bakteri menyerang biji-bijian yang disimpan adalah suku Psedomonadaceae, bacillaceae, micrococeae, dan enterobabacteriaceae.

2. Jamur

          Penyebabab penyakit jamur dapat juga menyebabkan penyakit pada bahan-bahan yang kering, seperti pada biji-bijian dan juga terjadi pada bahan-bahan yang berdaging. Pada biji-bijian pada umumnya penyerangan perkembangannya lambat dan dapat terjadi pada suhu atau lengas nisbi udara yang lebih intervalnya, sedang penyakit yang timbul pada bahan-bahan biasanya berkembang sangat cepat, memerlukan suhu tinggi dengan lengas nisbi udara yang relative tinggi pula.

3. Virus

          Beberapa macam virus dapat menyebabkan penyakit pada sayuran yang disimpan. Gejala biasanya berbentuk mosaik, gejala ini disebabkan oleh deskruksi kholorofil atau pigmen secara tidak teratur. Dan juga terjadi gejala laten dan baru Nampak setelah bahan-bahan telah berada didalam simpanan.

 

B. Penyebab Non Patogen

          Penyebab pasca panen non pathogen atau umumnya disebut fisiologi adalah penyakit yang disebabkan oleh bahan-bahan  itu sendiri atau disebabkan aktivitas metabolisme dari jaringan bahan-bahan yang disimpan, atau juga disebabkan oleh flukluasi dari keadaan luar. Gejala non pathogen dapat berbentuk :

–         Memar

–         Perubahan warna

–         Pembusukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

BIOEKOLOGI PENYAKIT PASCA PANEN

            Gangguan pasca panen disebabkan penyebab patogen dan non patogen. Penyebab patogen pada komoditi pasca panen seperti halnya pada tanaman di lapangan yaitu:bakteri,jamur dan virus.

A.PENYEBAB PENYAKIT,GEJALA DAN DAUR HIDUP BAKTERI E.CAROTOVORA

            Sel bakteri E.Carotovora berbentuk batang dengan ukuran ( 1,5-2,0)x(0,6×0,9) micron.

Umumnya membentuk rangkaian sel seperti rantai ,tidak mempunyai kapsul,dan tidak berspora.

B.PENYEBAB PENYAKIT,GEJALA,DAN DAUR HIDUP JAMUR ASPERGILLUS SP.PADA KACANG TANAH PASCA PANEN

            Jamur Aspergillus sp. Menginfeksi biji-bijian,jagung,kacang tanah,dan kapas.

Gejala serangan  jamur pada biji kacang tanah di tandai dengan jamur berwarna hitam dan berwarna hijau.

C.PENYEBAB PENYAKIT,GEJALA DAN DAUR HIDUP JAMUR PANICILLIUM SP PADA KACANG TANAH

            Panicillium sp.yang menginfeksi biji kacang tanah berupa gumpalan miselia berwarna putih menyelimuti biji,diselingi warna kebiru-biruan.

D.PENYEBAB PENYAKIT,GEJALA DAN DAUR HIDUP JAMUR PANICILLIUM SP.PADA BIJI KEDELAI

            Jamur panicillium sp.pada biji kedelai ditemukan berupa gumpalan miselia berwarna putih kebiru-biruan yang menyelimuti seluruh permukaan biji.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB.V

INFEKSI DAN KONTAMINASI HASIL PASCAPANEN

Infeksi dan kontaminasi pada biji dapat terjadi:

1.Secara langsung menginfeksi biji dan berada dalam jaringan

2.Secara tidak langsung mengkontaminasi pada permukaan biji

Mekanisme penyebaran patogen dapat dibedakan dua proses yaitu:

1.Penetapan dari patogen pada biji,proses ini biasanya disebut dengan patogen yang terbawa biji

2.Penyerahan dari patogen yang lewat biji,dan menetapnya pada tanaman atau pada biji.dalam hal ini patogen tersebut disebut dipindahkan lewat biji

INFEKSI PADA BIJI

Pada dasarnya infeksi pada biji-bijian dapat dibagi menjadi:

1.Ovule infection

2.Embryo infection

3.Endosperm infection

4.Seed coat infection

5.Pericarp infection

6.Bract infection

7.Contamination of seed coat and pericarp

8.Concomitant seed contamination

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP MUNCULNYA PENYAKIT PASCA PANEN

            Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap bahan yang disimpan khususnya terhadap perkembangan jamur simpanan adalah: kandungan air, suhu dan lengas nisbi udara, lama penyimpanan, terdapat benda-benda asing dan aktifitas lama.

A.Kandungan air

            Kandungan air sangat berpengaruh terhadap perkembangan jasad renik. Sebagai contoh beras dan gabah dapat disimpan pada waktu tertentu, tanpa atau sedikit menurunkan kualitas bila kandungan airnya antara 13-14 persen, sedang di atas 13-14 persen akan mempercepat perkembangan jasad renik terutama jamur.

B.Suhu Ruang Penyimpanan

            Selain kandungan air, suhu juga merupakan faktor penting dalam penyimpanan beras sebab akan memengaruhi daya simpannya. Penyimpanan pada suhu rendah lebih aman dibandingkan dengan suhu yang lebih rendah. Bila terjadi penurunan suhu maka pertumbuhan jamur akan menurun begitu juga sebaliknya.

C.Lama Penyimpanan

            Kandungan air, suhu dan lama penyimpanan merupakan faktor yang erat hubungannya dengan pertumbuhan jamur simpanan, pertumbuhan jamur yang terbatas memungkinkan bahan yang di simpan agak lebih lama.

D.Tingkat Keparahan Biji akibat Serangan Jamur

            Biji yang diserang jamur pada periode sesudah panen sebelum disimpan, akan bertambah kepekaannya terhadap serangan jamur simpanan bila disimpan.

E.Benda-benda Asing

            Benda-benda asing berpengaruh negatif terhadap kualitas bahan yang disimpan. Yang termasuk benda-benda asing adalah: biji tanaman lain, biji pecah, bagian dari tanaman atau serangan hama atau butiran-butiran tanah yang terbawa dari lapang.

F.Kegiatan Serangan Hama

            Serangan hama dan tungau mempengaruhi perkembangan jamur simpanan dengan cara: meningkatkan kandungan air bahan, dan membawa penyebaran spora jamur ke tempat lain.

G.Faktor-faktor Lain yang Juga Berpengaruh adalah:

– Kondisi lapang

– Pemanenan dan penanganan

– Kondisi pengangkutan

BAB VII

DAMPAK KERUSAKAN, KHUSUSNYA TERBENTUKNYA TOKSIN TERHADAP MUTU HASIL DAN KESEHATAN KONSOMEN

A.Bentuk kerusakan (penurunan daya kecambah, perubahan warna, perubahan berat, dan perubahan bahan kimia)

            Kerusakan-kerusakan yang di sebabkan oleh jamur simpanan telah dimulai sejak bahan dipungut dari lapangan sampai masuk ke gudang simpanannya. Bentuk kerusakan tersebut meliputi penurunan daya kecambah; perubahan warna; perubahan berat; perubahan biokoimia; dan terbentuknya toksin. Penurunan daya kecambah di sebabkan karena membusuknya biji-bijian atau terjadi gejala “damping off” pada kecambah akibat serangan patogen.

B.Toksin

            Kerusakan yang terjadi karena adanya serangan jamur simpanan adalah terbentuknya toksin yang dikeluarkan oleh jamur. Beberapa jamur penghasil mikotoksin adalah:

a.Aspergillus Flavus dengan toksin aflatoksin

b.Paniccilium  citro-viride dengan toksin citro-viridin

c.P.patulum dengan toksin citrinin

d.P.citrium dengan toksin patulun

e.P.expansum dengan toksin patulin

f.P.ochraceus dengan toksin ochratoksin

g.aspergillus ochraceus dengan toksin ochraceus

h.Versicolor dengan toksin seterigmatocystin

C.Penggolongan mikotoksin

            Mikotoksin dapat didefisinikan sebagai suatu fraksi kecil dari sejumlah metabolit sekunder yang dihasilkan jamur dalam metabolismenya. Terjadinya metabolisme sekunder sangat di pengaruhi berbagai faktor antara lain keadaan morfogenesis jamur, keadaan jenis atau strain jamur tertentu dan keadaan substrat tempat tumbuh jamur.

D.Mikotoksin penting pada biji serealia

            Bahan utana pangan biji serealia merupakam media tumbuh yang baik bagi berbagai macam mikroorganisme termasuk jamur yang menghasilkan mikotoksin. Jamur yang menyerang biji serealia dan legun mengeluarkan berbagai macam mikotoksin. Berikut ini di uraikan jenis mikotoksin penting yang dapat terjandung dalam biji serealia dan legun yang di serang oleh patogen-patogen pasca panen: aflatoksin, streigmatosistin, luteoskirin, patulin, zearalenon, siteroviridin, trikotesena, asam aspergilat, asam penisilat, asam kojat, asam helvolat, citrinin, okratoksin.

BAB VIII

PENYAKIT PENTING PASCA PANEN PADA TANAMAN PANGAN, KHUSUSNYA PADI, JAGUNG, KEDELAI, KACANG TANAH, UBI JALAR (KETELA RAMBAT), DAN KETELA POHON

A.Penyakit-penyakit pada tanaman padi

Jamur-jamur yang terdapat pada biji padi dapat digolongkan menjadi jamur lapangan (field fungi) dan jamur pascapanen (postharvest fungi). Jamur-jamur lapangan yang umum terdapat pada biji padi (gabah) dalah :

  1. Fusarium moniliforme
  2. Fusarium spp.
  3. Phoma spp.
  4. Alternaria oryzae.
  5. Nigrospora oryzae (Berk. Dan Br ) petch.
  6. Helicoceras oryzae linder dan Tall.
  7. Trichoconis caudate (Ap. DanAtr.) Clem.
  8. Cladosparium herbarum Link et fr.
  9. Curvularia maculans.
  10.  Curvalaria lunata.
  11. Epiccoccum neglectum Desm.
  12. Helminthosporium oryzae dreschlera oryzae.
  13. Pyricularia oryzae.
  14. Ustilaginoidea virens

 

 

   Jamur-jamur pasca panen, khususnya jamur simpanan terdiri dari marga :

  1. Aspergillus
  2. Penicillium
  3. Rhizopus
  4. Mucor

 

 

Jamur-jamur penting pasca panen yang menginfeksi biji padi ( gabah ) yaitu :

  1. Foot Rot

Terdapat pada daerah penanaman padi seperti China, Taiwan, Filipina, Uganda, Italy, India dan juga Indonesia.

Menyebabkan biji berwarna coklat muda sampai coklat tua dan biji menjadi hampa.

  1. Alternaria oryzae

Terdapat di daerah pertanaman padi di dunia, termasuk di Indonesia.

Jamur ini menyerang biji-bijian  (gabah) sebelum panen.

  1. Curvularia lunata
    Jamur ini dilaporkan pada pertanaman padi atau tanaman lain sbeagai penyebab bercak daun, busuk biji, busuk akar, perubahan warna biji, bercak pada biji dan biji mengalami  deformasi.
  2. Brown spot
    Terdapat  di daerah padi di dunia seprti india juga Indonesia.
    infeksi terjadi pada biiji dan bulir, kadang-kadang bulir kelihatan sehat, tetapi setelah terjadi infeksi panen.
  3. Blast Disease
    Terdapat di daerah pada pertananman padi di india ataupun Indonea. Penyerangan trejadi pad pasca panen dan biji-biji padi yang terdapat pada bulir yang terinfeksi.

 

  1. PENYAKIT-PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG.

 

  1. BUSUK TONGKOL FUSARIUM

Penyakit ini merupakan penyakit penting di beberapa daerah penanaman jagung di dunia.

Penyakit ini menyebakan biji busuk smapai pada pangkal tongkol berwarna bervariasi dari merah jambu sampai coklat kemerhan atau coklat kelabu, tergantung banyak sedikitnya jamur dan cuaca.

  1. Busuk tongkol diplodia

Pantogen ini terdapat di temapat-tempat yang beriklim dingin.

Pantogen ini menyebakan seddling blight, busuk tangkai dan busuk biji. Infeksinya melalui biji dan tanah.

  1. Busuk penicilliuum

Gejala yang tampak yaitu adanya spora jamur mirip tepung yang berwarna biru sampai hijau atau hijau tua yang melekat umumnya pada pangkal tongkol dan apabila dalam keadaan yang menguntunkan dapat menyellimuti seluruh bagian tongkol jagung.

  1. Busuk tongkol aspergillus

Gejala yang tampak pada tongkol yaitu berwarna kehijauan, kuning sampai hitam. Kerusakan pada umumnya terjadi pada bagian ujung tongkol yang sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu di dalam penyimpanan atau gudang.

  1. Gosong bengkak

Biji-biji yang terinfeksi membengkak dan membentuk kelenjar. Semula gall berwarna putih, selanjutnya kelenjar berwarna hitam, setelah jamur berkembang dan membentuk spora.

 

 

  1. PENYAKIT-PENYAKIT PADA TANAMAN KEDELAI

 

  1. Busuk biji phomopsis

Biji yang terinfeksi akan retak dan mengkerut atau keriput, mengecil dan terdapat bercak yang merupakan tubuh jamur berwarna coklat keabuan atau hitam dan biasanya mempunyai daya kecambah yang rendah.

  1. Cercospora kikuchii

Gejala pada biji yang terinfeksi akan menglami diskolorasi pada kulit yang berwarna pink sampai keunguan. 

  1. Soybean mosaic virus

Gejala soybean mosaic virus pada biji kedelai yang terinfeksi akakn menglami diskolorasi berwarna hitam , namun diskolorasi tersebut tidak harus menjadi indicator serangan SMV karena dapat juga di pengarui oleh factor lingkungan lain sehingga muncul belang pada biji.

 

 

  1. PENYAKIT-PENYAKIT PADA KACANG TANAH

 

  1. Apergillus flavas
  2. Apegillus niger

 

 

  1. PENYAKIT-PENYAKIT PADA TANAMAN UBIJALAR
  2. Penyakit yang disebabkan oleh jamur
    1. Penyakit busuk lunak
    2. Penyakit busuk hitam
    3. Penyakit busuk permukaan
    4. Penyakit busuk kering
    5. Penyakit busuk hitam jawa
    6. Penyakit busuk arang
    7. Penyakit yang disebabkan oleh jamur aspergillus
    8. Penyakit busuk hitam
    9. Penyakit yang disebabkan bakteri
      1. Bakteri busuk lunak soft rot
      2. Busuk kering
      3. Bacillus

BAB IX

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT PASCA PANEn

  1. PENGENDALIAN PENYAKIT PASCA PANEN PADA UMUMNYA.
  2. Gangguan fisiologi

Pengendalia dilakukan dengan :                                                                                        

  1. Penagturan suhu
  2. Kelembaban relative
  3. Perbandingan CO2 dan H2
  4. Penggarapan hati-hati
  5. Menjaga kebersihan
  6. Pengendalian akumulasi gas-gas beracun

Pengendalian dilakukan denagn :

  1. Menyerap gas beracun
  2. Pemberian Ka. Permanganate
  3. Gangguan sebelum panen
    1. Menggunakn fungisida sistematik pada hormone 4-CPA
    2. Gangguan pasca panen
      1. Menggunakan alat pemetik
      2. Pengakutan hati-hati
      3. Cara pengepakan
      4. Cara penggudangan
      5. Pengeringan suhu dingin  dan tingggi
      6. Meningkatkan kelembaban relative
      7. Sinar radiasi

 

 

  1. Pengendalian prapanen.

 

  1. Penggunaan benih sehat
  2. Pengolahn tanah yang baik
  3. Cara bercocok tanam.
    1. Penagturan jarak tanaman
    2. Pemupukan
    3. Penyiangan
    4. Penegndalian hama dan pantogen

 

  1. Pengendalian saat panen
    1. Penentuan saat panen
    2. Penggunaan alat panen
    3. Perlakuan saat panen
      1. Pemilihan dan pemisahan
      2. Perlakuan air hangat
      3. Penyimpanan
      4. Pengangkutan
      5. Pemasaran

Penendalian pada saat pascapanen dapat dilakukan dengan berbagai cara :

  1. Pemisahan secara fisik
  2. Pencucican dan pengenceran
  3. Pengerinngan
  4. Penyimpanan
  5. Penggunaan bahan kimia dan bahan pengikat
  6. Penggunaan bahan alami, zat gizi dan vitamin
  7. Pemanasan dan radiasi