TEKNIK-TEKNIK DALAM MENULIS DAN CARA MEMPERSENTASIKAN TULISAN

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

NAMA : YOGA RANANDA

NIM : D1D011118

PRODI : KEHUTANAN

KELAS : M

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2011/2012

 

KATA PENGANTAR

 

 

 

     Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah selesai tepat pada waktunya, makalah ini mengambil judul tentang “ teknik-teknik dalam menulis dan cara mempersentasikan tulisan“.

 

     Makalah ini berisikan berbagai informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknik dalam menulis dan cara mempersentasikan tulisan. Seperti, judul, abstrak, pendahuluan, materi dan metode, hasil dan pembahasan,kesimpulan dan saran, ucapan terima kasih, dan cara- cara dalam mempersentasikan tulisan.

 

    Penulis menyadari bahwa makalah yang dibuat ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mohon kritik serta saran dari semua pihak yang bersifat membangun, serta menjadi pembelajaran baru bagi penulis sendiri demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

 

     Akhir kata, penulis menyampaikan terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

 

 

 

                                                                                              jambi,  09 januari 2012

 

 

                                                                                                                                    Penulis

 

 

 

 

 

BAB II

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Menulis dan mempresentasikan karya ilmiah merupakan kegiatan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh para mahasiswa (S1, S2, S3), dosen, peneliti atau ilmuwan lainnya untuk mengkomunikasikan hasil pemikirannya atau hasil penelitiannya kepada orang lain menurut kaidah dan etika keilmuan. Karya ilmiah dapat ditulis dalam beberapa bentuk seperti laporan penelitian, makalah seminar, proceeding, kumpulan abstrak, proposal, skripsi, tesis, disertasi, telaah pustaka (review paper), poster atau artikel yang dimediasi oleh internet. Data, simpulan, dan informasi yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dapat digunakan sebagai acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Mengkomunikasikan karya ilmiah merupakan proses dua arah. Komunikasi yang baik akan membuat orang yang diajak berkomunikasi dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh komunikator. Oleh karena itu sebelum seorang ilmuwan mulai menulis atau mempresentasikan tulisannya, ia harus terlebih dahulu memahami apa yang akan disampaikannya?, siapa audience atau pembacanya?, mengapa tulisan ilmiah tersebut dianggap penting untuk disampaikan? dan bagaimana teknik penyampaiannya?. Pemahaman ini sangat diperlukan oleh mahasiswa yang akan menulis karya ilmiah, baik dalam bentuk proposal, laporan hasil penelitian, skripsi, ataupun artikel ilmiah untuk dilombakan atau dipublikasikan di dalam jurnal ilmiah.

Makalah ini dibuat untuk memberikan wawasan dan ilmu tambahan kepada pembaca agar dapat mengetaui tekhnik dalam menulis dan cara mempersentasikan tulisan dengan baik dan benar.

 

1.2 Tujuan

  • Untuk mengetahui tekhnik dalam menulis.
  • Untuk mengetaui cara dalam mempersentasikan tulisan.

 

BAB II.

KERANGKA TULISAN ILMIAH

 

 

Pada umumnya sistematika tulisan ilmiah dalam jurnal ilmiah memiliki kerangka baku yaitu: Judul, Abstrak, Pendahuluan, Materi dan metode, Hasil dan pembahasan, Kesimpulan dan Daftar pustaka. Ada juga Jurnal ilmiah yang mencantumkan Ucapan Terima dan Lampiran (tabel dan gambar). Dalam tulisan ilmiah berbentuk proposal penelitian atau skripsi biasanya dicantumkan bab Tinjauan Pustaka.

Lain halnya dengan tulisan ilmiah hasil penelaahan pustaka (review paper), kadang-kadang karya ilmiah ini tidak mengikuti kerangka baku tulisan ilmiah. Pada Review paper biasanya digunakan judul-judul bab yang relevan dengan subyek yang ditelaah (Sebagai contoh, bab “Materi dan Metode” diganti dengan “Metode Penulisan” atau “Landasan Teori” atau dapat saja dihilangkan). Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan dengan sistematika yang diminta oleh media publikasi (jurnal atau majalah ilmiah), sebab bila tidak sesuai akan sulit untuk dimuat.

Untuk mempermudah penulisan dan pemahaman terhadap tulisan ilmiah, para ilmuwan telah membuat kesepakatan mengenai format baku tulisan ilmiah. Format tulisan ilmiah yang umum digunakan adalah IMRAD, yang merupakan singkatan dari Introduction, Materials and Methods, serta Results and Discussion. Artinya, di dalam sebuah tulisan ilmiah selalu terkandung Pendahuluan, Materi dan Metode serta Hasil dan Pembahasan.

Selain harus memahami berbagai format karya ilmiah, seorang penulis harus juga memahami materi apa saja yang harus disampaikan pada setiap bab, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

2.1. Judul

Judul merupakan bagian penting dalam sebuah tulisan, karena judul akan menginformasikan kepada pembaca tentang isi karya ilmiah tersebut. Judul harus informatif, spesifik dan singkat. Selain itu judul sebaiknya tidak terlalu umum, tidak terlalu panjang, tidak mengandung singkatan, serta harus menggambarkan isi tulisan. Judul yang terlalu umum tidak menggiring pembaca ke arah tulisan, Demikian juga judul yang terlalu panjang cenderung tidak menarik, sulit diingat dan sulit dipahami oleh pembaca. Judul yang informatif sangat membantu pembaca untuk memutuskan apakah tulisan itu harus dibaca atau tidak. Berlakulah jujur dengan judul, jangan mengecoh pembaca.

Judul yang informatif dapat dibuat dengan menerangkan subyek penelitian, bukan hasil penelitian. Letakkan kata yang paling penting pada awal kalimat. Usahakan agar jumlah kata dalam judul sekitar tujuh sampai sepuluh kata serta hindari penggunaan kata yang tidak bermanfaat.

Perhatikanlan contoh-contoh judul berikut:

  • Judul yang terlalu umum : “Pengolahan lumpur sawit”.
  • Judul yang informatif tetapi terlalu panjang : Pengaruh pengolahan lumpur sawit dengan cara fermentasi menggunakan ragi tempe terhadap peningkatan kandungan zat makanan dan pengaruh penggunaannya dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan, bobot karkas dan konversi ransum pada ayam broiler. (32 kata)
  • Judul yang cukup informatif: Pengaruh fermentasi lumpur sawit dengan ragi tempe dan penggunaannya dalam ransum ayam broiler (13 kata)
  • Judul yang kurang informatif : penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dalam ransum unggas (9 kata)

Judul dapat dibuat sebelum menulis isi karya ilmiah, namun setelah selesai penulisan, judul perlu diperiksa kembali untuk meyakinkan bahwa judul akhir sudah relevan dengan isi makalah. Artinya, jangan terlalu terkekang oleh judul karena judul yang sudah dibuat dapat berubah setelah penulisan selesai.

2.2. Abstrak

Abstrak merupakan bagian yang sangat penting, karena pada umumnya orang terlebih dahulu akan membaca abstrak untuk mendapatkan informasi awal tentang suatu hasil penelitian (misal melalui kumpulan abstrak dalam jurnal). Dengan membaca abstrak orang akan memutuskan apakah ia perlu membaca makalah secara keseluruhan atau tidak. Oleh karena itu abstrak harus berdiri sendiri.

Abstrak harus menjelaskan masalah dan poin-poin utama penelitian dengan tepat, singkat dan jelas, sehingga dengan hanya membaca abstrak pembaca dapat mengetahui isi tulisan secara keseluruhan. Penulisan abstrak harus dimulai dengan menyatakan tujuan secara jelas, pendekatan yang digunakan, hasil utama dan diakhiri dengan satu atau dua kalimat yang menyatakan kesimpulan penting. Day (1979) dalam Indriati (2005) menegaskan bahwa abstrak tulisan ilmiah harus:

  1. menyatakan tujuan utama dan skop penelitian;
  2. menerangkan bahan dan metode yang digunakan;
  3. meringkas hasil; dan
  4. menyatakan kesimpulan utama. Panjang abstrak biasanya dibatasi dengan jumlah kata maksimum (tergantung pada jurnal yang memuatnya). Untuk jurnal biasanya abstrak hanya terdiri dari 250 kata saja

Dalam penyusunan abstrak perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:

1)      Nyatakan hasil sebagai fakta jangan mensitasi dari literatus, tabel atau gambar.

2)      Hindari menggunakan singkatan, namun seandainya tidak dapat dihindarkan perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan jurnal yang akan menerbitkannya untuk meyakini apakah singkatan tersebut telah tercantum dalam indeks standar jurnal tersebut.

3)      Sebaiknya ditulis dalam bentuk “past tense”, walaupun dapat juga digunakan bentuk “present tense”. Gunakan tensis secara konsisten dalam seluruh bagian tulisan, atau setidaknya dalam seluruh paragraf dalam satu bab.

4)      Pada akhir abstrak buatlah daftar kata kunci (Key words) untuk menerangkan subyek penelitian. Kata kunci dapat dibuat berdasarkan kata-kata yang tepat dari judul, biasanya sekitar lima kata.

2.3. Pendahuluan

 Dengan demikian pendahuluan harus dapat meyakinkan pembaca bahwa topik yang ditulis adalah penting dan tujuan penelitian/penelaahan adalah benar. Oleh karena itu pendahuluan hendaknya disusun secara spesifik dan singkat, langsung terfokus pada tujuan dan pendekatan, namun memberikan semua informasi penting secara logis kepada pembaca.

Pada karya ilmiah telaah pustaka (review paper), pendahuluan harus diarahkan pada makna penting dan menariknya suatu masalah untuk ditelaah, gagasan kreatif yang ingin disampaikan, pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan, serta tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan. Menurut Malmfors dkk. (2000), pada review paper tinjauan literatur tidak diperlukan dalam pendahuluan, tetapi harus dikembangkan dalam diskusi. Review paper pada umumnya mempunyai pendahuluan yang pendek dan diskusi literatur yang panjang.

Lain halnya dengan proposal penelitian, atau tulisan yang panjang seperti skripsi, tesis dan disertasi, permasalahan penelitian biasanya ditulis dalam bab tersendiri. Permasalahan penelitian ini merupakan penegasan kembali permasalahan yang ditulis pada pendahuluan, tetapi dengan pemaparan yang lebih mendetail.

2.4. Materi dan Metode

Materi dan metode bermaksud menjelaskan langkah-langkah apa yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian. Materi dan metode memberikan deskripsi yang jelas dan lengkap tentang keseluruhan penelitian, percobaan, analisis dan prosedur statistik. Masing-masing sub bab harus disusun secara logis, atau sesuai kronologisnya dengan bahasa informasi yang jelas. Prosedur yang sudah umum digunakan atau sudah dipublikasikan sebelumnya tidak perlu diuraikan dengan panjang lebar, cukup sebutkan sumbernya, namun jelaskan modifikasinya. Materi dan metode harus cukup memberikan informasi sehingga peneliti lain dapat mengulang prosedur tersebut untuk mendapatkan hasil yang sama.

Rancangan percobaan atau jumlah sampel (dalam survey) harus dikemukakan secara jelas dan ringkas agar pembaca dapat merekonstruksi kembali layout penelitian. Terangkan dengan jelas subyek penelitian, jumlah yang digunakan, perlakuan, kondisi lingkungan, ukuran, satuan dan model statistik. Jelaskan asumsi yang dibuat dan nyatakan satuan dalam unit standar. Bila penelitian menggunakan ternak, tanaman atau mikro-organisme, perlu disebutkan genus, spesies, strain serta karakteristik khusus lainnya. Jelaskan pula berapa jumlahnya serta dari mana sumbernya.

Dalam Review paper perlu diuraikan secara cermat tentang cara atau prosedur pengumpulan data dan atau informasi pengolahan data dan atau informasi analisis – sintesis, mengambil simpulan, serta merumuskan saran atau rekomendasi.

2.5. Hasil dan Pembahasan

Di dalam bab ini, antara hasil dan pembahasan, dapat dibuat secara terpisah atau digabung menjadi satu. Menggabungkan antara hasil dan pembahasan dalam satu bab merupakan cara terbaik untuk menghindari pengulangan. Cara mana yang akan dipilih sangat tergantung kepada selera penulis atau pedoman yang ditetapkan oleh institusi/jurnal yang akan menerbitkannya.

Bila antara bab hasil dan bab pembahasan dipisah, maka bab hasil hanya mencantumkan hasil dan ringkasan penelitian saja, tidak ada perbandingan literatur. Hasil harus berisi fakta-fakta saja, yang terdiri dari tabel, keterangan tabel, gambar/grafik serta ringkasan hasil berikut teks penjelasannya. Di dalam teks, hanya diterangkan hasil yang paling penting yang ada pada tabel atau gambar. Menurut Malmfors dkk. (2000), cara terbaik untuk memaparkan hasil, adalah dengan membuat beberapa tabel atau grafik, kemudian dari tabel dan grafik tersebut pilih yang paling penting atau yang mewakili untuk dibahas. Jangan menganggap bahwa setiap tabel dan gambar yang ditampilkan penting untuk dibahas. Namun demikian, data yang cukup harus ditampilkan untuk memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menginterpretasikan hasilnya.

Sama halnya dengan yang ditegaskan oleh Rudestam dan Newton (1992) dalam Indriati (2005), bahwa tugas penulisan hasil adalah untuk memberikan laporan yang lengkap secara singkat, jelas dan sederhana, tanpa harus mendiskusikan seluruh hasil penelitian atau mengulang semua informasi yang ada di dalam tabel. Jangan mengulang menulis angka yang ada dalam tabel di dalam teks, tetapi cukup merangkumnya dalam bentuk kalimat. (Misal : rataan yang diperoleh pada perlakuan A lebih besar dibandingkan B). Hasil yang tidak nyata harus dilaporkan di dalam tabel atau gambar, tidak di dalam kalimat. Bila di dalam kalimat terjadi pengulangan hasil yang sama, cukup nyatakan bahwa hasil tersebut sama. Jangan melaporkan hasil yang tidak ada pada tabel. Bila ada kalimat yang menunjuk tabel, gunakan kata-kata yang sama dengan judul tabel.

Pembahasan merupakan bab yang paling sulit disusun karena selain harus merangkum semua hasil analisis statistik, penulis juga harus memiliki informasi mengenai hasil-hasil penelitian terdahulu sebagai bahan perbandingan serta landasan teori yang kuat. Pembahasan memerlukan kemampuan berfikir secara logis, terfokus, kreatif serta kemampuan dalam mengembangkan interpretasi, karena pembahasan harus menginterpretasikan hasil masing-masing variabel dengan jelas, mengkaitkan hasil satu variabel dengan variabel lainnya yang relevan, menerangkan bagaimana hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan. serta membandingkan hasil tersebut dengan hasil-hasil penelitian terdahulu. Kutiplah bukti-bukti dari literatur yang menunjang atau yang kontradiktif dengan hasil yang diperoleh. Jelaskan hasil yang bertentangan. Pembahasan yang baik kaya akan perbandingan antara hasil yang sejalan dan yang bertentangan. Di dalam pembahasan juga dapat dijelaskan keterbatasan dalam penelitian yang berhubungan dengan rancangan percobaan, jumlah pengamatan atau analisis statistik.

Di dalam bab hasil dan pembahasan, disarankan untuk menggunakan kalimat dalam bentuk past tense untuk menjelaskan hasil penelitian sendiri, tetapi dapat jaga digunakan present tense untuk membahas hasil yang sudah umum diterima.

 

 

2.6. Kesimpulan dan saran

Kesimpulan merupakan ringkasan hasil utama penelitian serta menerangkan artinya bagi penerapan di lapangan. Jangan membuat kesimpulan yang bukan berasal dari hasil penelitian/penelaahan yang dilakukan. Menurut Rahardjo (2005), salah satu cara untuk menguji apakah sesuatu “hal” layak untuk dimasukkan ke dalam kesimpulan adalah dengan menjawab pertanyaan “Apakah tanpa penelitian Anda maka orang tidak dapat mengambil kesimpulan tersebut? Jika ya, maka “hal” tersebut dapat dijadikan kesimpulan. Jika tanpa penelitian Anda orang sudah dapat menarik kesimpulan, maka “hal” tersebut mungkin tidak layak masuk ke bagian kesimpulan.

Dalam membuat kesimpulan, hindari singkatan, akronim atau rujukan literatur. Walaupun beberapa spekulasi awal diperbolehkan, namun harus dihindari adanya ramalan hasil yang berlebihan. Pada akhir kesimpulan pertimbangkan untuk mencantumkan saran untuk menindaklanjuti penelitian yang telah dilakukan.

2.7. Ucapan terima kasih

Ucapan terima kasih ada dua macam, yaitu umum dan khusus atau individual. Ucapan terima kasih umum termasuk untuk institusi, laboratorium, atau penyandang dana. Ucapan terima kasih individual termasuk untuk kolega, teknisi, pembimbing atau orang yang telah berjasa atau terlibat di dalam membantu penelitian. Bila penelitian merupakan bagian dari skripsi, tesis atau disertasi, ucapan terima kasih kepada individu boleh disebutkan.

2.8. Daftar Pustaka

Daftar pustaka biasanya dibuat mengikuti instruksi dimana tulisan ilmiah tersebut dipublikasikan. Instruksi dalam penulisan daftar pustaka sangat beragam. Untuk lebih jelasnya dapat dipelajari dalam penjelasan penelusuran pustaka.

2.9. Daftar lampiran

Lampiran menyajikan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dimengerti, namun bersifat membantu pembaca. Sebagai contoh adalah : kuisioner, prosedur analisis yang mendetail, program komputer. dll.

 

 

2.10. Penggunaan tabel dan gambar dalam tulisan ilmiah

Tabel dan gambar seperti diagram dan grafik, dapat membantu untuk mengartikan angka-angka dan menyampaikan informasi kepada pembaca. Jumlah tabel, diagram atau grafik yang dapat digunakan sangat tergantung kepada banyaknya informasi yang harus disampaikan dan tujuan dari penyampaian informasi.

Tabel harus digunakan apabila kita menginginkan pembaca fokus pada angka tertentu seperti data aktual atau menduga parameter. Diagram atau grafik digunakan bila kita menginginkan pembaca fokus pada hubungan diantara angka. Gunakan tabel untuk meringkas nilai angka sehingga angka tersebut dapat di interpretasikan secara logis dalam kalimat di dalam pembahasan. Oleh karena itu, sebuah tabel harus dibuat tersendiri atau berdiri sendiri.

Judul tabel harus cukup menjelaskan isi / maksud tabel. Gunakan catatan kaki secara bebas untuk membuat tabel jelas dan singkat. Gunakan singkatan dalam tabel, tapi bila masih ada yang perlu dijelaskan, tambahkan catatan kaki. Cantumkan satuan-satuan ukuran yang digunakan dalam tabel. Gunakan format secara logis dengan mengatur ukuran antara panjang dan lebar untuk menghasilkan kolom yang enak dilihat. Bila memungkinkan, tabel sebaiknya dibuat dalam bentuk portrait daripada landscape sesuai dengan lebar halaman agar dapat dibaca tanpa harus memutar makalah. Hindari penggunaan garis vertikal antara colom dan gunakan sedikit garis horizontal, kecuali bila diperlukan. Buatlah tabel yang mudah dibaca dengan judul yang menggambarkan variabel-variabel yang ada di dalam isi tabel.

Bila ada kalimat yang menunjuk tabel, gunakan kata-kata yang sama dengan judul tabel agar pembaca dapat melihat tabel yang tepat. Sajikan data secara sederhana. Jangan menggunakan digit yang melebihi dari digit yang telah ditetapkan dalam metode. Contoh, saat penimbangan diperoleh angka masing-masing 100,10; 100,15 dan 100,25 gram, dengan nilai rataan 100,16667. Untuk penulisan dalam tabel, rataan tersebut harus dibulatkan menjadi 100,17 gr. Hindari menggunakan angka nol atau tanda strip agar tidak membingungkan pembaca. Gunakan kode khusus untuk menunjukkan tidak ada atau data yang tidak teridentifikasi.

Gunakan beberapa gambar penting saja untuk menerangkan hasil penelitian. Gambar harus terfokus pada hubungan antara angka. Gambar harus berdiri sendiri, dapat dimengerti tanpa tergantung pada teks, tabel atau gambar lainnya. Pilihlah jenis gambar yang tepat dan cocok untuk menggambarkan hasil penelitian yang diperoleh.

BAB III.

Penulisan dan Presentasi Ilmiah

 

3.1. Prinsip Umum

Hal penting yang harus diyakini dalam menulis atau mempresentasikan makalah adalah bahwa misi yang akan kita sampaikan dapat diterima oleh audience atau pembaca tanpa banyak menimbulkan kesalahfahaman. Oleh karena itu ada tiga prinsip yang harus diingat dan dipahami oleh penulis atau presenter sebelum menulis atau mempresentasikan karya ilmiahnya, yaitu:

1. Pertanyaan kepada diri sendiri Who? (Siapa), Why? (Mengapa), What? (Apa) dan How? (Bagaimana). Siapa audiencenya, atau pembacanya? Apakah ilmuwan, spesialis, mahasiswa atau masyarakat umum? Mengapa misi tersebut penting untuk disampaikan? Apa pesan yang akan disampaikan?, apakah hasil penelitian atau telaah pustaka ? serta Bagaimana cara penyampaian terbaik agar dapat memuaskan keinginan audience atau pembaca?

2. Unsur “ABC”, yaitu: Acurate dan Audience Adapted (Tepat dan dapat diterima oleh audience), 2. Brief (Singkat) dan 3. Clear (Jelas). Tepat, berarti kosa kata yang digunakan tepat menggambarkan apa yang dimaksud oleh penulis/presenter. Singkat berarti tidak menambahkan hal-hal diluar isi pokok bahasan serta tidak mengulang-ulang hal yang sudah disampaikan. Jelas berarti apa yang ditulis/dipresentasikan tidak memiliki arti ganda atau tidak menimbulkan kebingungan bagi audience atau pembaca.

3. Format “IMRAD” yaitu Introduction (Pendahuluan), Materials and Methods (Materi dan Metode), serta Results and Discussion (Hasil dan Pembahasan) . Pada umumnya isi pokok dari tulisan/presentasi ilmiah tidak terlepas dari suatu rangkaian mulai dari Pendahuluan, Materi dan Metode serta Hasil dan Pembahasan.

Selain memenuhi ketiga prinsip diatas, tulisan atau presentasi yang efektif juga harus disampaikan mengalir dengan lancar secara logis dan koheren (coherence). Logis artinya adalah setiap pemaparan terdiri dari ide pokok didukung oleh penjelasan dan kesimpulan. Sedangkan koheren berarti ide-ide pokok saling berkaitan mendukung ide utama sehingga seluruh bagian tulisan/presentasi merupakan kesatuan yang saling berhubungan.

 

 

3.2. Membuat Kalimat dan Paragraf yang Efektif

Sebuah karya ilmiah terdiri atas beberapa bab, setiap bab terdiri atas beberapa paragraf, setiap paragraf terdiri atas beberapa kalimat. Sebuah kalimat efektif harus dirangkaikan dengan kalimat efektif lainnya untuk membentuk paragraf yang efektif. Demikian pula paragraf yang efektif harus dirangkaikan dengan paragraf yang efektif lainnya untuk membentuk suatu bab yang efektif. Selanjutnya bab yang efektif dirangkaikan dengan bab efektif lainnya untuk membentuk satu kesatuan tulisan yang utuh. Untuk membuat tulisan yang efektif perlu diperhatikan cara penulisan baik di dalam suatu kalimat, antar kalimat dalam paragraf maupun antar paragraf dalam satu bab.

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang mudah dibaca serta mampu menjangkau pikiran pembacanya. Brown (1995) berpendapat bahwa kalimat yang mudah dibaca adalah kalimat yang dapat dibaca dan dimengerti dalam satu kali jalan. Kuncinya adalah satu kali jalan. Dengan membaca dalam satu kali jalan berarti pesan yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh pembaca tanpa mengandung arti ganda Bilamana seorang pembaca harus berhenti sejenak atau mengulang ke belakang untuk memahami maksud suatu kalimat, ini pertanda bahwa kalimat tersebut sulit dibaca. Oleh karena itu suatu hal yang perlu dilakukan oleh seorang penulis adalah mencoba membaca sendiri tulisannya seperti halnya calon pembaca tulisan tersebut. Apabila penulis dapat menjelajah tulisan itu hanya dalam satu kali jalan, itu berarti ia berhasil membuat kalimat yang mudah dibaca.

Paragraf yang efektif adalah paragraf yang dapat menginformasikan berbagai gagasan/maksud penulis yang terdiri atas rangkaian kalimat yang disusun secara logis dan koheren. Untuk mendapatkan suatu paragraf yang logis maka kalimat yang menyusunnya harus terdiri dari ide utama, penjelasan dan kesimpulan. Untuk menciptakan koherensi dapat dilakukan melalui tiga cara. Pertama adalah dengan membuat pengulangan tema pokok atau sinonimnya pada kalimat berikutnya. Kedua adalah melalui pembuatan urutan kalimat sehingga jelas memperlihatkan hubungan antar kalimat (seperti yang dicontohkan pada kalimat ini). Ketiga, dengan menggunakan kata atau prasa penghubung yang menunjukkan bahwa bahasan masih tetap pada alur atau mengulas ulang bahasan sebelumnya atau telah berubah pada bahasan lain. Contoh kata penghubung adalah “walaupun”, “sedangkan” dan “selanjutnya”. Dengan merangkai kalimat yang disusun secara logis dan koheren akan mempermudah pembaca untuk memahami ide utama yang dibahas di dalam suatu paragraf.

Panjang kalimat di dalam satu paragraf harus bervariasi. Kalimat yang pendek mungkin lebih mudah dibaca daripada yang panjang, tetapi satu kalimat panjang yang ditata secara wajar akan lebih mudah dibaca dibandingkan dengan beberapa penggalan kalimat pendek. Idealnya panjang kalimat di dalam satu paragraf tidak lebih dari dua puluh lima kata. (Brown, 1995).

Kalimat yang bervariasi di dalam satu paragraf dapat disusun sebagai berikut: “kalimat pendek untuk memperkenalkan suatu bahasan baru, lalu diikuti kalimat panjang untuk mengembangkan uraiannya, kemudian ditutup dengan kalimat pendek lainnya untuk menyatakan kesimpulan penting”. Perhatikanlah contoh kalimat-kalimat pendek yang benar secara gramatikal tetapi cenderung membosankan:

“Pupuk telah lama digunakan sebelum kami melakukan penelitian. Penggunanya berkeyakinan bahwa pupuk merupakan sumber hara utama yang sangat penting. Oleh karena itu mereka percaya bahwa pupuk dapat digunakan pada pengelolaan padang penggembalaan. Kami telah membuktikan bahwa hal itu benar dalam sistem pengelolaan lahan kami” (Paragraf ini terdiri atas 4 kalimat, 43 kata dengan panjang kalimat rata-rata 10,75 kata).

Bandingkan dengan paragraf berikut:

“Pupuk telah lama digunakan oleh petani. Mereka percaya bahwa pupuk merupakan sumber hara utama yang penting dan sangat berguna bagi pengelolaan padang panggembalaan. Kami telah membuktikannya pada sistem pengelolaan lahan kami” (Paragraf ini terdiri atas 3 kalimat, 31 kata, dengan panjang kalimat rata-rata 10,33 kata). Manakah yang lebih efektif ?

 

3.3. Presentasi yang Efektif

Efektifitas penyampaiaan suatu makalah ilmiah dalam suatu pertemuan tidak saja ditentukan oleh mutu tulisan tersebut tetapi juga oleh kemampuan mempresentasikannya. Tulisan yang baik, yang dipresentasikan dengan baik, sudah tentu akan menghasilkan komunikasi yang baik antara presenter dengan audience-nya. Sebaliknya tulisan yang baik bila dipresentasikan secara tidak menarik akan membosankan dan membuat komunikasi menjadi kurang efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan presentasi suatu makalah ilmiah, antara lain:

  • Pendengar (audience)
  • Materi presentasi
  • Teknik penyampaiaan

Berikut ini dijelaskan secara singkat ketiga aspek dimaksud.

Pengetahuan tentang audience mencakup dua aspek yaitu karakteristik dan jumlah audinece. Presentasi di hadapan orang yang mengerti teknis, misalnya pada ujian skripsi, akan berbeda dengan presentasi di hadapan audience yang memiliki latar belakang beragam. Pada ujian skripsi, yang menjadi pendengar adalah orang yang memiliki pengetahuan teknis cukup tinggi, presentasi dapat disampaikan dalam bahasa yang sangat teknis. Sebaliknya pada seminar umum, biasanya audience memiliki latar belakang yang lebih beragam, sehingga presentasi harus disampaikan dalam bahasa yang dapat dipahami oleh seluruh audience. Sedangkan jumlah audience akan erat kaitannya dengan efektifitas presenter untuk menjangkau audience-nya, baik secara visual maupun oral. Pengetahuan tentang audience akan sangat membantu presenter dalam merancang materi. media dan teknik yang sesuai agar materi presentasi dapat disampaikan secara efektif.

Materi presentasi yang disajikan sangat berkaitan dengan media yang tersedia. Media visual seperti overhead projector atau LCD dapat dimanfaatkan oleh presenter untuk membantu presentasinya. Materi yang disampaikan secara visual harus dibuat untuk mendukung makalah yang sudah disusun. Materi ini hendaknya dibuat tidak hanya sekedar menjiplak makalah tetapi sebagai pelengkap untuk lebih menjelaskan makalah. Oleh karena itu materi tersebut hendaknya berupa ringkasan atau point-point penting saja. Banyaknya materi disesuaikan lamanya presentasi yang ditentukan. Dengan demikian presenter harus terlebih dahulu mencoba menyesuaikan panjang presentasi dengan waktu yang disediakan.

Untuk membantu presenter dalam menyusun materi presentasi visual, berikut ini disampaikan beberapa tip sederhana yang perlu menjadi perhatian:

  • Pelajari terlebih dahulu media visual yang akan digunakan sehingga presenter tidak menghabiskan waktu untuk mengotak-atik alat yang akan digunakan pada saat presentasi;
  • Dalam satu slide usahakan menggunakan kata sedikit mungkin agar halaman slide tidak penuh dengan tulisan.
  • Ukuran huruf pada setiap slide harus disesuaikan agar dapat dibaca oleh audience yang berada pada jarak terjauh dari layar;
  • Pilih warna yang kontras sehingga lebih mudah dibaca oleh audience;
  • Gunakan grafik, tabel dan diagram untuk memberikan variasi presentasi;

Teknik penyampaian akan sangat mempengaruhi suasana psikologis dan tingkat perhatian audience terhadap materi yang disampaikan. Teknik yang dimaksud disini adalah gaya dan cara presenter berprilaku di depan audience. Berikut ini disajikan beberapa teknik penyampaian yang dapat digunakan untuk membantu presentasi:

  • Pelihara kontak mata (eye contact) dengan audience. Hindari kontak mata hanya pada satu atau dua orang saja. Sesekali sapukan pandangan keseluruh audience.
  • Perhatikan respon audience. Jika audience memperlihatkan tanda-tanda bosan atau tidak peduli maka presenter harus mempersingkat presentasinya;
  • Jangan terlalu sering membelakangi audience;
  • Hindari menjelaskan teks yang ditayangkan melalui slide dengan cara membacanya satu persatu;
  • Sewaktu slide ditayangkan harus disertai dengan menunjukkan bagian yang dijelaskan baik dengan laser pointer atau alat lainnya;
  • Pastikan kecepatan dan valume suara sehingga seluruh audience dapat mengikuti presentasi secara baik;
  • Humor berupa cerita singkat atau gambar lucu dapat ditampilkan secara bijak untuk menyegarkan suasana;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. PENUTUP

 

Materi yang disajikan dalam tulisan ini bersifat normatif, berdasarkan pengalaman pribadi penulis dan sejumlah pustaka acuan. Sedangkan kemampuan menulis dan mempresentasikan karya ilmiah juga sangat ditentukan oleh cita rasa penulis / presenternya karena karya tulis pada hakekatnya juga merupakan karya seni. Hal-hal yang berkaitan cita rasa dimaksud tidak dijelaskan secara mendalam pada tulisan ini. Untuk mendapatkan hasil tulisan dan presentasi yang efektif seorang penulis dan presenter juga harus memiliki kemampuan mengekspresikan cita rasa seni agar lebih menarik pembaca atau audience. Cara yang paling ampuh untuk mengasah kemampuan ini adalah berlatih, berlatih dan berlatih. Semoga tulisan ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Brown, R. 1995. How to Make Your Text More Readable. Queensland Department of Primary Industries. Brisbane.

Indriati. E. 2005. Menulis Karya Ilmiah. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Rahardjo, B. 2005. Panduan Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah: Thesis, Tugas Akhir dan Makalah. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Malmfors, B., P. Garnsworthy dan M. Grossman. 2000. Writing and Presenting Scientific Papers. 1st Ed. University Press. Nottingham.